Banner
[44] Ulah Nasrani Tak Pernah Henti PDF Print E-mail
Thursday, 06 January 2011 18:06

Misi penyebaran agama (gospel) dibarengi dengan misi imperialisme untuk meraih kemenangan atau kejayaan (glory), dan harta (gold).

Komunitas Kris-ten di Indone-sia, dalam hal ini PGI dan KWI, menolak segala usaha untuk menyalahgu-nakan misi kemanusiaan sebagai cara kristenisasi. Hal ini berten-tangan sama sekali dengan se-mangat dan ajaran Kristen yang sebenarnya.''

Demikian pernyataan ber-sama yang dihasilkan dalam pertemuan organisasi Kristen de-ngan beberapa organisasi Islam pada 15 Januari 2005.
Di antara penandatangan pernyataan tersebut adalah Pdt Dr Andreas A Yewangoe (Ketua Umum PGI), Rm Benny Susetyo Pr (Sekretaris Eksekutif HAK-KWI), Prof Dr Ahmad Syafi'i Ma'arif (Ke-tua PP Muhammadiyah), KH Hasyim Muzadi (Ketua Umum PBNU).

Menurut Anggota Komisi Kerukunan Umat Beragama MUI, Dr Adian Husaini, pernyataan itu penting dicermati. Ia merupakan pernyataan resmi yang disepa-kati oleh para petinggi organisasi Kristen dan Islam di Indonesia, meskipun efektivitasnya masih bisa dipertanyakan. Padahal, selama ini kalangan kristen selalu menolak etika penyebaran agama.

Adian Husaini menilai, pernyataan tersebut sekaligus menegaskan bahwa Kristenisasi diakui dan tidak perlu dipersoal-kan, asalkan tidak dengan me-nyalahgunakan bantuan kema-nusiaan (diakonia). Artinya, kris-tenisasi dengan cara lain seolah-olah sah-sah saja. Misalnya lewat jalur politik, pendidikan, budaya, narkoba, perkawinan, pemerko-saan, dan mistik serta manipulasi simbol Islam.

Agresivitas kristenisasi di dunia Islam memang sebuah ke-niscayaan. Kristen adalah agama misionaris. Dalam Kitab Perjan-jian Baru, Markus: 28: 18-19, disebutkan: ''Kepadaku telah diberikan segala kuasa di surga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus.''

Ayat ini menjadi acuan bagi kaum Kristiani mengenai keharusan menyebarkan agama Kristen ke seluruh dunia. Yang menjadi sasaran dalam motif ini ialah setiap penduduk bumi yang non-Kristen. Artinya, motif ini menghendaki agar seluruh war-ga bumi dikristenkan.

Selain itu, misi penyebar-an agama (gospel) dibarengi dengan misi imperialisme untuk meraih kemenangan atau keja-yaan (glory), dan harta (gold). Dalam hal ini, kristenisasi men-jadikan Islam dan umatnya se-bagai sasaran utama, sebagai-mana dinyatakan Kardinal Lavie Garry: “Tanpa diragukan lagi, agama yang paling kuat dan tidak bisa ditaklukkan adalah agama Islam. Oleh karena itu, para misionaris berharap agar seluruh kaum Muslim menjadi Kristen.”

Raymond Lull adalah orang Kristen pertama yang mengumandangkan kristenisasi menyusul kekalahan Kristen pa-da Perang Salib.

Dalam sebuah diskusi yang diselenggarakan ICMI Orsat Jatinegara di Jakarta, Juni 1995, Hussein Umar mengemukakan bahwa pada periode 1967-1987, pemerintah melakukan deideo-logisasi, depolitisasi, dan seku-lerisasi yang mengorbankan ke-kuatan Islam. Pada saat yang sama, kristenisasi berlangsung ugal-ugalan dengan dukungan rejim yang berkuasa.

Dalam Mukaddimah buku Fakta dan Data Usaha-usaha Kris-tenisasi di Indonesia (Media Dak-wah, Jakarta, 1991), Hussein Umar membeberkan kelakuan misionaris dengan judul ''Intole-ransi Kaum Nasrani terhadap Umat Islam''. Bang Hussein meng-ungkapkan studi empiris menge-nai hal itu dalam halaman 24-43 dengan 18 catatan kaki.

Menurut catatan Hussein Umar, setidaknya ada 14 kasus sejak menjelang kemerdekaan Indonesia 1945, pihak Nasrani tidak ada toleransi terhadap Islam.

Misalnya, kode etik penyi-aran agama. Hal ini sudah lama diserukan M Natsir. Ini terjadi ketika di masa pemerintahan Orde Baru sebagian misionaris Kristen beraksi tanpa memper-hatikan kode etik penyebaran agama. Eksesnya, terjadi pem-bakaran gereja di Meulaboh (Aceh) dan Makassar (Sulawesi Selatan) pada tahun 1967, dan pembakaran gereja di Slipi, Jakar-ta Pusat, pada Mei 1969.

Untuk mencegah ekses semacam itu, pada akhir Novem-ber 1967 di Jakarta sejumlah pemuka agama bertemu dalam Forum Antar Agama. Di akhir pertemuan, para wakil agama Islam, Protestan, Hindu Bali, dan Budha, sepakat membuat per-nyataan bersama yang mengatur tata cara penyebaran agama.

