|
Sepak terjang mereka meresahkan dan mengganggu warga Mustikajaya.
Media massa me-nuding kaum Muslim berada di balik pe-nusukan pen-deta HKBP Hasian Lumbantoruan Sihombing. Tudingan itu lebih khusus lagi diarahkan ke Front Pembela Islam (FPI). Hampir semua 'seolah' telah bersepakat, menyalahkan umat Islam atas kejadian itu dan membuat pro-paganda negatif: Islam anarkis. Padahal hingga tulisan ini dibuat, aparat kepolisian belum bisa menemukan siapa sebe-narnya yang menusuk pendeta tersebut. Polisi hanya menang-kap aktivis FPI yang terlibat perkelahian itu dan Ketua FPI Bekasi yang sebenarnya tak terkait. Sementara tak satu pun jemaat Huria Kristen Batak Pro-testan (HKBP) ditangkap. Pada-hal, menurut Ketua Umum FPI Habib Rizieq Shihab, justru aktivis FPI yang mengalami kekerasan. Mereka lebam-lebam, luka, patah tangan, bahkan ada yang ter-tusuk juga. Ia menyatakan, peristiwa Bekasi Ahad 3 Syawal 1431 H/12 September 2010 bukan perenca-naan tapi insiden. ”Bukan peng-hadangan tapi perkelahian. Bu-kan penusukan tapi tertusuk. Karena sembilan pelaku adalah ikhwan yang sedang lewat berpapasan dengan 200 orang HKBP. Lalu terjadi perkelahian, saling pukul, saling serang, saling tusuk, saling terluka,” ujar Habib Rizieq di Jakarta (16/9). Menurutnya, sangat tidak masuk akal jika ini semua diren-canakan oleh kaum Muslim. “Jika perencanaan, mana mungkin sembilan ikhwan berbaju Muslim dengan identitas terbuka. Jika penghadangan, mana mungkin sembilan menghadang 200 orang,” jelasnya. Warga setempat memapar-kan, aksi jemaat HKBP pada hari itu memang sangat provokatif. Mereka menyanyikan lagu-lagu gereja keliling perumahan dipim-pin pendetanya. Mereka berjalan dari rumah di F 14 Pondok Timur Indah ke lahan kosong milik salah satu jemaat HKBP untuk meng-adakan kebaktian. Sekitar 1 km dari lahan ko-song itulah, jemaat yang ber-jumlah 200 orang berpapasan dengan sembilan anggota FPI. Terjadilah perkelahian yang tak seimbang. Tak jelas, siapa pelaku yang menyebabkan pendeta Sihombing tertusuk. Sembilan anggota FPI jadi kambing hitam. Padahal merekalah yang sebe-narnya dikeroyok. Saat polisi memeriksa keja-dian itu, menurut Habib Rizieq, dua jemaat HKBP yakni Purba dan Sinaga kedapatan mem-bawa pisau. Anehnya, malah keduanya dibebaskan. Sedang-kan yang mengeroyok anggota FPI yang terluka tidak ada satu pun yang ditangkap. Eh malah aktivis FPI dijadikan ter-sangka. Para pendeta HKBP yang jelas-jelas memprovokasi tak diperiksa sama sekali.
Ganggu Warga Hampir 20 tahun lamanya, warga Pondok Indah Timur, Mus-tikajaya, Kota Bekasi, menahan diri. Namun, HKBP malah tak tahu diri. Di tempat itulah, tepatnya di Blok F 14 RT 1/RW 15 Pondok Timur Indah, mereka menjadikan rumah tinggal sebagai gereja. Awalnya warga maklum. Namun belakangan aktivitas itu meng-ganggu ketenteraman warga. Jemaat yang datang bukan ha-nya warga setempat, tapi orang luar. Mereka parkir sembarangan. Jalan sering macet. Bahkan me-nutup jalan saat mereka ada kebaktian. Awal Januari 2009, warga Mustika Jaya tak bisa lagi meneri-ma kenyataan itu. Mereka protes dan tidak setuju dengan keber-adaan gereja ilegal itu. Dan ter-nyata, mereka memang tidak punya izin apapun. RW setempat memberi waktu 6 bulan kepada HKBP untuk pindah. Hingga Desember 2009, mereka tak juga pindah. Mereka makin aktraktif, seolah menantang warga setempat. Warga kian geram. Mereka mendesak Pemkot Bekasi bertin-dak. Hasilnya, sempat turun surat segel pada Februari 2010. Entah kenapa penyegelan tak dilaku-kan. Warga Mustika Jaya terus mendesak. Tepat 1 Maret, penyegelan dilakukan setelah warga ke Wali-kota. Dinas P2B Bekasi menyegel rumah tersebut. Namun segel itu hanya bertahan beberapa saat. Jemaat HKBP kemudian melepas segel tersebut sambil teriak-teriak. Mereka keluar pagar dan mengancam warga sekitar. Jema-at ibu-ibu ini keliling perumahan dan memukili pagar-pagar warga