| [60] Pembangunan RS Indonesia di Gaza Dimulai |
|
|
|
| Wednesday, 23 November 2011 17:44 |
|
Setelah berjibaku selama 2,5 tahun, akhirnya pada hari Sabtu (14/5), proses pembangunan Rumah Sakit Indonesia (RSI) yang terletak di Bayt Lahiya Gaza Utara pun dimulai. Pelaksanaan pembangunan RS ini dilakukan oleh First Company, salah satu kontraktor papan atas di Jalur Gaza. First Company adalah kontraktor yang ditetapkan sebagai pemenang tender oleh Tim Divisi Konstruksi MER-C setelah melalui proses pemilihan yang ketat. Proses pembangunan tahap pertama, yaitu struktur RS diperkirakan akan memakan waktu selama 8 bulan. Setelah itu pembangunan akan dilanjutkan ke tahap berikutnya, yaitu pembangunan arsitektur dan ME (Mechanical Engineering). Seluruh proses pembangunan RSI akan diawasi secara langsung oleh relawan MER-C dari Divisi Konstruksi. Bukan hal yang mudah memang untuk melakukan pembangunan di Jalur Gaza sebuah wilayah yang terblokade, salah satunya adalah izin masuk yang sangat sulit. Pasca penandatanganan MoU Pembangunan RSI dengan MOH (Ministry of Health) Gaza, pada tanggal 23 Januari 2009, Tim MER-C baru bisa masuk kembali ke Gaza sekitar 1,5 tahun setelah itu, tepatnya setelah Insiden Mavi Marmara. Insiden ini membuat perbatasan menjadi agak longgar dan tim MER-C kembali bisa menginjakkan kaki di wilayah Gaza untuk melanjutkan komitmen program pembangunan RSI. Blokade juga membuat Tim (Insinyur) lanjutan MER-C yang berangkat ke Gaza sejak lebih dari 3 minggu (Rabu/ 20 April 2011) harus terus bersabar menunggu di perbasatan Rafah karena belum kunjung mendapat izin untuk memasuki wilayah Gaza. Proses evaluasi dan wawancara dengan para kontraktor dalam rangka menentukan pemenang tender pembangunan RSI akhirnya dilakukan melalui teleconference antara Tim Insinyur MER-C di Kairo, dan Tim MER-C di Gaza yang mendampingi para kontraktor. Dalam kondisi blokade dan terpisah jarak, atas izin Allah proses tender tetap dapat berjalan yang akhirnya menetapkan First Company sebagai kontraktor pemenang tender yang akan melakukan pembangunan RSI. Berbagai kendala lainnya juga tidak sedikit yang menerpa. Tim Divisi Konstruksi MER-C harus beberapa kali mengubah dan menyesuaikan desain RSI sampai akhirnya desain disetujui oleh Pemerintah Palestina di Gaza khususnya MOH dan boleh untuk ditenderkan. Tidak hanya itu, kendala juga datang dari dalam negeri. Pemerintah Indonesia yang semula berkomitmen untuk mendukung program RSI ini dalam bentuk bantuan dana, tiba-tiba pada Februari 2011 lalu menarik dan mengalihkan dukungannya kepada program lain, yaitu pembangunan Pusat Jantung di Gaza bekerja sama dengan IDB (Islamic Development Bank). Hal ini praktis membuat program pembangunan RSI seluruhnya murni merupakan hasil donasi dari masyarakat Indonesia, tidak ada dana bantuan dari pemerintah RI apalagi dana bantuan asing. Namun, menurut MER-C segala kendala dan hambatan yang ada tidak memadamkan komitmen dan janji pada rakyat Indonesia dan juga rakyat Palestina. Demi menyalurkan amanah donasi dari masyarakat Indonesia untuk masyarakat Palestina, MER-C tetap menindaklanjuti program pembangunan RSI yang merupakan Pusat Trauma dan Rehabilitasi yang sangat dibutuhkan oleh rakyat Gaza yang menjadi korban perang. Bahkan karena menyadari sulitnya memasuki wilayah Gaza, MER-C membuka cabangnya di Gaza dan menempatkan 7 relawannya di sana. Ketujuh relawan tersebut sudah menetap di Gaza selama 10 bulan dan sudah berkomitmen untuk berada di Gaza hingga pembangunan RSI selesai. Salah satu diantara relawan tersebut bahkan menikah dengan Muslimah Gaza. Dengan dimulainya pembangunan RS yang diberi nama RS INDONESIA, MER-C mengucapkan terima kasih kepada seluruh masyarakat Indonesia dan semua pihak atas bantuan dan dukungan yang telah diberikan selama ini hingga pembangunan akhirnya bisa dimulai. Meskipun MER-C menyadari dana (donasi) yang tersedia saat ini untuk pembangunan RSI masih jauh dari mencukupi, terlebih lagi dengan adanya permintaan tambahan dari pemerintah Palestina di Gaza yang sudah disetujui oleh MER-C, yaitu penambahan lantai basement, namun organisasi ini tetap bertekad untuk segera memulai pembangunan RSI ini. Menurut Ketua Divisi Konstruksi MER-C, Ir. Faried Thalib yang saat ini masih berada di perbatasan Rafah menunggu izin untuk masuk ke Gaza, total biaya pembangunan RSI di luar pembelian peralatan mencapai Rp 30 milyar. Sementara donasi yang sudah terkumpul dari masyarakat hingga saat ini adalah Rp 15 milyar, sehingga dana yang masih dibutuhkan untuk merampungkan pembangunan mencapai Rp 15 milyar. Ia yakin, bahwa setelah langkah pertama pembangunan ini ditapaki, Allah akan memudahkan langkah-langkah ke depan, yaitu dengan menggerakkan hati lebih banyak lagi rakyat Indonesia untuk terus mendukung berdiri tegaknya persembahan cinta kasih Indonesia untuk Palestina, baik lewat dukungan materiil, moril, serta dukungan doa. Dukungan dalam bentuk dana dapat disalurkan melalui BSM (Bank Syariah Mandiri), atas nama Medical Emergency Rescue Committee, No. Rek. 009.0121.773. Semoga program ini menjadi perekat silaturahim jangka panjang antara rakyat Indonesia dan Palestina dan semoga menjadi amal baik kita bersama. []www.mer-c.org
|




Meskipun harus menghadapi berbagai kendala pembangunan RS Indonesia di Gaza Mulai dilaksanakan. 