Namun, kesepakatan itu gagal ditandatangani karena wakil Kristen-Katholik menolak klausul yang berbunyi: ''Tidak menjadikan umat telah ber-agama sebagai sasaran penye-baran agama masing-masing.''

Pada peringatan Isra' Mi'raj tanggal 16 Agustus 1974, Presiden Soeharto sekali lagi memperingatkan agar penye-baran agama tidak menyinggung perasaan umat beragama lain.

Hal tersebut ditandaskan lagi oleh Menhankam/Pangab Jenderal Mareden Panggabean pada seminar tentang ''Peranan Pemimpin Agama dalam Pemba-ngunan Nasional'' di Banda Aceh, 28 Oktober 1974.

Tapi, kristenisasi dengan cara dan gayanya sendiri jalan terus. Padahal, etika penyebaran agama dan pendirian tempat ibadah diatur dengan Surat Ke-putusan Bersama Tiga Menteri tahun 1969 dan SK Menteri Agama no 70 dan no 78 tentang Pendirian Gereja dan Penyiaran Agama. Namun, banyak gereja dan kegiatan misionaris yang melanggar peraturan yang me-mang mereka tolak itu.

Menyaksikan perkem-bangan kristenisasi di tanah air, Natsir bersama beberapa orang mantan menteri agama, yaitu  Prof HM Rasjidi, KH Masjkur, dan KH Rusli Abdul Wahid kemudian mengirim sepucuk surat kepada Paus Yohanes II saat berkunjung ke Indonesia tanggal 3 Desember 1970.

Dalam surat itu, Natsir menyebut kegiatan kristenisasi di Indonesia dilakukan dengan peaceful aggression, atau penye-rangan bersemboyan keda-maian.
“Kegiatan misi Kristen/Ka-tolik di Indonesia tampak me-ningkat setelah meletusnya pem-berontakan Komunis G 30 S PKI. Keluarga orang-orang komunis yang ditangkap dan umat Islam yang miskin, adalah sasaran utama mereka, berpuluh-puluh ribu orang terpaksa masuk Kristen berkat bujukan-bujukan dan dana-dana misi tersebut. Organisasi-organisasi misionaris itu bermacam-macam, dan cara yang mereka jalankan dalam aktivitasnya bertentangan de-ngan Pancasila (kebebasan meng-anut agama). Pada tahun 1967 misi tersebut mulai menunjuk-kan cara-cara yang sangat me-nyinggung perasan umat Islam, yaitu mendirikan gereja dan sekolah-sekolah Kristen di ling-kungan umat Muslim. Ini me-nimbulkan peristiwa-peristiwa yang tidak dinginkan seperti perusakan…'' [] taqiyuddin albaghdady


Diskriminasi Minoritas Muslim

Pelarangan menara masjid termasuk pelanggaran hak asasi manusia. Hal ini juga sudah dilaporkan ke Strasbourg (The European Court of Human Rights)," kata Agata S Nalborczyk, akademisi dari Universitas Warsawa, dalam seminar "Islam in A Globalising World" di Jakarta, 30 Juni 2010.

Pernyataan Agata merupakan pengakuan bahwa Uni Eropa masih ada diskriminasi terhadap Muslim di Eropa. Salah satunya adalah pelarangan terhadap menara masjid di Swiss.

Ramadhan lalu, yang bertepatan dengan musim panas di Eropa, pekerja Muslim di Italia dilarang berpuasa selama Bulan Suci. Larangan ini dikeluarkan Komite Keselamatan Kegiatan Pertanian Italia.

Larangan ini sempat mendapat kecaman dari pekerja Muslim di sana karena mereka bersikeras ingin tetap berpuasa. Tapi karena peraturan ini demi keselamatan pekerja, mereka pun terpaksa mematuhinya.

Selain di Italia, beratnya berpuasa dijalani juga oleh para pesakbola Muslim yang berlaga di kompetisi negara-negara Eropa. Misalnya, Mezut Ozil yang kini merumput di Real Madrid. Dia terpaksa tidak berpuasa karena tidak diperbolehkan oleh klub demi kebugaran pemain.
“Saya terpaksa tidak berpuasa selama latihan. Kalau kebetulan libur saya pasti berpuasa. Aturannya memang seperti itu,” ujar Ozil seperti yang dikutip kantor berita Associated Press (AP).

Di Amerika sama saja. Sebuah penelitian yang dilakukan Pew Research Center menunjukkan, rakyat AS meyakini bahwa warga Muslim paling banyak mengalami diskriminasi dibandingkan komunitas agama lainnya. Survei yang dilansir The Detroit News itu menyebutkan enam dari 10 warga AS menilai warga Muslim mendapat perlakuan diskriminatif lebih besar dibandingkan kelompok Kristen Evangelis, Mormon, dan ateis.[] ta

 

Untuk menambah keberkahan, disarankan untuk menyebarkan artikel pada situs ini dengan menyebutkan URL sumbernya.

Developed by SmileBizMedia. All rights reserved