| [56] Rencana Pembangun PLTN Babel Ada Bau Konspirasi Asing |
|
|
|
| Tuesday, 12 July 2011 17:47 |
|
Rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Kepulauan Bangka Belitung dipertanyakan sejumlah pihak sebab sarat dengan kepentingan kapitalis asing yang berkaloborasi dengan kapitalis lokal. Hal itu terungkap dalam Fokus Group Discusion (FGD) tentang PLTN yang diselenggarakan oleh PWNU Babel bersama HTI Babel di Bangka, Sabtu Diskusi tersebut dihadiri sejumlah tokoh seperti mantan Gubernur Babel Hudarni Rani, Khatib Sur'iyah PWNU Babel Abdul Latif Somat, akademisi, Seperti diketahui, rencana pembangunan PLTN di Bangka Belitung mendapat penolakan dari sebagain besar masyarakat karena dinilai sarat kepentingan asing dan tidak ada jaminan akan aman. Apalagi pasca meledaknya reaktor PLTN di Fukushima Jepang. Agus mengatakan dari aspek hukum, teknis, sosial politik dan komersil, PLTN tidak logis dibangun. Ia menampik bahwa nuklir adalah sumber energi yang Di samping itu secara legal, jika berbicara energi, teknis pendirian PLTN semestinya bukan kewenangan Batan. “Yang memiliki kewenangan sebagai provider itu PLN. Memang PLN boleh membeli dari independent power producent, yakni pihak swasta,” katanya. Agus merasa dalih sejumlah pihak akan ada transfer ilmu mengenai nuklir sangat tidak mungkin terjadi. Malah yang ada akan terjadi ketergantungan pada pihak asing yang menjadi penguasa teknologi nuklir. Sementara itu Sumantri dari IPNU Babel menuturkan, fakta yang diketahui masyarakat adalah dampak dari PLTN yakni radiasi. Sebagian masyarakat Sedangkan Sofyan Rudianto menjelaskan, Indonesia wajib mempelajari teknologi nuklir karena ini sangat penting. Hanya saja untuk saat ini pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Bangka Belitung harus benar-benar dipertimbangkan. Pasalnya belum ada jaminan atau garansi dari pemerintah kalau PLTN lebih besar manfaatnya daripada mudharatnya. Menurut Rudianto, rencana PLTN di Babel, justru akan membuat kedaulatan energi Indonesia tergantung pada asing. Ia mengutip pernyataan Dr Sarwiyana Sataratenaya, Kepala Pusat Pengembangan Energi Nuklir Batan bahwa bahan baku reaktor PLTN yang direncanakan adalah hulu ledak nuklir yang sudah dilucuti dan akan dibeli dari eks Uni Soviet atau negara lainnya. ”Yang membangunnya pun adalah vendor asing. Yang jelas mereka ingin untung. Jadi PLTN ini bukan untuk pelayanan kepada rakyat tapi untuk kepentingan komersialisasi dan Indonesia akan tergantung pada asing,” paparnya. Dengan menilik fakta tersebut maka energi murah bahkan gratis untuk rakyat jauh panggang dari api. Belum lagi soal politik internasional yang membonceng dalam pembangunan PLTN. "Pada hakikatnya sebuah ilmu pengetahuan itu adalah mubah dan nuklir termasuk mubah. Namun untuk PLTN kita lihat masih banyak mudharatnya, daripada manfaatnya sehingga bisa mengarah menjadi haram," kata Rudianto. Kepentingan ThoriumAgus menduga ada kepentingan lain dari sekelumit rencana pembangunan PLTN. Kepentingan itu yakni atas dasar penguasaan bahan bakar masa depan yakni thorium atau yang lebih terkenal dengan Logam Tanah Jarang (LTJ). "Bangka Belitung memiliki kandungan aset yang besar, limbah timah yang disebut tailing itu ternyata punya nilai yang luar biasa. Mineral ikutan dari timah ini diproses dengan teknologi (diperkaya) yang kemudian disebut thorium TH 323, ini merupakan komoditas masa depan," katanya. LTJ yang merupakan derivatif dari timah, selama ini tidak dikenal oleh masyarakat awam dan sering dilihat sebagai limbah. Padahal, menurutnya, limbah tersebut lebih berharga dari emas untuk teknologi masa depan. Diungkapkannya, LTJ atau thorium menjadi incaran negara-negara asing di mana itu sangat dibutuhkan. Thorium ini selain untuk bahan bakar PLTN juga bisa untuk kepentingan lain. Menurut laki-laki yang mengaku sudah puluhan tahun bergelut di bidang pertambangan batubara ini tidak menampik, kalau PLTN ini bukan sekadar Belakangan sejumlah pengusaha mewacanakan agar dapat mengekspor tin slag namun selalau gagal. Rudianto menduga soal rencana PLTN ada ”Maka hal ini harus dicegah. Sistem pertambangan kita harus ditata ulang sesuai dengan syariat Islam. Dan hal ini tidak mungkin kecuali oleh Khilafah,” katanya.[] fh dari berbagai sumber |




Di balik rencana pembangunan PLTN, ada niat menguasai sumber thorium yang besar di wilayah itu. 





