Banner
[51] Krisis Tunisia: Gelombang Revolusi Mangancam? PDF Print E-mail
Saturday, 02 April 2011 22:46

Dengan kepergian Ben Ali, apa yang terjadi kemudian dengan Tunisia?

Mantan Presiden Tunisia, Zine al-Abidine Ben Ali, telah tiba di Saudi Arabia setelah dipaksa mundur karena gelombang unjuk rasa anti pe-merintah. Kantor berita Reuters melaporkan bahwa Ben Ali dan keluarganya sudah tiba di kota pelabuhan Jeddah.

Kantor berita resmi Saudi Arabia (SPA) melaporkan bahwa pemerintah Kerajaan Saudi Arabia menyambut kedatangan Ben Ali dan keluarganya dan menya-takan dukungan mereka terha-dap rakyat Tunisia. Gelombang unjuk rasa anti pemerintah dan kekerasan polisi menyapu Tuni-sia pekan lalu ini dan mengaki-batkan Ben Ali mengundurkan diri dari jabatannya.
Demonstrasi yang dimulai pada pertengahan Desember 2010 ini mempermasalahkan ko-rupsi, inflasi dan pengangguran. Kekerasan terjadi setelah bunuh diri yang dilakukan oleh seorang lulusan universitas yang mem-bakar dirinya karena polisi menyita sayur-mayur yang me-nurut pihak berwajib dijualnya tanpa izin. Ratusan orang diduga tewas oleh pasukan keamanan.

Sebelum meninggalkan Tunis, Ben Ali membubarkan pe-merintahannya dan menyatakan keadaan darurat. Pertemuan umum dilarang dan pasukan keamanan diizinkan menembak perusuh. Militer telah menutup bandar udara dan menutup wilayah angkasa Tunisia tidak lama sebelumnya.
Pemerintahan Ben Ali, yang awalnya bereaksi dengan me-nentang demonstrasi semacam itu, terkejut  melihat  tingginya penentangan publik terhadap-nya. Ben Ali, selama ini merupa-kan seorang diktator tulen, tidak mengizinkan adanya oposisi di dalam negeri.

Dunia internasional pun terkaget-kaget dengan perkem-bangan di Tunisia, termasuk Amerika Serikat dan Prancis yang selama ini mendukung Ben Ali. Termasuk mendukung tindakan represifnya, pelarangan jilbab, dan serangan terhadap Islam.

Media-media Barat, yang biasanya melaporkan pembe-rontakan-pemberontakan popu-ler – seperti yang terjadi di Iran dan Burma – dengan gegap gempita, anehnya pada saat ini menjadi kurang bergairah. Mere-ka tampaknya tidak yakin apakah pemberontakan ini baik atau buruk. Mereka masih ragu apa yang terjadi jika sekutu Barat yang sekuler itu jatuh!

Jatuhnya Ben Ali menjadi bahan pembicaraan di dunia Arab yang sebagian besar peme-rintahnya represif. Sebagaimana yang ditulis oleh seorang komen-tator di surat kabar the Washing-ton Post, yakni ancaman terbesar Amerika di Timur Tengah bukan-lah peperangan, melainkan ada-lah revolusi. Kemarahan publik atas korupsi, pengangguran dan kediktatoran terjadi di Mesir, Aljazair, dan banyak negara di wilayah itu.

Salah seorang duta besar di Dewan Perdamaian dan Kea-manan Uni Afrika, yang tidak bersedia disebut namanya, me-ngatakan banyak anggota De-wan berharap semua negara Afrika dapat menjadikan peris-tiwa di Tunisia sebagai pelajaran karena apa yang terjadi di Tunisia mungkin akan dialami para dik-tator di negara-negara lain.

Dalam pernyataannya, De-wan itu mendesak para pemim-pin sementara Tunisia agar sege-ra menyelenggarakan pemilu untuk memilih pengganti Presi-den Ben Ali. Kekuasaan pemim-pin otoriter itu mendadak ber-akhir hari Jumat ketika ia melari-kan diri ke Arab Saudi karena menghadapi demonstrasi sebu-lan penuh terkait masalah peng-angguran dan naiknya harga-harga pangan.

Ben Ali berkuasa selama 23 tahun sejak tahun 1987. Sebelum Ben Ali, Presiden Habib Bourgiba, presiden yang juga tidak populer yang telah memerintah selama lebih dari 30 tahun dipaksa untuk meninggalkan jabatannya. Dia digantikan oleh salah satu ling-karan orang dalam - Zine al-Abi-dine Ben Ali. Demikian pula hari ini, Perdana Menteri Ghanno-uchi, berasal dari lingkaran orang dalam Ben Ali, yang mengganti-kan Ben Ali. Rakyat Tunisia tidak puas dengan penunjukan orang dekat Ben Ali.

