Banner
[45] Bencana Wasior, Pemerintah Molor PDF Print E-mail
Tuesday, 11 January 2011 14:39

Sepertinya pemerintah menutupi adanya praktik pembalakan liar di sekitar Wasior.

Kota Wasior luluh lantak oleh air bah. Sekitar pukul 08.00, ibukota Kabupaten Teluk Wondama, Papua Barat ini diterjang banjir. Kejadiannya mirip tsunami di Aceh. Rumah dan gedung-gedung tersapu. Diperkirakan sekitar 150 orang tewas dan ratusan lainnya hilang. Ratusan orang luka-luka dan ribuan lainnya mengungsi.

Bak lagu lama, pemerintah lamban meresponnya. Banyak pejabat pemerintah hanya me-nonton televisi, 'menikmati rea-lity show' itu sambil sekali-kali terkaget-kaget dan takjub de-ngan bencana tersebut. 

Di sisi lain, banyak pejabat terjebak dalam perdebatan penyebab musibah ini. Menteri Kehutanan yang awalnya me-ngatakan bahwa musibah ini terjadi akibat adanya pemba-lakan liar, mengubah pernyataan tiga hari kemudian. Ia mengata-kan bahwa musibah ini karena curah hujan yang terlalu tinggi selama lima hari berturut-turut. Pernyataannya yang terakhir ini menyesuaikan dengan pernya-taan Presiden SBY bahwa penye-bab banjir bukan karena pembalakan liar.

SBY pun tak mau langsung turun ke lapangan. Ia berasalan akan mendengar dulu penje-lasan Menkokesra dan pejabat terkait di daerah. Padahal sebe-narnya ia sudah mendapatkan penjelasan dari Ketua BNPB Syamsul Ma'arif soal kondisi di Wasior. SBY hanya menyampai-kan pesan agar rakyatnya diselamatkan.

“Saya titipkan keselamatan warga. Peristiwa ini pernah terjadi pada 1955. Ini diakibatkan curah hujan yang turun luar biasa sehingga sungai dan lumpur mengakibatkan banjir bandang,” tandasnya kepada sebuah portal berita nasional.

Keputusan penundaan ke-datangan Presiden ini mengece-wakan sebagian warga. Menurut mereka, Presiden seharusnya memprioritaskan kunjungan ka-rena bencana ini berskala luas dan korban tewas sudah men-capai ratusan orang. SBY sendiri beralasan penundaan ini untuk memberi kesempatan tim tang-gap darurat menangani para korban hingga proses evakuasi.

Ketua DPR Marzuki Alie yang juga petinggi Demokrat berpendapat Presiden tidak per-lu mengurusi semua hal di dalam negeri karena semua ada bagian masing-masing. Penanganan bencana Papua cukup oleh Men-teri Sosial atau Menko Kesra. Sementara DPR sendiri sama juga lambannya. Mereka pun belum mau turun ke sana.

Pembalakan Liar
Musibah ini di mata Ketua Umum Palang Merah Indonesia Yusuf Kalla, terjadi akibat pem-balakan liar. Mantan Wakil Pre-siden itu mengimbau aksi pem-balakan liar dengan membabat hutan harus segera dihentikan. "Bencana itu akibat fungsi hutan yang selama ini mengatur arus air, tidak lagi berfungsi optimal," kata Jusuf Kalla. 

Berdasarkan informasi yang dirilis oleh Wahana Lingkungan Hidup (Walhi), banjir bandang di Kota Wasior, Papua, disebabkan kerusakan hutan di kawasan Kabupaten Teluk Wondama.

Manajer Desk Bencana Ek-sekutif Walhi Irhash Ahmady mengatakan, Walhi memper-kirakan sekitar 30-40 persen hutan di kawasan Hutan Suaka Alam Gunung Wondiboi dan ka-wasan Taman Nasional Laut Teluk Cenderawasih mengalami alih fungsi. Akibatnya, Kali Angris dan Kali Kiot meluap dan membawa bencana bagi Wasior. ”Aktivitas penebangan kayu sudah ber-langsung sejak 1990-an, sekitar 20 tahun, Hutan yang kita tebang hari ini, bencananya bisa 5-10 tahun mendatang,” katanya.

Pemerintah mengeluarkan izin HPH pada tahun 1990 kepada PT WMT dan PT DMP. Namun, karena penolakan warga hingga berujung pada kerusuhan yang menimbulkan pelanggaran HAM, aktivitas penebangan hu-tan berhenti sementara.

Aktivitas penebangan kem-bali dilakukan pada tahun 2002. Saat itu aktivitas penebangan hutan berjalan tanpa perlawanan masyarakat karena perusahaan-perusahaan ini sudah mampu membayar ganti rugi kepada warga bahkan membangun kongsi dagang dari hulu sampai hilir.

PT WMT merupakan peme-gang usaha kayu terbesar di Papua. Di Teluk Wondama, lokasi perambahannya mencapai 178 ribu hektar. Tercatat pula, lokasi lainnya di Kabupaten Sarni dan Kabupaten Yapen Waropen.

Walhi mendapati ratusan gelondongan kayu disertai lum-pur dan batu besar bertebaran di seluruh Wasior I, Wasior II, Kam-pung Rado, Kampung Moru, Kampung Maniwak, Kampung Manggurai, Kampung Wonda-mawi, dan Kampung Wondiboi.

Pendapat ini dikuatkan pe-nilaian pakar kebencanaan dari Universitas Gadjah Mada, HA Sudibyakto MS. Penasihat Badan Nasional Penanggulangan Bencana ini menyatakan, banjir bandang yang melanda Wasior, Teluk Wondama, Papua Barat, adalah hasil dari anomali cuaca. Anomali cuaca ini bertemu de-ngan degradasi lahan akibat pembalakan hutan.[] helmy akbar

 

Untuk menambah keberkahan, disarankan untuk menyebarkan artikel pada situs ini dengan menyebutkan URL sumbernya.

Developed by SmileBizMedia. All rights reserved