yang mereka incar. ”Warga panik,” kata Suwito Syahid, tokoh se-tempat kepada Media Umat. Tidak cukup itu, mereka berorasi di depan rumah F 15 milik seorang Muslim. Mereka mengeluarkan kata-kata yang tak pantas. Mereka pun men-datangkan orang tak dikenal dan mengancam penghuni F 15. Kondisi ini mendorong ka-um Muslim merapatkan barisan. Saat itu juga ada perwakilan FPI datang dan ikut menjaga rumah F 15. Mulailah jemaat HKBP mundur ke F 14. Nyatanya, mereka tetap tak mau pindah. Mereka justru be-rencana membangun gereja di sebuah lahan kosong di RW 6. Caranya dengan memanipulasi data warga. Syahid Tajuddin, tokoh agama setempat membe-berkan, beberapa warga Ciketing mengaku KTP-nya pernah dipin-jam dan diberikan imbalan sejumlah uang. Yang mendatangi mereka para preman. Warga tak tahu untuk apa KTP tersebut. Yang pasti, warga empat kelurahan yang ada di Keca-matan Mustika Jaya, yaitu Kelu-rahan Mustikajaya, Mustikasari, Pedurenan dan Cimuning meno-lak rencana itu. Warga sekitar yang mayoritas Muslim berang-gapan lahan yang rencananya akan dibangun tempat ibadah itu terletak di perkampungan umat Muslim. Bahkan dari ratusan jemaat HKBP hanya empat KK yang termasuk pendatang di kampung itu. Ini semua berten-tangan dengan ketentuan peme-rintah yang tertuang dalam Per-aturan Bersama Menteri tentang Pendirian Tempat Ibadah. Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Bekasi, Badruzzaman mengata-kan, pihak pengurus HKBP di Pondok Indah Timur, Mustikajaya belum pernah mengajukan surat rekomendasi untuk pembangun-an gereja di kampung Ciketing Asem. Bahkan kegiatan peribadat-an di rumah yang dijadikan tempat ibadah jemaat HKBP di Jalan Puyuh Raya PTI, Mustika-jaya juga tidak berizin. “Rumah ibadah tersebut belum diajukan izin sejak 19 tahun lalu,” jelas Badru. Jemaat HKBP terus saja beribadah di rumah itu. Juli 2010, kedua kalinya Pemkot menyegel rumah tersebut. Mereka kemu-dian menggelar kebaktian di lahan kosong yang akan mereka dirikan gereja. Ini membuat warga kian resah. Sekitar 1.000 warga yang tergabung dalam Forum Umat Islam Mustikajaya (FUIM) mem-protes jemaat HKBP. Eh, malah pendeta HKBP melaporkan war-ga Muslim. Selanjutnya, mereka beribadah di tempat tersebut dengan pengawalan polisi. Berbagai provokasi dilaku-kan jemaat HKBP agar warga Muslim melakukan tindak keke-rasan, namun tak berhasil. La-rangan Pemkot agar mereka memindah tempat ibadah mere-ka ke gedung OPP disediakan pun pada awalnya ditolak. Mere-ka tak mengindahkan semua ketentuan.[] mujiyanto
Mereka Memang Keterlaluan
Sebuah surat elektronik sempat dikirim ke Rakyat Merdeka On Line dan dimuat 17 September lalu. Surat itu atas nama warga Ciketing Asem, bernama Rahmat Siliwangi. Ia mengungkap keberatan warga setempat terhadap aktivitas HKBP.
Ia menceritakan, awalnya warga bisa menerima warga HKBP karena mereka juga hormat ke warga. Lambat laun, mereka yang mondar-mandir itu menjadi arogan dan mau menang sendiri. Mereka mulai tidak menghormati tetua warga dan warga asli Mustikajaya, Bekasi. Seakan–akan tanah dan daerah ini milik mereka. “Bahkan dalam acara–acara keluarga, mereka sangat mengganggu ketentraman kami sebagai warga asli”. Ketidaksukaan itu, lanjutnya, juga ditunjukkan warga non Muslim lain selain HKBP. “Kesimpulan kami bersama warga–warga non Muslim selain jemaat HKPB, jemaat HKBP cenderung kasar, sembrono, tidak tahu diri, tidak tahu malu, menyebalkan, cara bicaranya keras dan sangat arogan,” jelasnya.
Mereka, kata Rahmat, jika ada acara makan–makan, mulai berani memotong babi dan anjing di sekitar kampung Mustika. Baunya menyebar ke mana-mana. Mereka juga berani minum minuman keras. “Kesimpulan dan kesepakatan warga, kami takut jika ini dibiarkan akan merubah tatanan masyarakat kami dari berbagai lintas agama dan suku lain,” tulis surat itu. Sayangnya, link surat itu sekarang ditutup.[] mujiyanto
|
|