Banner
[35] Pembunuh Ribuan Orang Itu Ternyata Abuya? PDF Print E-mail
Sunday, 18 July 2010 11:55

Pemimpin kelompok eks Daarul Arqom mengklaim mendatangkan tsunami Aceh tahun 2004 yang menewaskan sekitar 200 ribu orang.

Para janda, duda, anak yatim, anak piatu, anak yatim piatu dan semua korban tersisa dari tragedi gempa-tsunami yang mendera Aceh-Sumut Minggu, 26 Desember 2004, kini bisa menuntut pada biang kerok terjadinya bencana tersebut. Bukan dinamika struktur lempeng bumi Nusantara, bahkan bukan juga takdir Ilahi, melainkan Abuya Asa’ari Muhammad Tamimi.

Ya, dalam buku “Tsunami Membuktikan Adanya Abuya Putra Bani Tamim (Satria Piningit)’’ yang diluncurkan pada 23 April lalu  di Bandung, sang pemimpin kelompok Global Ikhwan mengklaim dirinya lah yang mendatangkan tsunami Aceh Desember 2004.

Tsunami itu, menurut Asa’ari, dia rancang untuk menghentikan upaya Amerika Serikat yang tengah mengadu domba Indonesia-Malaysia sehingga kedua jiran nyaris berperang saudara.

Sekitar 200 ribu warga tewas tergulung tsunami. Namun, Asa’ari tak kejam-kejam amat. Dia ‘’menyelamatkan’’ pengikutnya di Aceh dari bencana itu.

Pada Bab IV buku tadi, sang penulis Hatijah Aam yang juga salah satu istri Asa’ari, menceritakan sebuah peristiwa di Lampulo, Banda Aceh, tepatnya di rumah pegawai Dinas Kesehatan Rita Mutia.

Diceritakannya, saat ombak raksasa menyerbu, kakak Rita Mutia yang bernama Syeikh Mujiburrizal, mengajak adiknya bertawasul pada Abuya. Saat air laut sudah mencapai leher. Dengan pekik suara dahsyat, kakak-beradik itu berseru: ‘’Abuya tolooong! Abuya tolooong!’’

Tak lama kemudian, tiba-tiba muncul sebuah kapal ikan hitam berkapasitas  100-an orang. Kapal buruk, tua, dan bocor, yang didorong seekor buaya, itu menyelamatkan rombongan Syeikh Mujib.

Salah satu pembuat kata pengantar dalam buku itu, DR Ing Gina Puspita, menyatakan buku tersebut ajaib karena disusun hanya dalam waktu seminggu.

“Buku ini ditulis secara ajaib oleh istri Abuya selama satu minggu. Abuya menceritakannya kepada istrinya apa yang terjadi sebelum tsunami di Aceh lalu ditulis,” ungkap Gina usai bedah buku di Rumah Makan Sindang Reret, Bandung.

Menurut Gina, buku tersebut ditulis oleh ujung pena yang bergerak dengan lancar atas dorongan ilham. “Sehingga pesan besar ini perlu waktu beberapa hari saja untuk dituangkan dalam buku,” ujarnya.

Pakar aeronautika yang juga istri Asa’ari itu mengakui,  isi buku karangan madunya  banyak mendobrak akal dan cara berpikir manusia pada umumnya. Namun, katanya segera, bukan berarti isinya salah.

“Buku ini disajikan dengan cara yang kuat dan sistematis. Kalau kami bilang isinya banyak mendobrak akal dan cara berpikir, bukan berarti isinya salah, tapi akal kita yang selama ini telah salah berpikir,” dia berkilah.

Sebaliknya, Ketua Umum Forum Ulama Umat Islam (FUUI) KH Athian Ali M Da’i, menilai isi buku setebal 83 halaman itu menyesatkan.

“Buku ini menurut saya sangat menyimpang, sesat. Tidak ada makhluk yang menciptakan sesuatu seperti bencana,” kata Athian Ali kepada para wartawan yang menemuinya di Gedung Pusdai Bandung, pekan lalu.