Tumbangnya diktator Tuni-sia menunjukkan, rezim represif yang menindas rakyat tidak akan bertahan. Namun dunia Muslim membutuhkan perubahan dari demokrasi kediktatoran yang saat ini berjalan, kepada sistem Khilafah Islam. Alternatif yang nyata atas status quo di seluruh dunia Islam ada-lah sistem Khilafah Islam - yang akan memenuhi kebutuhan rak-yat, bertanggung jawab, tidak bergantung pada Barat. Khilafah Islam juga akan memulihkan stabilitas dan kemakmuran di wilayah tersebut.[] farid wadjdi dari berbagai sumber

Seruan Khilafah di Krisis Tunisia

Seruan khilafah menggema saat krisis Tunisia. Meskipun nyaris tidak  diekspos oleh media asing, sebuah video menunjukkan di antara para demonstran saat krisis Tunisia terdapat sekelompok umat Islam yang menyerukan Khilafah (www.hizb.org.uk). Sebelum pawai dimulai, pembicara utama mengingatkan  bahwa Rasulullah SAW  memerintahkan Muslim untuk tidak merusak pohon bahkan dalam kondisi perang, Islam juga melarang merusak barang-barang milik orang lain. Terdapat seruan yang tegas menyerukan perjuangan non kekerasan yang berdasarkan Islam.

Beberapa slogan disuarakan dengan tegas  oleh para demonstran:  "Tidak ada jalan lain, tidak ada jalan lain! Khilafah adalah satu-satunya solusi ", “Dengan jiwa kita, dengan darah kita, kita siap berkorban untuk Islam ". Hal ini menunjukkan para demonstran siap menghadapi petugas keamanan dengan keyakinan mereka.

Saat berdiri di depan tentara  Tunisia mereka pun berpidato: “Wahai tentara Muslim, di mana Anda di Palestina? Di mana Anda di Irak? Lepaskanlah rantai penguasa yang membelengu leher Anda! Hai pasukan Muslim, kami siap bersama Anda, dengan darah, jiwa, dan anak-anak  kami! Hapuskan rezim yang menindas dan dukunglah pemimpin yang satu untuk semua kaum Muslimin!

Khilafah bukanlah hal asing bagi masyarakat Tunisia yang mayoritas Islam. Kejayaan wilayah Tunisia justru terjadi di masa Khilafah. Tentara Muslim di bawah komando Uqba bin Nafi untuk pertama kalinya melakukan ekspedisi futuhat ke wilayah Maghrib (Maroko) pada 670 M. Lima tahun kemudian, pasukan tentara Islam membangun basis pertahanan dan sebuah masjid pertama di kota Kairouan. Pasukan tentara Muslim yang dipimpin Hasan bin Al-Nu'man mampu menguasai kota Tunis dan seluruh wilayah Maghrib pada 705 M.

Puncak kejayaan kota Tunis berlangsung di era kekuasaan Dinasti Hafsiah. Pada masa itu, di Tunis berdiri sebuah perguruan tinggi pertama di Afrika Utara. Di awal abad ke-13 M, Tunis sebuah kota yang berada di wilayah Maghrib mencapai puncak kejayaannya. Ibu kota kekhalifahan Muslim di bagian Utara 'benua hitam' itu, sempat menjelma sebagai metropolis kaya raya. Kemajuan yang dicapai Tunis dalam bidang ekonomi, kebudayaan, intelektual, serta sosial tak ada yang mampu menandinginya pada era itu.

Tunis merupakan salah satu kota terpenting dalam sejarah peradaban Islam di Afrika. Betapa tidak, dari kota inilah ajaran Islam bisa menyebar hingga ke Sicilia sebuah provinsi otonom di Italia. Pamornya semakin berkilau seiring berdirinya madrasah Al-Zaituna di kota itu, perguruan tinggi pertama di Afrika Utara. Tunis telah melahirkan seorang ilmuwan Muslim terkemuka sepanjang masa, Ibnu Khaldun.

Pada era kejayaan Almohad, ilmu pengetahuan berkembang pesat di wilayah Maghrib. Salah seorang sarjana terkemuka pada era itu, Abu Yusuf Yakub, membangun sejumlah perpustakaan di Tunis dan wilayah Maghrib lainnya. Dinasti ini juga mendukung aktivitas para sarjana Muslim, seperti Ibnu Tufail dan Ibnu Rushd untuk mengembangkan ilmu pengetahuan. Salah satu arsitektur peninggalan dinasti ini adalah bangunan Giralda of Seville.
Tunis pun menjadi kota yang berpengaruh. Kota itu berkembang menjadi kota perdagangan dan ilmu pengetahuan. Para pedagang dari Venesia dan berbagai belahan dunia lainnya datang ke Tunis untuk berniaga. Kemakmuran yang dicapai kota Tunis masih dapat disaksikan pada abad akhir awal abad ke-16 M. Seorang pelaut dari Turki, Pipi Reis, dalam catatan perjalanannya melukiskan kemegahan dan keindahan kota itu. Menurut Reis, di kota itu berdiri sekitar 5.000 rumah yang gaya arsitekturnya meniru istana kerajaan. Sepanjang kota itu dihiasi dengan kebun dan taman nan indah.[] fw dari berbagai sumber
 

Untuk menambah keberkahan, disarankan untuk menyebarkan artikel pada situs ini dengan menyebutkan URL sumbernya.

Developed by SmileBizMedia. All rights reserved