Banner
[49] Wikileaks, Membongkar Pengkhianatan Penguasa Sekuler PDF Print E-mail
Thursday, 03 March 2011 16:49

Pejabat AS tidak mempertanyakan keaslian dokumen tersebut. Mereka pun tak menyatakan memo-memo itu sebagai kebohongan.

Berbagai dokumen rahasia yang dipublikasikan Wikileaks mengungkapkan dua hal penting, pengkhianatan penguasa negeri-negeri Islam dan kekejian politik luar negeri Amerika Serikat. Tanpa dokumen Wikileaks pun sebenarnya pengkhianatan penguasa negeri Islam sudah tampak jelas. Namun publikasi Wikileaks semakin membuktikan itu.

Berkaitan dengan Pakistan, Naveed But, juru bicara Hizbut Tahrir Pakistan menyatakan dokumen yang berisi memo diplomat Amerika itu merupakan tamparan di wajah penguasa Pakistan. Selama ini penguasa Pakistan selalu menolak dan menyebut 'hanya' teori konspirasi ketika mencul ke permukaan berita tentang kehadiran pasukan Amerika di Pakistan, dukungan pemerintah atas pesawat-pesawat tidak berawak dan campur tangan Amerika atas program nuklir Pakistan.

Menurutnya, dokumen-dokumen itu telah memperjelas berapa banyak pengaruh Amerika dalam mengatur urusan dalam negeri Pakistan. ”Meskipun kami tidak menganggap benar bahwa kebocoran itu tidak dibuat di bawah pengawasan pemerintah AS, bukti dokumenter dari Wikileaks telah menyatukan pendapat rakyat Pakistan mengenai aliansi kotor antara para penguasa berbahaya mereka dan Amerika,” tegas Naveed dalam pernyataan persnya (5/12).

Wikileaks telah mengguncang seluruh dunia karena menerbitkan memo para diplomat Amerika. Baik Holbrooke maupun Hillary Clinton tidak memper-tanyakan keasliannya. Mereka juga tidak menyatakan memo-memo itu sebagai tidak berdasar atau merupakan kebohongan.

Menurut bocoran itu, para penguasa Pakistan telah meminta nasihat dari para Duta Besar Ame-rika, bahkan dalam hal-hal paling kecil sekalipun. Presiden Zardari mengatakan akan melakukan apapun yang disarankan menurut nasihat Amerika. Demikian pula, Nawaz Sharif meyakinkan Ame-rika bahwa dia adalah “pro-Amerika”.

Dokumen itu juga meng-ungkap Komandan Korps ke-11 mengundang pasukan komando Amerika untuk memantau operasi di Waziristan yang banyak menim-bulkan korban umat Islam. Selain itu, Kepala Angkatan Darat Pakis-tan meminta Amerika tidak memperlakukan militer Pakistan dengan cara yang memberikan kesan militer Pakistan “untuk di-sewa”. Menurut Naveed But, doku-men-dokumen ini telah membuk-tikan bahwa Amerika adalah ne-gara kolonial tiran, yang menggu-nakan kekuatan, ketakutan dan taktik ilegal untuk menundukkan dunia.

Dalam dokumen rahasia itu terungkap percakapan Presiden Yaman kepada Panglima Militer AS saat itu, Jenderal David Pet-raeus, mengenai serangan atas basis-basis al-Qaida di negaranya. "Kami akan terus bilang bahwa bom-bom itu milik kami, bukan punya kalian," kata Presiden Yaman.

Kawat diplomatik yang bocor menunjukkan telah terjadi serangan terhadap 41 penduduk lokal di Yaman. Dalam serangan itu 14 perempuan, 21 anak-anak dan 14 Muslim lainnya tewas. Namun Jenderal Petraeus menyatakan dalam dokumen lain serangan itu menyebabkan kema-tian "hanya" tiga "warga sipil".

Salah satu bocoran yang menarik adalah sikap pemimpin sejumlah negara Arab yang sa-ngat ketakutan akan kehilangan kekuasaannya, termasuk apa yang mereka sebut sebagai ancaman dari Iran. Ketakutan ini membuat mereka sangat bergantung kepa-da Amerika dan berharap Amerika menyerang nuklir Iran. Ini tentu saja akan berakibat perang di kawasan itu yang lagi-lagi akan mengorbankan banyak jiwa kaum Muslimin.

Raja Abdullah dari Arab Saudi menginginkan AS agar menyerang Iran untuk mengatasi isu senjata nuklir. Sikap itu berasal dari sejumlah negara Arab yang bersekutu dengan AS. Menurut harian Guardian, Raja Ab-ullah berulangkali mendesak AS agar menyerang Iran untuk meng-hancurkan fasilitas nuklir karena dikhawatirkan bisa digunakan menjadi bom atom. Dia "berulang kali meminta AS untuk menye-rang Iran agar mengakhiri prog-ram senjata nuklirnya," demikian ungkap salah satu kawat diplo-matik.

