Banner
[48] Wanita Inggris Ramai-ramai Masuk Islam PDF Print E-mail
Tuesday, 01 March 2011 15:40

Meningkatnya wanita berpendidikan di Inggris yang memeluk Islam menghancurkan mitos penindasan Islam atas kaum wanita.

Masuk Islamnya adik ipar mantan Perdana Menteri (PM) Inggris Tony Blair, Lauren Booth, membuat Islam semakin dibicarakan di Inggris. Kevin Brice, ahli dari Swansea University, mengatakan setiap perempuan kulit putih yang masuk Islam punya cerita yang berbeda, tapi memiliki satu tema yang sama yaitu persepsi bahwa Islam menawarkan perlindungan terhadap perempuan dan memberikan rasa identitas.

Kevin Brice, pakar yang meneliti orang kulit putih yang masuk Islam di Inggris, menemu-kan wanita kulit putih terdidik lebih cenderung masuk Islam daripada kelompok-kelompok lain. Brice mengatakan ada sekitar 60 banding 40 yang mendukung perempuan masuk Islam, dan mereka cenderung menampilkan “profil pendidikan yang lebih baik” daripada populasi rata-rata.

Terdapat pula peningkatan jumlah perempuan muda yang berpen-didikan universitas yang masuk Islam di usia dua puluhan dan tiga puluhan. "Mereka mencari spiritualitas, arti kehidupan yang lebih tinggi, dan cenderung menjadi pemikir yang mendalam," ujar Brice.

Pada sensus tahun 2001, 30 ribu orang Inggris masuk Islam. Menurut Brice, angka ini sekarang mendekati 50 ribu, di mana ma-yoritasnya adalah kaum wanita. Jumlah wanita yang masuk Islam melebihi jumlah laki-laki yang masuk Islam pada kebanyakan negara-negara Barat. Di Amerika, wanita merupakan 75 persen dari jumlah semua orang yang pindah agama tersebut (menurut Dewan Hubungan Amerika-Islam atau Council on American-Islamic Relations).

Brice menambahkan tema umum dalam pindah agama para wanita di Inggris adalah bahwa Islam menawarkan perlindungan kepada perempuan dan rasa iden-titas. Uniknya, wanita yang pindah agama itu lebih mungkin untuk memakai pakaian Muslimah dari-pada mereka yang terlahir Mus-lim. "Melalui pemakaian pakaian yang sederhana, dengan semua cara untuk berjilbab, hal ini tidak lagi tentang bagaimana Anda terlihat... Sudah mulai terbebas dari ide bahwa Anda ditentukan oleh ukuran baju Anda," tambah Brice

Meruntuhkan Mitos

Dr Nazreen Nawaz, Perwakil-an Muslimah Hizbut Tahrir Inggris menyatakan, "Selama berabad-abad subyek wanita dan Islam telah diliputi penyesatan infor-masi, kesalahpahaman, dan salah pengertian. Di banyak negara Barat, ide Islam menindas perem-puan seakan-akan telah menjadi fakta yang tak terbantahkan.  Namun tren yang terus tumbuh masuk Islamnya para wanita berpendidikan di Barat telah meruntuhkan mitos tentang per-lakuan semena-mena Islam atas kaum wanita. Hal ini meruntuhkan cerita-cerita yang populer di Barat yang menempatkan Islam sebagai antitesis hak-hak wanita wanita modern, dan terpelajar. 

Nazreen menambahkan ba-gi orang-orang yang bisa keluar dari mitos akibat tuduhan-tuduh-an negatif terhadap Islam (yang gencar dilakukan para politisi, wartawan, akademisi) dan orang-orang yang mempelajari agama dengan independen, tulus, de-ngan pikiran tidak memihak, akan menemukan suatu keyakinan yang menanamkan perasaan ten-tang tujuan hidup manusia, yang jauh dari kehidupan hedonistik dan materialistik. 

Mereka akan menemukan Islam sebagai ideologi yang mengangkat status wanita dalam masyarakat dan mereka selalu diperlakukan dengan hormat oleh kaum laki-laki; suatu sistem yang berdiri sebagai antitesis dari kapitalisme dan eksploitasi seksu-al dan penilaian rendah atas wanita untuk meningkatkan mar-gin keuntungan. Suatu cara hidup yang mendefinisikan martabat wanita sebagai sesuatu yang suci, yang melarang menjadikan wanita sebagai obyek dan komoditas nafsu kaum laki-laki, dan yang memelopori persa-maan hak kewarganegaraan bagi kaum wanita sejak 1400 tahun yang lalu
Berbeda dengan istilah 'pe-nindasan (subjugation)' yang  se-ring dikaitkan dengan pakaian jilbab, wanita Muslimah yang me-makai pakaian itu justru melihat jilbab sebagai pembebasan. Membebaskan mereka dari nilai harga diri yang ditentukan berda-sarkan ukuran pinggang mereka, bentuk tubuh mereka, dan menu-rut pandangan (seksual) orang lain.