Dalam bukunya ‘’Bencana-Bencana di Era SBY-Kalla’’, Ridwan Saidi menuturkan bahwa kondisi alam Indonesia memang rawan bencana alam seperti gempa bumi dan tsunami. Tak kurang dari 75 tsunami pernah terjadi di Indonesia dalam kurun 1901-2000.

Kalau mau mempersalahkan, kata Ridwan Saidi, adalah sikap dan kebijakan pemerintah Indonesia yang tidak pernah serius mengantisipasi potensi bencana alam. Bukan pada keadaan alam apalagi takdir Iahi. ‘’Karena pemerintah kita tidak becus mengelola alam, maka oleh si Andre Vitchek bencana alam di Indonesia dianggap sebagai pembunuhan massal,’’ katanya saat meluncurkan bukunya itu di Jakarta pada 2009.

Athian Ali Da’i  menampik klaim bahwa Asa’ari adalah Putra Bani Tamimi alias Satria PIningit alias Sang Ratu Adil alias Al Mahdi Sang Juru Selamat Akhir Zaman. Ia menandaskan, klaim Abuya dan pengikutnya dalam buku ini bukanlah upaya menyelamatkan Islam, tapi justru mengotorinya.

“Kalau seperti ini, Asa’ari bukan mujadid, tapi justru malah mengotori Islam. Mujadid merupakan orang-orang yang diutus Allah untuk membersihkan orang-orang yang mengotori Islam,” terang Athian.  (taqiyuddin albghdady)


Dari Arqam ke Rufaqa

  1. Pada 1966 Abuya Asa’ari Muhammad sakit keras selama empat bulan. Dalam sakitnya, ia mengaku telah bertemu para ulama dan mengaji kepada mereka.
  2. Tahun 1967, dia mengaku bermimpi bertemu Muhammad bin Abdillah As-Suhaimi. Lelaki yang  meninggal pada 1925 itu diyakininya sebagai Imam Mahdi.
  3. Pada 1969, di “Rumah Putih” di Malaysia, Asa’ari Muhammad membentuk jamaah Darul Arqam. Jamaahnya kemudian menyebar hingga Indonesia dan menjadi sebuah fenomena.
  4. Pada 6 Oktober 1986, ‘Muzakarah Jawatan kuasa Fatwa Majlis Kebangsaan Malaysia mengeluarkan fatwa tentang kesesatan Darul Arqam.
  5. Pada 13 Agustus 1994, MUI menerbitkan fatwa mengenai kelompok Darul Arqam yang dipimpin Asa’ari Muhammad dari Malaysia. Dalam fatwanya MUI menyatakan mendukung sepenuhnya Keputusan sejumlah MUI Daerah yang telah menyatakan bahwa ajaran Darul Arqam menyimpang dari Aqidah Islamiyah. MUI juga mendukung sepenuhnya Keputusan Jaksa Agung RI yang melarang beredarnya buku Aurad Muhammadiyah pegangan Darul Arqam karangan Azhari Muhammad, serta larangan beredarnya buku berjudul "Presiden Soeharto Ikut Jadwal Allah", karya Abuya Syech Imam Azhari Muhammad. MUI menyeru umat Islam agar tidak terpengaruh oleh ajaran Darul Arqam. Dan kepada yang sudah telanjur mengikuti ajaran tersebut, MUI mengimbau agar segera kembali kepada ajaran Islam yang benar.
  6. Setelah dipenjara oleh Pemerintahan Malaysia selama beberapa tahun, pada 1997 Asa’ari Muhammad mengembangkan kembali usaha dakwahnya dengan nama Rufaqa’. Sedangkan di Indonesia bernama Hawariyun.
  7. Pada 2000, Hawariyun dan Rufaqa’ bergabung menjadi Zumala Group Internasional. Dua tahun kemudian berubah nama lagi menjadi Rufaqa’ Internasional/Rufaqa Corporation Sdn. Bhd.
 

Untuk menambah keberkahan, disarankan untuk menyebarkan artikel pada situs ini dengan menyebutkan URL sumbernya.

Developed by SmileBizMedia. All rights reserved