Banner
[57] Millata Abraham Guncang Aceh PDF Print E-mail
Tuesday, 20 September 2011 17:56

Aliran sesat ini tak menjalankan shalat lima waktu, cukup shalat malam sambil duduk menghadap lilin.

Banyak orang kaget, aliran sesat masuk ke Aceh. Soalnya, Serambi Mekah itu selama ini dikenal cukup kental dalam beragama. Ternyata, diam-diam aliran sesat telah berkembang di sana.

Di awal tahun ini, masyarakat Aceh digemparkan dengan adanya aliran sesat ’Millata Abraham’ –di beberapa daerah di luar Aceh disebut ’Millah Ibrahim’. Aliran sesat ini pertama terdeteksi berkembang di salah satu wilayah di Kabupaten Bireuen.

"Milata Abraham" dalam ajarannya meragukan kitab suci Alquran sebagai pedoman hidup umat Muslim. Mereka juga tidak memercayai hadits Nabi Muhammad SAW. Mereka juga mengharuskan pengikutnya hanya shalat satu kali sehari, yakni tengah malam dengan diterangi lilin.

Ketua MPU Kota Banda Aceh Tgk A Karim Syeikh, menjelaskan aliran ini menafsirkan Alquran menurut keinginan dan nafsu mereka dan tidak mengunakan kaedah-kaedah ilmu tafsir seperti kata "Ismi pada "bismillah" ditafsirkan dengan paham ideologi.

Mereka mengingkari hadist karena tidak diyakini sebagai sumber hukum kebenaran (sumber hukum ke dua setelah Alquran). Menurut mereka hadist terpecah-pecah kepada hadist shahih, hadis hasan, hadis dhaif dan hadist palsu. Selain itu, mereka juga mengingkari shalat lima waktu dan yang mereka akui adalah shalat malam yang dilaksanakan dengan posisi duduk dengan menghadap lilin yang telah dinyalakan dengan lampu yang telah dimatikan.

Aliran sesat ini pun tidak percaya Nabi Muhammad sebagai Nabi dan dan rasul Allah yang terakhir. Mereka meyakini masih ada nabi setelah Nabi Muhammad SAW.

MPU Kota Banda Aceh juga memutuskan bahwa aliran yang menamakan dirinya Millata Abraham dan aliran-aliran sejenisnya tergolong dalam aliran perusak akidah umat Islam, pemurtadan, penistaan atau penodaan agama Islam dan pengikutnya dinyatakan tergolong murtad.

Kelompok sesat ini menamakan dirinya Komunitas Millata Abraham (Komar). Februari lalu terungkap, anggota kelompok ini berasal dari kalangan terpelajar dan mahasiswa. Beberapa di antaranya adalah murid sekolah unggulan di Banda Aceh dan Aceh Besar.

Penyebar ajaran sesat ini adalah sekelompok anak muda berpendidikan. Mereka memang mengincar kalangan terdidik. Dalam aksinya mereka membawa bendera Kelompok Mukmin Mubaligh.

Informasi mengejutkan diungkapkan Wagub Muhammad Nazar dalam rapat khusus lanjutan di ruang kerja Wagub Aceh, Selasa (5/4). “Nah, berdasarkan temuan ormas Islam Inshafuddin, setiap orang yang masuk aliran Millah Abraham digaji Rp 15 juta sebulan,” kata Wagub Muhammad Nazar kepada wartawan.

Makanya, kata Nazar, mereka merekrut keluarga kurang mampu dan bukan tidak mungkin kalau di Aceh mereka tidak bisa bergerak, bisa jadi mereka akan membawa pengikutnya ke luar Aceh.

Masyarakat memperkirakan, aktivitas aliran sesat itu berkembang sejak 2005 atau setelah Aceh diguncang bencana gempa dan tsunami pada 26 Desember 2004. Saat itu Aceh sangat terbuka bagi siapa saja. Semua bisa masuk ke Aceh meski pada awalnya berbendera misi kemanusiaan.

