|
Konflik itu hanya karena masalah kecil, mengapa jadi massal? Adakah yang ikut bermain?
Kota Tarakan, Kali-mantan Timur, sem-pat mencekam da-lam tiga hari sejak 27 September lalu. Dua kelompok warga dari dua etnis yang berbeda terlibat bentrokan. Mereka sama-sama Muslim, dan pemicunya pun masalah sepele. Adakah yang bermain.
Di tengah kondisi seperti ini, justru Presiden SBY melontar-kan pernyataan yang bernada provokasi. “Jangan sampai kerusuhan Sampit terulang kembali,” kata SBY ketika berpidato di hadapan pers di Jakarta.
Kerusuhan bermula ketika Abdul Rahmansyah dari etnis Tidung dikeroyok oleh seke-lompok orang. Ia menderita luka-luka. Tidak terima dengan hal ini, Abdullah, orang tua korban ber-sama teman-temannya men-datangi salah seorang pelaku yang kebetulan beretnis Bugis, mereka membawa senjata seper-ti mandau, parang, dan tombak. Keadaan berbalik, Baharudin dari etnis bugis justru berhasil me-lukai Abdullah, yang akhirnya tewas.
Kondisi ini diprovokasi oleh sekelompok pihak yang meng-inginkan keributan. Terjadilah bentrokan massal yang meluas. Ribuan warga sempat mengung-si. Ada pula yang kabur ke Makassar.
Sempat muncul isu bahwa Panglima Kumbang dan Pang-lima Burung dari suku Dayak Kalimantan Tengah hendak ber-gabung membantu suku Tidung. Menurut rumor, mereka inilah yang melakukan pembantaian terhadap warga Madura di Sam-pit. Seakan tidak mau kalah, etnis Bugis dari Sulawesi juga berniat untuk membantu saudara mere-ka di Tarakan.
Hal ini ditambah lagi oleh provokasi oleh media massa yang menyamakan antara etnis Tidung dan Dayak. Juga ucapan presiden yang salah kaprah seolah kerusuhan antara Dayak dan Bugis, sama seperti Sampit antara Madura dan Dayak. Pada-hal etnis Tidung tidak sama dengan Dayak.
Menurut sumber dari war-ga kepada Harian Fajar Makassar, suku Tidung juga memiliki seja-rah tersendiri. Mereka juga hidup berpindah-pindah. Mereka se-sungguhnya tidak menyukai ke-kerasan. Hal ini dapat dilihat dari kesenian mereka, yaitu tari Zapin (Jeppeng) yang kemelayu-mela-yuan. Malah ada kemiripan de-ngan kesenian Bugis. Ada juga komunitas Bugis yang melakoni tarian ini dalam kebudayaan mereka.
Mayoritas umat beragama di sana adalah Islam. Suku Tidung hampir 100 persen pemeluk Islam. Mereka hidup rukun. Lalu apa kaitannya dengan mem-bawa-bawa suku Dayak didalam konflik ini? Dayak sendiri kebu-dayaannya kebanyakan masih primordial, agama mereka ada-lah primordialisme leluhur alias animisme, malah ada yang me-ngatakan penyembah setan, identik dengan ilmu hitam, Kuyang (pemakan darah wanita yang melahirkan), kejahiliyahan. Sebagian mereka lebih banyak yang memeluk Kristen. Mereka pulalah yang membantai suku Madura yang mayoritas Islam di Sampit. Yang secara tidak lang-sung mengurangi populasi umat Islam di Kalimantan Tengah.
Menurut Ketua Lajnah Siya-siyah DPP HTI Harits Abu Ulya ketika di wawancarai Media Umat, Di Tarakan, kasus seperti ini potensial ditunggangi pihak salibis. Basis mereka adalah orang Dayak pribumi yang ber-mukim di situ. Sementara itu, mayoritas Bugis yang menguasai ekonomi dan pemerintahan. “jadi kasus tarakan potensial untuk menyingkirkan orang-orang Muslim atas nama sentimen et-nis,” tegasnya.
Kenyataannya, yang me-ninggal adalah orang pribumi, Muslim Tidung, bukan Dayak. “ini potret kegagalan integrasi oleh pemerintah terhadap kemaje-mukan rakyatnya, karena basis ideologinya tidak jelas,” tan-dasnya.
Selain itu, Sosiolog dari Uni-versitas Indonesia Imam B Praso-djo, melihat bahwa konflik antar etnis termasuk berkumpulnya etnis tertentu di suatu wilayah tanpa upaya pembauran oleh pemerintah telah memunculkan potensi konflik yang besar. Di Jakarta saja, lahan parkir dikap-ling-kapling oleh para preman, ada yang dari etnis Ambon, NTT, Batak. “Hal inilah yang menim-bulkan segregasi di dalam ma-syarakat,” ujarnya.
Pemerintah juga dinilai lamban dalam menangani potensi konflik etnis seperti ini menurut Ketua Umum PP Mu-hammadiyah Din Syamsudin, ini terjadi lantaran adanya pem-biaran oleh negara.
Dikatakannya, setiap keru-suhan yang tidak langsung dikendalikan akan membawa dampak kerusuhan selanjutnya. Karena itu, diharapkannya ne-gara selalu hadir dalam setiap masalah bangsa. “Dalam posisi ini, saya mendambakan agar negara itu hadir. Setiap masalah kebangsaan terjadi kan karena negara tidak hadir, “ ujarnya. [] helmy akbar/ berbagai sumber
|