|
[53] Proyek Gereja dan Kelompok Liberal di Medan: Pluralisme! |
|
|
|
|
Wednesday, 13 April 2011 17:31 |
|
Mereka ingin menanamkan pluralisme yang kufur kepada para pemuda Muslim.
Diam-diam sebuah kegiatan yang bertajuk Kamp Damai Medan berlangsung 2-6 Februari 2011 lalu. Sumber Media Umat mengungkapkan, kegiatan ini merupakan kerja sama yang dilakukan dengan itikad baik dan membangun oleh para pemuda dan pemudi Muslim dan Nasrani.
Kegiatan ini bertujuan, pertama, agar para pemuda dan pemudi Muslim dan Nasrani memahami bahwa perbedaan itu berasal dari Allah sehingga dapat mencintai perbedaan dan memiliki sikap yang benar dalam menghadapinya. Kedua, tercipta-nya hubungan jangka panjang yang harmonis antara pemuda dan pemudi Muslim dan Nasrani yang berbeda latar belakang suku dan budaya dasar. Ketiga; terciptanya generasi yang memiliki pola pikir yang maju dan tidak dibatasi oleh perbedaan.
Acara ini berlangsung di Training Center Sayum Sabah, Kecamatan Sibolangit. Target peserta di awal adalah 50 orang, tetapi hanya mampu merekrut 34 orang (17 Muslim, 17 Nashrani). Peserta yang hadir mahasiswa dan mahasiswi dari Universitas Sumatera Utara (USU) Universitas Negeri Medan (Unimed), Institut Negeri Islam Medan (IAIN). Peserta ada yang S1 maupun S2. Ada lima orang pendeta gereja menjadi narasumber ditambah beberapa orang dari MUI Medan, dosen IAIN dan mahasiswa Pas-casarjana IAIN.
Penelusuran Media Umat di lapangan, memperoleh informasi bahwa satu donasi dan jaringan besar internasional acara Kamp Damai adalah United Angelican Mission (UAM) dengan pimpinan untuk wilayah Asia Pasifik bernama Murthado (War-ga Negara Philipina). Para peserta nantinya akan diajak ke Filipina pada Juli mendatang sebagai follow up.
Kamp Damai sendiri juga mendapat sumbangan dana dari Gubernur Sumut sebanyak Rp 5 juta, UAM Rp 5 juta dan beberapa LSM, salah satunya persatuan gereja-gereja di Jerman.
Salah satu tindak lanjut kegiatan itu dalam jangka pen-dek adalah melalui Forum Keru-kunan Umat Beragama (FKUB). Forum itu mengundang mantan peserta Kamp Damai selama dua hari menginap di Hotel Semarak Medan untuk membicarakan program-program FKUB yang se-suai dengan acara Kamp Damai yang telah diselenggarakan. Terungkap, FKUB mempunyai komitmen untuk membangun formula pemuda lintas agama sehingga mereka juga akan men-jadi kader (anggota) di bawah lembaga FKUB Medan. Saat ini FKUB diketuai oleh DR. Syahrin (Dosen Ushuluddin IAIN-SU) dan sedang gencar melantik ketua-ketua di cabang mereka yg dibentuk di tiap-tiap daerah di pelosok Medan.
Penggagas acara di atas adalah Interfaith Forum, NGO baru berbasis di kampus IAIN SUMUT atas prakarsa, Dr. Phill. Zainul Fuad. MA. (Directur Plura-lism, Democracy and Human Rights). Dan FKPMI, forum komu-nitas pemuda Nasrani Sumut. Lembaga American Corner IAIN Sumut juga turut membiayai. Mereka punya target kota Medan sebagai ikon kota pluralisme yangg bisa dicontoh.
Realitas yang beragam dalam aspek ras, adat, budaya dan keyakinan dijadikan alibi oleh para pengusung pluralisme akan pentingnya dialog antar keyakinan untuk menumbuhkan sikap toleran. Tapi sangat disa-yangkan, cara pandang seperti ini lebih karena melihat Islam sebagai ancaman terhadap keberagaman.
Semangat pluralisme yang diemban tidak lebih sebagai upaya membangun si-kap dan pemikiran yang meng-hilangkan prinsip dan kepri-badian yang dituntut sebagai seorang Muslim. Karena target utama adalah para generasi Islam dan upaya ini melibatkan para “ulama cash” alias orang yang ngaku alim tapi bisa dibeli dan memperjual belikan prinsip-prinsip Islam. Na'udzubillah.[] hau
|