Meresahkan

Berkembangnya aliran sesat ini meresahkam masyarakat. Sekitar 100 guru di Banda Aceh menyatakan menolak aliran Millah Abraham berkembang di Aceh. Mereka juga meminta pengikut aliran yang diduga sesat tersebut diusir dari provinsi yang memberlakukan Syariat Islam itu.

Penolakan itu mereka sampaikan di Banda Aceh, Senin (4/4) dalam pertemuan antara guru dan elemen masyarakat di kantor Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Aceh. “Kita tidak mau keyakinan anak didik kita rusak gara-gara aliran sesat tersebut, kita harus menolaknya dan pemerintah harus membasmi aliran Millah Abraham dari Aceh,” kata Ketua PGRI Aceh Ramli Rasyid.

Ramli juga menyebutkan, orang-orang yang merusak akidah orang lain tidak boleh hidup di Aceh karena selama ini Aceh cukup aman dalam beragama. Mereka juga tidak mau kehidupan beragama di Aceh diusik oleh aliran sesat.

Masyarakat sendiri sempat marah dengan adanya aliran sesat ini. Zainuddin, 55, warga Prada, Kecamatan Syiah Kuala, Banda Aceh, nyaris diamuk massa karena disinyalir sebagai pimpinan Millah Abraham atau Mukmin Mubaligh Aceh. Ia dan dua pengikutnya kini diamankan di Mapolersta Banda Aceh.

Sebelumnya Zainuddin sempat dipertemukan dengan MPU dan perwakilan Pemko Banda Aceh serta ratusan warga di Masjid Al Hidayah. Dalam pertemuan ini, Zainuddin dicerca sejumlah pertanyaan. Di antaranya soal perintah shalat satu kali sehari semalam serta keterkaitan dirinya dengan Ahmad Musadeq, pria yang mengaku sebagai rasul terakhir.

Saat itu Zainuddin menolak untuk menjawab pertanyaan seputar ibadah Millah Abraham. Namun dirinya mengakui sebagai pimpinan tertinggi dari aliran Millah Abraham di Aceh yang salah satu pimpinannya di Jakarta adalah Ahmad Musadeq. [] emje dari berbagai sumber

Waspada, Jangan Curiga

 

Sebuah diskusi digelar HTI DPD I Aceh, Ahad 20 Maret 2011, di Aula Dinas Syariat Islam. Diskusi ini bertema:  “Aliran sesat mengguncang negeri syariat.” Halqah Islam dan Peradaban (HIP) ini menghadirkan pembicara Prof Muslim Ibrahim (Ketua MPU Aceh), Khairurrazi MPd (Kepala Sekolah SMA 10 Fajar Harapan), dan Thoriq Abu Askar (DPD I HTI Aceh).

 

Prof Muslim Ibrahim mengemukakan dari 13 kriteria aliran sesat, Millata Abraham terkategori sesat. Alasannya, aliran itu mengingkari kewajiban shalat, mengajarkan ada nabi sesudah Nabi Muhammad dan ingkar sunnah.

 

Khairurrazi mengungkapkan, ada bekas siswanya yang ikut aliran tersebut. Itu disebabkan  teknik dakwah mereka yang mengena di kalangan remaja. Ia menegaskan, pihaknya tidak pernah menanamkan pemikiran sesat. ”Yang ikut aliran sesat adalah alumni-alumni kami yang telah lepas dari kontrol kami.”

 

Thoriq Abu Askar menjelaskan akar masalah maraknya aliran sesat karena lemahnya pemahaman umat terhadap Islam. Selain itu, ada propaganda kaum kufar yang hendak menghancurkan Islam. Dan yang tak bisa dipungkiri adalah tidak diterapkannya syariat Islam secara kaffah di bawah naungan Khilafah.

 

Berkembangnya aliran sesat ini, menurutnya, perlu diwaspadai, tapi jangan sampai menghancurkan persatuan umat Islam. ”Jangan sampai saling curiga mencurigai setiap pengajian karena kalau umat phobia untuk mengaji, umat Islam sendiri yang akan rugi,” tandasnya. [] emje

 

Untuk menambah keberkahan, disarankan untuk menyebarkan artikel pada situs ini dengan menyebutkan URL sumbernya.

Developed by SmileBizMedia. All rights reserved