"Dia bilang kepada Anda [Amerika] untuk memotong kepa-la ular," kata Duta Besar Arab Saudi untuk AS, Adel a-Jubeir. Menurut bocoran dokumen, al-Jubeir me-nulis kalimat itu dalam suatu laporan pertemuan antara Abdul-lah dengan panglima militer AS di Timur Tengah, Jenderal David Petreaus, pada April 2008. 

Permintaan yang sama, me-nurut laporan sejumlah Kedubes AS di Timur Tengah, juga diutara-kan sejumlah negara Arab. Putra mahkota Abu Dhabi Sheikh Mo-hammed bin Zayed al-Nahyan juga menyatakan AS harus me-ngirimkan pasukan darat jika serangan udara tidak cukup untuk "mengambil" target nuklir Iran.

Keintiman penguasa peng-khianat negeri-negeri Islam de-ngan Amerika Serikat juga ter-gambar dalam beberapa kawat rahasia. Dalam sebuah diskusi dengan Amerika Serikat, Raja Ab-dullah mengatakan, "Kami (AS dan Arab Saudi) telah menumpah-kan darah bersama" di Kuwait dan Irak. Raja melanjutkan, Arab Saudi sangat dihargai. Abdullah menga-takan AS dan Arab Saudi telah melakukannya selama 70 tahun lebih dari tiga generasi. "Ketidak-setujuan di antara kami sangat berkurang," katanya.

Sementara Zardari penguasa pengkhianat Pakistan menunjukkan penghargaan terhadap Amerika selama pemilu di Pakistan. "Kami di sini karena Anda," ujarnya.[] farid wadjdi dari berbagai sumber

 

Kebrutalan Amerika


Kebrutalan kebijakan politik AS telah banyak diungkap. Negara yang mengklaim sebagai jawara HAM ini telah melakukan perbagai tipu daya, pembunuhan, pembantaian dan berbagai intervensi terhadap negara-negara lain. Dokumen Wikileaks pun semakin mempermalukan negara biadab itu. Pada websitenya yang dirilis beberapa waktu yang lalu, Wikileaks memuat pesan 391.832 dengan mendokumentasikan tindakan militer Amerika dan laporan di Irak selama periode 2004-2009. Berikut adalah poinp-poin utamanya:

Para narapidana disiksa, diperkosa, dan dibunuh

Ratusan tindakan kekerasan dan penyiksaan terhadap para tahanan keamanan Irak, termasuk pemerkosaan dan pembunuhan. Karena hal ini dijelaskan oleh laporan-laporan Amerika, pihak berwenang Amerika sekarang menghadapi tuduhan atas kegagalan menyelidiki itu.

Jumlah korban sipil yang tewas ditutup-tutupi

Para Pemimpin Koalisi selalu mengatakan “kami tidak melakukan pembunuhan”, tetapi banyak dokumen mengungkapkan kematian. Kelompok yang dihormati Iraq, Body Count, mengatakan diperkirakan terjadi 15.000 kematian warga sipil tambahan, meningkatkan jumlah mereka hingga berjumlah 122.000.

Penembakan atas orang-orang yang mencoba untuk menyerah

Pada bulan Februari 2007, sebuah helikopter Apache menewaskan dua warga Irak, yang diduga adalah tembakan mortir ketika mereka mencoba untuk menyerah.

Penyiksaan oleh perusahaan keamanan swasta

Biro Jurnalisme Investigatif Inggris mengatakan mereka menemukan dokumen-dokumen yang merinci kasus-kasus baru atas dugaan pembunuhan atas salah satu warga sipil yang melibatkan Blackwater, sejak berganti nama menjadi Xe Services. Meskipun demikian, Xe mempertahankan kontrak Amerika yang luas di Afghanistan.

Ratusan warga sipil yang tewas di pos pemeriksaan

Dari 832 kematian yang tercatat di pos-pos pemeriksaan di Irak antara tahun 2004 dan 2009, para analisis dari Biro Investigasi Jurnalisme menunjukkan 681 orang adalah warga sipil. Lima puluh keluarga ditembak dan 30 anak-anak dibunuh. Hanya 120 pemberontak tewas dalam insiden pos-pos pemeriksaan.[] sumber: www.hizb.org.uk
 

Untuk menambah keberkahan, disarankan untuk menyebarkan artikel pada situs ini dengan menyebutkan URL sumbernya.

Developed by SmileBizMedia. All rights reserved