Banner
[55] Diboikot Media Seruan Khilafah Kian Menggema PDF Print E-mail
Thursday, 07 July 2011 21:23

Upaya  membajak arah perubahan Timur Tengah sangat serius  dilakukan oleh  negara-negara Barat dan pendukung-pendukungnya. Negara-negara Barat mengklaim yang terjadi di Timur Tengah saat ini adalah angin perubahan  menuju  demokratisasi sejati, pengakuan terhadap nilai-nilai  pluralisme,  dan  liberal (kebebasan).

Presiden  Amerika,  Barack Obama  di  Miami  Jumat  (4/3) mengatakan pemberontakan di kawasan Timur Tengah itu sangat membantu  Amerika.  Bahkan Obama yakin bahwa revolusi ini akan membuka cakrawala yang luas bagi generasi baru. Obama menyebut  revolusi  ini  sebagai “angin kebebasan”. Ia mengatakan  bahwa  kekuatan-kekuatan yang telah menggulingkan Presiden Hosni Mubarak harus bekerja sama dengan Amerika Serikat dan Israel. (aljazeera.net, 5/3).

Senada  dengan  Obama, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Hillary Clinton mengakui di depan  Komite  Perubahan  Anggaran Senat AS, Rabu (2/3), bahwa  Pemerintah  AS  melakukan kontak dan menawarkan bantuan kepada kelompok-kelompok oposisi  di  negara-negara yang sedang dilanda  demonstrasi antipemerintah.(Kompas, 6/3)

George  Friedman,  pendiri lembaga kajian intelijen Stratfor Global Intelligence, menyatakan, AS punya tiga kepentingan utama di kawasan ini, yakni menjaga perimbangan kekuatan di wilayah rawan konflik,  memastikan pasokan minyak, dan mengalahkan kelompok-kelompok islamis ekstrem yang  berpusat  di  kawasan itu.

Kerry  Raymond  Bolton, seorang doktor teologi dari Academy of Social  and Political Research, Mesir, menulis di forum Foreign Policy Journal (publikasi
online khusus berisi analisis kritis terhadap  kebijakan  luar  negeri AS) bahwa bukan tidak mungkin gejolak di Timur Tengah saat ini turut didanai pendiri Open Society Institute, George Soros.

Salah  satu  tokoh  oposisi Mesir  yang  paling  vokal  saat terjadi aksi demonstrasi di Alun-alun Tahrir,  Kairo,  Mohamed  El Baradei, disebut memiliki kaitan dengan Soros karena ia pernah menjadi anggota dewan pengurus lembaga advokasi International Crisis Group (ICG). Soros sendiri  menjadi  satu  dari  delapan anggota  komite  eksekutif  ICG (Kompas, 3/3).

Bukan Demokratisasi Pandangan pergolakan Timur Tengah merupakan gelombang demokratisasi seperti yang diklaim Barat ditolak oleh Taji Mustafa.  Aktifis  Hizbut  Tahrir Inggris  ini  dalam  acara  diskusi yang  dilakukan  oleh  Press TV menyatakan, ada upaya sengaja menutup-nutupi faktor Islam dalam pergolakan di Timur Tengah.

Dalam  diskusi  yang  bertema Islamic Awakenings in Egypt and Tunisia, Taji Mustafa menyatakan, sentimen Islam sangatlah kuat. Tampak dari menggemanya ucapan takbir, la ilaha illa Allah, gelar  syahid  bagi  demonstran yang  menjadi  martir,  hingga penggerakan yang dilakukan pada hari jumat yang dikenal dengan jumu'atul ghadhab (jumat kemaharan).  Di  Libya  para  demonstran menerikakkan Qaddafi 'aduwallah  (Qaddafi  musuh Allah).

Kalaupun  ada  ucapan  kebebasan bukanlah yang dimaksud dalam pengertian demokrasi sekuler dan liberal yang diklaim Barat. Apalagi diartikan masyarakat Timur Tengah tidak menginginkan syariah Islam. Tapi suara itu merupakan keinginan alami rakyat Timur Tengah membebaskan diri dari pemimpin Arab yang diktator. Tuntutan agar kebolehan berpendapat dan mengkritik lebih dibuka, serta pemilu yang terbuka dan berdasarkan pilihan rakyat tidaklah identitik atau hanya dimiliki oleh Barat.

