| [53] Revolusi Mesir, Miskin Visi |
|
|
|
| Thursday, 14 April 2011 16:41 |
|
Sejak tumbangnya rezim Zine El Abidin ben Ali di Tunisia, pergolakan politik yang hangat kemudian menjalar ke negeri-negeri Islam lainnya seperti Yordania, Yaman, dan Mesir. Setelah rezim Tunisia tumbang, sekarang giliran Husni Mubarak yang sudah 30 tahun berkuasa terguling. Ada pelajaran-pelajaran penting yang dapat ditarik dari enomena ini. Pelajaran ini sebagiannya merupakan fenomena positif, yakni sesuatu yang baik Pelajaran pertama, pergolakan politik ini menunjukkan adanya jurang yang dalam yang memisahkan penguasa dengan rakyatnya. Para penguasa ibaratnya ada di satu lembah, sedang rakyat ada di lembah lainnya. Mereka saling membenci dan saling mengutuk. Ini membenarkan sabda Nabi SAW, "Seburuk-buruk imam kalian adalah orang yang kalian benci dan kamu pun membenci mereka, mereka mengutuk kalian dan kalianpun mengutuk mereka..." (HR Muslim). Keterpisahan penguasa dan rakyat ini diakibatkan oleh dua faktor utama. Faktor pertama, penguasa yang ada bukanlah pemelihara urusan rakyatnya Karena penguasa pengkhianat inilah, umumnya negeri-negeri Timur Tengah ditandai dengan fenomena menyedihkan: ada segelintir elite penguasa yang kaya raya, namun di sisi lain mayoritas rakyatnya bergelimang dalam kemiskinan dan pengangguran. Ketika Zine El Abidin ben Ali di Tunisia melarikan diri ke Arab Saudi, istrinya membawa 1500 kilogram emas batangan, harta rakyat yang telah dirampoknya. Faktor kedua, sistem kehidupan yang dipaksakan penguasa adalah sistem yang tidak Islami, ada yang berbentuk republik (sekuler) dan sebagiannya Di masa depan, agar penguasa dan rakyat menjadi satu kesatuan yang manunggal, wajiblah ia penguasa yang ikhlas, bukan pengkhianat, yang betul-betul menjadi pemelihara urusan rakyatnya yang terpercaya. Selain itu penguasa itu hendaknya hanya menerapkan ideologi Islam semata, bukan ideologi penjajah. Pelajaran kedua, pergolakan politik ini menunjukkan kawasan negeri-negeri Islam adalah satu kesatuan. Mereka mempunyai perasaan yang satu. Ketika umat Islam di Tunisia berani melawan kediktatoran penguasanya, maka keberanian ini pun menular ke Mesir. Jelas ini suatu fenomena positif yang merupakan harapan dan pertanda baik bagi perjuangan umat Islam. Ke depan, kesatuan perasaan ini harus disempurnakan lagi, tidak hanya benci terhadap penguasa yang zalim tapi juga sistem thaghut yang diberlakukan saat ini serta ditambah lagi dengan kesatuan pemikiran Islam. Jadi tak hanya perasaannya saja yang satu, namun juga ada kesatuan dalam hal konsep kehidupan yang ideal. Pelajaran ketiga, namun sayang, pergolakan politik ini juga menunjukkan sisi negatifnya, yaitu umat bergerak lebih karena faktor materi, seperti Seharusnya, motivasi yang menggerakkan umat Islam adalah akidah Islam. Mereka seharusnya bangkit bergerak karena akidah Islam dihinakan atau Jadi, seharusnya umat Islam bangkit untuk bergerak semata-mata karena Allah, bukan karena faktor-faktor lainnya. Seharusnya umat Islam bergerak menumbangkan rezim dan mengganti sistem pemerintahan yang ada karena Allah semata. Kaum Muslim menegakkan Khilafah karena diperintahkan demikian oleh Allah, bukan karena fakir miskin. Pelajaran keempat, pergolakan politik ini, khususnya di Mesir, menunjukkan fenomena negatif lainnya, bahwa umat tak punya kesatuan visi perubahan. Tak ada satu kesatuan misi politik masa depan karena masing-masing mempunyai visi sendiri-sendiri sesuai agenda masing-masing. Seperti diketahui revolusi rakyat (people power) di Mesir terdiri dari berbagai elemen, ada kaum aktivis Islam seperti Ikhwanul Muslimin, aktivis HAM, aktivis partai sekuler (seperti partai Wafd), kaum buruh, dan sebagainya. Mungkin mereka sepakat pada satu hal, yakni tumbangnya Husni Mubarak, namun jelas mereka tak mempunyai visi bersama mengenai sistem pemerintahan ideal yang diharapkan. Maka dari itu, fenomena ini merupakan pembelajaran bahwa ke depan suatu gerakan massa seharusnya dikendalikan oleh satu visi yang sama, yang Meski demikian perlu diingat bahwa revolusi rakyat (tsaurah sya'biyah) tetaplah bukan metode yang ditetapkan Islam dalam penegakan kembali Khilafah. Sebab metode satu-satunya untuk menegakkan Khilafah hanyalah thalabun nushrah, yakni mencari dukungan dari kaum yang kuat dan berpengaruh (semisal pemimpin militer) agar mereka mengambil alih kekuasaan dan selanjutnya menyerahkan kekuasaan itu kepada umat untuk menegakkan Khilafah. Revolusi rakyat bukan metode, melainkan hanya suatu momentum yang dapat dimanfaatkan untuk lebih mendekatkan kepada keberhasilan thalabun nushrah. Pelajaran kelima, pelajaran terakhir, kaum Muslim tak boleh terlalu gembira dan berharap dari fenomena pergolakan politik ini. Mungkin banyak yang Berharap tentu boleh saja. Namun umat harus sadar, kaum kafir penjajah khususnya AS tentu tak akan tinggal diam menyaksikan perubahan ini. Kaum kafir penjajah tentu juga terus berusaha mengendalikan dan mengontrol jalannya perubahan politik ini agar tetap sesuai dengan kepentingan mereka.[] shiddiq al jawie |




Perubahan butuh kesatuan perasaan dan pemikiran yang didasari oleh motivasi spiritual.





