Banner
[57] Kebrutalan Rezim Suriah, Reformasi yang Menipu PDF Print E-mail
Wednesday, 05 October 2011 17:31

Rezim reprisif Suriah kembali bertindak brutal. Pasukan keamanan Suriah menewaskan sejumlah 28 orang pada hari Sabtu 9/4, kata para aktivis hak asasi manusia (HAM) Minggu. Dua puluh enam meninggal pada saat pemakaman para pengunjuk rasa yang tewas di dan sekitar kota pertanian selatan Daraa, sementara dua lagi ditembak mati di kota industri Homs, di Suriah barat tengah.

Selain itu, kelompok-kelompok itu mengatakan pemerintah telah melakukan "penangkapan sewenang-wenang" di berbagai daerah, dan mereka mengatakan 13 orang telah ditahan di kota-kota pesisir Mediterania Latakia dan Jabla.

Rezim Bashar Assad , tidak hanya membunuh rakyatnya sendiri di jalanan , tapi juga di masjid. Aksi demonstrasi di kota Dara’a, Suriah, Kamis (24/3) menewaskan sedikitnya 15 orang tewas, termasuk dokter, ketika pasukan keamanan Suriah melancarkan serangan menjelang fajar di Masjid Umari.

Para saksi mengatakan bahwa puluhan orang tewas dan terluka. Ratusan lainnya ditangkap. “Pasukan keamanan Suriah menyerbu kota Dara’a dan mulai menembakkan senjata kecil dan senapan mesin ketika aku tiba di Masjid Umari. Mereka menggunakan penutup mata ketika melakukan serangan di gelapnya malam,” tutur saksi tersebut seperti dikutip situs Al-Sharq Al-Awsat.

Bashar al -Assad , mewarisi  sikap keji sang Bapak , Hafadz al-Assad.  Sang Bapak, dikenal Hafez Assad  tangannya berlumuruan darah kaum muslimin yang merupakan rakyatnya sendiri. Seperti pembantaian yang memilikukan di di kota Hamah tahun 1982. Kota yang menjadi basis gerakan Ikhwan ini dihancurkan secara total termasuk 88 masjid dan lebih dari 30 ribu orang tak berdosa tewas yang mayoritasnya wanita dan anak-anak.

Gerakan Islam memang menjadi target khusus dari rezim Assad ini, baik sang Bapak ataupun sang anak. Penjara-penjara Suriah dipenuhi ribuan aktifis Islam seperti al Ikhawul Muslimun ataupun Hizbut Tahrir. Para pengemban dakwah ini ditangkap, disiksa dan dibunuh karena memperjuangkan  syariah Islam dan membongkar pengkhianatan rezim Suriah  yang bersekongkol dengan negara-negara imperialis.

Rezim ini pada bulan April 2007, menangkap lebih dari 25 syabab Hizbut Tahrir. Setelah membongkar pengkhianatan rezim Suriah yang berkerjasama dengan negara imperialis saat kedatangan Frank Wolf  (anggota konggres Amerika dari partai Republik) dan Nancy Pelosi (ketua DPR Amerika) pada awal  April 2007.

Janji Reformasi yang Menipu

Bashar, tampaknya semakin khawatir, nasibnya akan berakhir tragis seperti penguasa diktator lainnya seperti Zainal Abidin Ali (Tunia) dan Husni Mubarak (Mesir). Bashar pun mematuhi intruksi sang Tuan Besar , negara imperialis untuk melakukan reformasi.

Pemerintah Suriah menjanjikan reformasi politik untuk memenuhi tuntutan demonstran menyusul kerusuhan di beberapa tempat. Para pejabat Suriah berjanji untuk mengkaji kemungkinan keadaan darurat yang sudah berlakuk sejak 1963 dicabut .  Keadaan darurat ini memberikan kekuasaan yang luas bagi rezim Suriah untuk melakukan apapun. Untuk menarik hati umat Islam, Bashar mencabut larangan menggunakan cadar di Universitas , yang berlakuy sejak Juli 2010.

Beberapa point reformasi yang dijanjikan oleh rezim Bashar antara lain  pembentukan komite kepemimpinan tinggi untuk mengetahui fakta insiden yang terjadi di Dara’a, memerangi korupsi, penyiapan rancangan undang-undang kepartaian, memperkuat otoritas pengadilan dan pelarangan penangkapan secara sembarangan.

Mensikapi hal ini, Hizbut Tahrir Suriah menyampaikan agar rakyat Suriah tidak tertipu dengan janji reformasi ini. Janji ini hanyalah sekedar upaya memperpanjang usia rezim represif yang sudah menjelang ajal. Hizbut Tahrir menegaskan  rezim yang korup tidak akan bisa melakukan reformasi, karena pangkal persoalannya adalah rezim itu sendiri. Karena itu yang penting menurut Hizbut Tahrir adalah kepergian rezim represif ini, bukan  janji reformasi.

Hizbut Tahrir juga mengajak militer Suriah tidak tidak terhadap kondisi sekarang ini dan menyerukan untuk mendukung berdirinya Khilafah sebagai wujud perubahan yang hakiki. Dalam selebarannya HT menyerukan : “Kami katakan kepada para perwira: Jauhilah dari berjumpa Rabb Anda sementara di tengkuk Anda bercucuran darah kaum Muslim. Jauhilah, jangan sampai Anda merugi di akhirat dengan imbalan dunia! Berjuanglah untuk menegakkan hukum Allah SWT di atas muka bumi di bawah naungan Khilafah Rasyidah yang mengikuti metode kenabian”

Negeri yang Pernah Menjadi Pusat Kekhilafahan


Sejarah Islam di Suriah dimulai dari penaklukan (futûhât) yang dilakukan oleh pasukan Khilafah terhadap wilayah Syam. Wilayah Suriah sendiri, pada masa Kekhilafahan Islam, lebih dikenal dengan Syam yang mencakup seluruh daerah Suriah, Yordania, Palestina, dan Lebanon. Penjajahan Barat kemudian membagi-bagi daerah Syam menjadi negara-negara kecil, termasuk Suriah sekarang ini. Dimasa pemerintahan Kholifah Abu Bakar r.a  dalam perang Yamamah , tentara Islam membebaskan Suriah selatan (tahun 633). Pembebasan Suriah dilanjutkan oleh Kholifah Umar bin Khottob, mengalahkan kekuatan Byzantine di Ajnadain bulan Juli 634. Tentara Islam berhasil menaklukkan kota Damaskus sehingga hampir seluruh wilayah Syam dikuasai oleh Khilafah (tahun 637).

Pada masa Kekhilafahan Bani Umayyah (661-750), kota Damaskus bahkan dijadikan sebagai pusat Kekhilafahan. Islam diterima oleh masyarakat Suriah dengan lapang dada. Mereka menyaksikan sendiri bagaimana syariat Islam yang diterapkan oleh negara benar-benar menjamin kesejahteraan, keamanan, keadilan, dan kemakmuran bagi seluruh rakyat; baik Muslim maupun non-Muslim. Berbondong-bondong—lewat penerapan Islam yang nyata oleh negara ini—rakyat Suriah memeluk Islam. Tidaklah mengherankan kalau Islam hingga saat ini menjadi agama yang dianut oleh mayoritas rakyat Suriah.

 

Untuk menambah keberkahan, disarankan untuk menyebarkan artikel pada situs ini dengan menyebutkan URL sumbernya.

Developed by SmileBizMedia. All rights reserved