Hizbut Tahrir sendiri telah melakukan aksi-aksi yang masif. Menyebarkan jutaan nasyrah (selebaran) menuntut penumbangan rezim diktator dan menggantinya dengan sistem yang hakiki, yakni Khilafah Islam. Aksi yang dilakukan  di  berbagai  kawasan dunia mulai dari Tunisia, Mesir, Lebanon, Palestina, Inggris, Australia, hingga Indonesia. Hizbut Tahrir  juga  melakukan  kontak dan  menyerukan  kepada  ahlul Quwwah  (kelompok  militer)  di
Timur  Tengah  untuk  memberikan  loyalitas  mereka  kepada Islam  bukan  kepada  Amerika atau Israel.

Gema Seruan Khilafah
Meskipun berbagai media berupaya membungkam seruan-seruan Islam dalam perubahan di Timur Tengah, suara-suara umat menyerukan Khilafah  semakin menggema. Hal ini terang menggelisahkan negara penjajah. Pernyataan tentang ketakutan ini telah disampaikan oleh Clinton, Cameron, Ashkenazi, Netanyahu dan  Berlusconi.  Bahkan  media-media  besar  Barat  seperti  Fox News  dan  The  Independent, semuanya  telah  membicarakan tentang  ketakutan  para  politisi Barat terhadap revolusi ini, pendirian  Khilafah,  serta  implikasinya bagi Barat dan dunia. Sampai-sampai  Sekretaris  Jenderal Liga Arab, Amir Moussa mengeluarkan pernyataan untuk menenangkan  kecemasan  Barat  dan meredakan badai ketakutan.

Suara-suara dukungan terhadap Hizbut Tahrir di tengah-tengah kaum Muslim meningkat pesat  terkait  seruannya  untuk menegakkan Khilafah. Di Tunisia, masîrah  (longmarch)  berlangsung di jalan-jalan menyeruakan : “lâ syarqiyyah wa lâ gharbiyyah … lâ dimuqrâthiyyah wa wathaniyyah…  bal  khilâfah  Islâmiyyah (bukan  Timur  dan  bukan  pula Barat…  bukan  demokrasi  dan bukan pula nasionalisme … melainkan Khilafah Islamiyah)”.

Di  Mesir,  suara-suara  lantang  yang  diabaikan  media, khutbah-khutbah  Jumat,  channel-channel TV keagamaan, dan kelompok massa yang menyerukan penerapan Islam di Lapangan Tahrir, di berbagai pusat diskusi  di  kota  Alexandria, dan wilayah-wilayah Mesir lainnya. Di Libya, berlangsung seruan-seruan untuk penerapan Islam, meskipun Qaddafi melancarkan kampanye untuk merusak citra Islam.

Di Yaman, beberapa ulama terkemuka  menyerukan  kabar gembira akan kembalinya Khilafah. Beberapa kota diwarnai dengan kibaran bendera al-Uqab,
yaitu al-Liwa' dan ar-Rayah. Tak heran  media-media  lokal  dan Arab  membuat  judul:  “Yaman berada  di  pinggiran  Khilafah Islam”, dan “ar-Rayah” telah berkibar di atas sekolah-sekolah di Aden”. Tegaknya Khilafah tinggallah  menunggu  waktu  dengan pertolongan Allah SWT dan kerja keras  para  pejuangnya.[]  farid wadjdi, dari berbagai sumber

Umat Islam Tuntut Syariah dan Khilafah


Sesungguhnya aspirasi untuk menegakkan syariah dan Khilafah sejak lama menjadi tuntutan umat Islam di dunia Islam termasuk di Timur Tengah. Klaim Barat dan pendukungnya bahwa rakyat Timur Tengah menginginkan demokrasi sekuler dan tidak menginginkan Islam, adalah kebohongan. Berbagai survei yang dilakukan di kawasan dunia Islam menunjukkan hal yang bertolak belakang.

Pusat Kajian Strategis Universitas Yordania survey komprehensif laporan tahun 2005 (“Revisiting the Arab Street” ): dua pertiga dari responden di negara-negara Arab merasa bahwa syariat harus menjadi sumber legislasi tunggal (persyaratan utama untuk Negara Islam), dan sepertiga sisanya merasa bahwa syariat harus menjadi sumber hukum.

Universitas Maryland hasil survei di empat negara Maroko, Pakistan, Mesir, Indonesia pada April 2007 ('Muslim Public Opinion on US Policy, Attacks on Civilians and al-Qaeda') menyebutkan kecenderungan serupa: “Mayoritas responden (70 persen)di sebagian besar negara-negara di atas mendukung penerapan syariat dengan ketat, menolak nilai-nilai Barat, dan bahkan menyatukan seluruh negeri Islam (Khilafah).”[] fw
 

Untuk menambah keberkahan, disarankan untuk menyebarkan artikel pada situs ini dengan menyebutkan URL sumbernya.

Developed by SmileBizMedia. All rights reserved