|
Untuk membangun masjid sangat sulit, sementara gereja ada di mana-mana.
Kabupaten Kepulauan Mentawai berada di Provinsi Sumatera Barat. Biasanya, orang menduga orang Minang identik dengan Islam. Kabupaten ini pengecualian. Justru di kepulauan ini jumlah kaum Muslim minoritas. Terbanyak adalah penganut animisme dan Kristen.
Tsunami beberapa waktu lalu telah menyapu bagian pantai pulau-pulau di sana. Lebih dari 400 orang tewas dan hilang. Ratusan rumah hancur. Kondisi yang sangat jauh dari daratan Sumatera membuat warganya terbengkalai beberapa saat.
Menurut pengakuan warga di Pasapuat kepada relawan HTI, pemerintah terkesan lalai dan lambat dalam menangani bencana. Tidak ada solusi alternatif yang jitu menangani para korban cepat.
”Sehari sebelum ada relawan yang masuk ke daerah kami, kami tinggal di pondok dan makan dengan ubi dan pisang yang ada di kebun. Pakaian dan selimut serba terbatas. Pemerintah terkesan tidak peduli dengan kita. Bahkan yang menyedihkan lagi pemerintah mengatakan bahwa bencana masih bisa diatasi tanpa perlu campur tangan bantuan dari luar, terkesan pe-merintah di sini ingin membunuh kita” ujar Suherman, warga Pasapuat.
Masyarakat Muslim di sana pun berharap mereka memperoleh perhatian. Ustadz Muslim, seorang mubalig di Sikakap menuturkan, “Kondisi kita di sini sangat tragis. Komunikasi susah, transportasi biayanya mahal dikarenakan medan berat, birokrasi sulit, semua penuh dengan ketidakpastian dan ketidakadilan,” ungkapnya.
Ia mencontohkan, ketika mengajukan proposal pembangunan masjid, dua sampai tiga tahun baru cair dananya dan itupun sangat kecil. Ini jauh berbeda jika dibandingkan dengan pembangunan gereja. ”Makanya tidak aneh di sini kita menemukan gereja yang begitu banyak dan megah jika dibandingkan dengan kondisi mushala dan masjid yang memprihatinkan,” paparnya.
Kondisi ini terjadi karena birokrasi dikuasai orang-orang non Muslim. Tak heran dakwah di sana sangat sulit karena banyak keterbatasan. Muslim berharap, ada bantuan berupa dai dan sarana transportasi untuk mengembangkan Islam di Kabupaten ini.
Sambutan Hangat Warga Muslim begitu ha-ngat menerima relawan HTI. Di Pasapuat, para relawan berbaur dengan warga membantu kebutuhan mereka, mengadakan tausiyah, menghibur anak-anak, dan menyalurkan bantuan logis-tik berupa selimut, mukena, tikar, kelambu, dan sembako.
Dalam program mental recovery di SDN 11 Saumanganyak dan di Masjid Mujahidin Pasapuat, ternyata yang hadir tidak hanya kaum Muslim tapi juga orang non Muslim. Kaum non Muslim mendengarkan tausiyah di luar masjid.
Khairudin Nasution, tokoh masyarakat setempat berharap relawan HTI bisa melakukan pembinaan intensif ke depan karena selama ini agenda dakwah tidak berjalan normal di daerah tersebut. Bahkan ia menjanjikan tempat tinggal kepada relawan yang mau tinggal di daerah tersebut untuk membina masyarakatnya.
Masyarakat pun punya perhatian khusus terhadap relawan HTI. Di tengah kesulitan akibat bencana, mereka masih sempat-sempatnya mengantarkan pisang, nangka, dan ikan hasil tangkapan di pantai kepada para relawan HTI. Mereka pun secara bergantian mengajak para relawan berkunjung ke rumahnya untuk makan bersama.
Dekatnya hubungan relawan dan warga terlihat ketika relawan HTI berpamitan kembali ke Padang. Sebagian warga menangis. Tidak hanya orang dewasa, kesedihan itu terlihat pada anak-anak yang setiap harinya mengikuti program mental recovery khusus anak. Namun ketika para relawan berjanji akan kembali untuk mendampingi mereka, mereka pun gembira mendengarnya. Semoga Allah memudahkan![] rozi saferi/ mujiyanto
|