Pakaian Muslimah membe-baskan mereka dari batasan ma-syarakat liberal sekuler, belenggu standar keindahan kaum wanita dan fashion, di mana menjadi gemuk atau terlihat tua dipan-dang sebagai kejahatan. Mitos kecantikan yang membuat wanita menjadi tidak realistis dan melum-puhkan harga diri untuk mengejar 'standar kecantikan semu': wanita sempurna tanpa cacat secara fisik.

Pakaian Muslimah (jilbab dan kerudung), menurut Nazreen, justru memberdayakan wanita dengan lebih memfokuskan pada hal-hal penting di luar penam-pilan fisik. Memusatkan pening-katan intelektualistas dan ke-trampilan wanita. Bukan disibukkan oleh tubuh mereka. “Mitos kecantikan liberal Barat justru  mencerminkan keyakinan bahwa penampilan seorang wanita-bu-kan kemampuannya- sebagai pas-por menuju sukses," tegas Naz-reen.
Tren peningkatan yang 'tak terbantahkan' kaum wanita terdi-dik yang masuk Islam di Barat tentu saja paling tidak memberi-kan manfaat untuk mengkritisi stereotip negatif. Kebohongan atas masalah ini selama berabad-abad perlu segera diatasi, karena sebagaimana yang sering terjadi masalahnya adalah kebenaran telah tersembunyi jauh tertanam di bawah propaganda negatif.

Namun yang terpenting adalah mewujudkan sistem nilai alternatif bagi liberalisme sekuler untuk untuk mengatasi perlakuan tidak hormat dan pelanggaran secara global yang dihadapi kaum perempuan. “Sistem alternatif itu adalah  adalah Khilafah Islam yang akan menerapkan syariat Islam, bukan yang lain !” ujar Nazreen.[] farid wadjdi, dari berbagai sumber

 

Surat Terbuka Lauren Booth

Mengapa Saya Memilih Islam?


Mungkin apresiasi saya atas budaya Islam, terutama pada perempuan Muslim, yang menarik saya untuk mengapresiasi Islam. Perempuan Islam yang saya lihat di Inggris adalah yang menutup seluruh tubuhnya dari kepala hingga ujung kaki, kadang berjalan di belakang suami mereka, dengan anak-anak berbaju panjang di sekitar mereka.

Ini sungguh kontras dengan kondisi wanita profesional Eropa yang umumnya sangat memperhatikan penampilannya. Saya, misalnya, sangat bangga dengan rambut pirang saya, dan ya, belahan dada saya. Ini seolah menjadi "jualan" utama kami.

Saat bekerja di dunia broadcast televisi, betapa hal itu makin jelas terasa: presenter wanita menghabiskan waktu hingga satu jam untuk merias wajah dan penampilan mereka, hanya untuk membahas satu topik "serius" yang memakan waktu tak lebih dari 15 menit. Apakah ini sebagian bentuk liberation? Saya mulai bertanya-tanya seberapa banyak penghormatan bagi gadis-gadis dan perempuan dalam masyarakat "bebas" kita.

Pada tahun 2007 saya pergi ke Libanon. Saya menghabiskan waktu empat hari bersama para mahasiswi di sana, sebagian dari mereka mengenakan cadar. Mereka tetap tampak menawan, mandiri, dan bebas berpendapat. Mereka semua bukan gadis yang pemalu, atau mereka akan segera dipaksa untuk menikah, seperti yang sering kita dengar di Barat.

Kini saya menjalin hubungan dengan beberapa masjid di North London, dan saya pergi ke sana setidaknya sekali seminggu. Saya tidak mengotakkan diri saya apakah saya seorang Syiah atau Sunni. Bagi saya, hanya ada satu Islam dan satu Allah.[] fw
 

Untuk menambah keberkahan, disarankan untuk menyebarkan artikel pada situs ini dengan menyebutkan URL sumbernya.

Developed by SmileBizMedia. All rights reserved