Banner
[56] Konferensi Muslimah Inggris: Islam, Pembebas Global bagi Perempuan PDF Print E-mail
Thursday, 04 August 2011 16:35

Lebih dari seribu perempuan, Muslim dan non Muslim dari seluruh Inggris dan Eropa menghadiri Konferensi di London, Ahad, (20/3). Konferensi ini diselenggarakan oleh Muslimah  Hizbut  Tahrir  Inggris.  Acara tersebut bertujuan untuk melawan tuduhan tanpa henti dari media massa dan politisi Barat tentang penindasan  Islam  terhadap  perempuan. Termasuk menentang  anggapan  pembebasan  perempuan hanya dapat dicapai melalui liberalisme sekuler Barat.

Para  pembicara  pada  paruh  pertama  menekankan sejarah dan agenda penyebaran opini oleh para  politisi  dan  pemerintah  Barat  bahwa  Islam menekan perempuan dan tidak bisa memperbaiki kehidupan perempuan Muslim.

Tuduhan tak berdasar tersebut didorong oleh motif  politik  dan  ekonomi  untuk  membenarkan pendudukan dan kolonialisasi dunia Muslim sehingga Barat bisa tetap mengendalikan sumber daya di negeri Islam.

Pembicara mendiskusikan bagaimana perempuan di dunia Muslim telah ditindas bukan oleh Islam tetapi oleh praktik-praktik tradisi  non  Islami.  Seperti  nikah  paksa, pembunuhan  perempuan  atas  nama kehormatan dan praktik rezim otokratis non Islam.

Pembicara kedua menyoroti kegagalan liberalisme sekuler Barat menjaga martabat, keselamatan, dan kesejahteraan perempuan. Seperti  terlihat  dengan  masih  tingginya perkosaan, pelecehan seksual, kekerasan dan diskriminasi yang masih ada dalam masyarakat meskipun lebih dari 200 tahun kelompok feminis memperjuangkan  hak-hak  perempuan.  Untuk  itu, Hizbut Tahrir  menawarkan  sistem  alternatif,  yakni Islam untuk menyelamatkan kehormatan dan hak-hak perempuan serta kerja sama yang harmonis antar gender.

Bagian kedua dari konferensi tersebut membongkar  banyak  mitos  dan  kebohongan  tentang status dan hak-hak perempuan dalam Islam. Pembicara menjelaskan bagaimana perbedaan gender dalam peran dan hak-hak tertentu dalam Islam telah ditafsirkan sebagai cerminan kerendahan dan status kedua  perempuan,  sembari  mengabaikan  banyak bukti-bukti Islam yang mendefinisikan bahwa laki-laki dan perempuan setara.

Mereka  mendiskusikan bagaimana  hukum  Islam  telah memungkinkan  perempuan memiliki kehidupan publik yang aktif  dalam  lingkungan  aman, membentuk keluarga yang kuat dan  harmonis  yang  menjamin hak-hak suami istri dan anak-anak.

Para pembicara juga menjelaskan, perbedaan perilaku Islam terhadap perempuan dibandingkan rengan rezim diktator saat ini. Khilafah Islamiyyah menyediakan mekanisme praktis melalui politik, ekonomi, pendidikan, media dan sistem  peradilan  yang  secara mendasar  meningkatkan  kualitas  kehidupan perempuan Muslim dan non Muslim di dunia Muslim. Pembicara terakhir memperlihatkan perjuangan global perempuan Hizbut Tahrir di seluruh dunia dan  menyeru  agar  para  perempuan  mendukung perubahan nyata di dunia Muslim melalui penegakan kembali khilafah, sebuah negara yang berdiri tidak hanya  membebaskan  perempuan  tetapi  juga membebaskan manusia.

Di akhir acara, para peserta terharu, terutama ketika  peserta  non-Muslim  mengucapkan  dua kalimah syahadah, memeluk Islam. Kontan hal itu disambut  dengan  takbir  oleh  peserta.[]  fw  dari berbagai sumber

 

Untuk menambah keberkahan, disarankan untuk menyebarkan artikel pada situs ini dengan menyebutkan URL sumbernya.

Developed by SmileBizMedia. All rights reserved