|
Jemaat gereja marah dan merusak masjid dan mengeluarkan buku-buku yang ada di dalamnya.
Insiden bom mewarnai pergantian tahun di Mesir, hanya setengah jam sebelum tahun baru 2011. Menurut informasi pemerintah setempat, ledakan itu menewaskan 22 orang dan melukai lebih dari 50 orang.
Saat kejadian, jemaat gereja Al-Qiddissine baru saja mengikuti ibadah menyambut tahun baru, kata Bapa Mena Adel, salah seorang pendeta, yang hadir dalam misa tersebut. Bom yang meledak tepat di depan gereja itu membuat jenazah para korban yang berceceran di jalan raya.
Polisi semula menyatakan, bom berasal dari bom mobil yang diparkir di depan Gereja Saints. Namun Kementerian Dalam Negeri menandaskan, bom ter-sebut merupakan bom bunuh diri. Selain memporakporandakan gedung gereja, ledakan itu juga menghancurkan sebuah bangunan yang berada di dekatnya. Belum diketahui siapa yang berada di balik ledakan bom tersebut.
Kristen Koptik Ortodok, mengisi ber-jumlah sekitar delapan persen dari populasi Mesir yang mayoritas Muslim. Mereka seringkali mengeluhkan banyak-nya diskriminasi.
Stasiun televisi Al Jazeera melapor-kan, insiden ini menimbulkan kemarahan umat Kristen Koptik. Mereka menggelar demonstrasi untuk mengecam penge-boman tersebut. Tidak cukup itu jemaat Kristen Koptik terlibat bentrokan dengan aparat keamanan setempat sehari berikut-nya.
Ratusan pemuda yang marah ber-kumpul di jalan dan melampiaskan kema-rahannya kepada polisi anti huru-hara yang berjaga. Bentrokan besar antara kedua kubu tidak terelakkan saat para pemuda melemparkan batu dan botol ke arah polisi.
Serangan langsung dibalas oleh petugas dengan menembakkan peluru karet dan gas air mata. Laman Associated Press, Ahad (2/1) melaporkan seorang Muslim yang melintas menjadi sasaran amuk para pemuda yang berang.
Menurut laporan fotografer Associa-ted Press, beberapa pemuda bahkan mendobrak masuk ke dalam sebuah masjid, melempar buku di dalamnya ke jalan. Mereka juga menghujani para pejalan kaki Muslim dengan batu dan botol. "Dengan darah dan jiwa, kami membela salib," teriak para perusuh. Bentrokan juga terjadi di dekat rumah sakit Saint. Beberapa pemuda berteriak sambil menghunuskan pisau dapur. Terlihat, seorang pemuda bertato dilarikan ke ruang UGD dengan luka di sekujur tubuhnya akibat tertembak peluru karet.
Presiden Mesir Hosni Mubarak, mengajak umat Muslim dan Kristiani untuk mencegah teror menyusul ledakan bom itu. Kepolisian setempat mengata-kan, situasi telah terkendali setelah aparat keamanan dikerahkan ke tempat kejadian sesaat setelah ledakan. Sejauh ini belum ada pihak yang mengaku bertanggung jawab atas ledakan tersebut.
Imbas Kekejaman Gereja? Sebelum ada kejadian ini, seorang mualaf Camelia Shehata dipaksa kembali ke pangkuan Kristen. Camelia adalah istri dari seorang pendeta Kristen Koptik. Gereja menolak mengakui keislaman Camelia. Gereja berusaha menangkapnya dengan bantuan aparat keamanan Mesir.
Camelia kemudian ditangkap dan dipenjara. Di sana ibu seorang anak ini disiksa agar mau kembali kepada Kristen. Informasi lainnya, seperti yang disampai-kan oleh pendeta Shenoda III Camelia berada di dalam sebuah gereja dan tidak diijinkan untuk diekspos media.
Kisah Camelia Shehata inilah yang dijadikan alasan oleh Mujahidin Irak ketika mereka menyandera orang-orang Kristen di sebuah gereja di Baghdad. Mereka menuntut pembebasan Camelia Shehata secepatnya atau Kristen Irak akan terus menjadi target serangan.
Hingga kini belum diketahui siapa yang bertanggung jawab atas ledakan tersebut. Mungkinkah ini pembelaan Mujahidin Irak?[] mj
|