|
Di tengah kampanye global warming dan go green, juragan rokok tetap jadi orang terkaya di Indonesia.
Di penghujung 2009, Presiden SBY mengajak masyarakat untuk mewaspadai dan mengantisipasi global warming (pemanasan global). Fenomena alam ini dituding sebagai biang keladi bencana alam yang melanggani Indonesia seperti di seputar pergantian tahun masehi. Terutama banjir dan tanah longsor.
Global warming memang membuat es kutub mencair, sehingga Jakarta misalnya, 40 persen bagiannya berada di bawah permukaan air laut. Ditambah lagi buruknya tata kota, membuat lalulintas Jakarta diramalkan tahun 2015 akan lumpuh total.
Yang tak serius diperhitungkan, pemanasan global dise-babkan polusi asap rokok. Selain membahayakan manusia peng-hisapnya, terutama yang pasif, rokok juga turut membolongi la-pisan ozon. Inilah yang turut memicu global warming.
Ironisnya, tatkala Presiden SBY teriak-teriak soal global warming, orang terkaya di ne-gerinya sendiri tidak lain adalah juragan produk penyumbang terjadinya pemanasan global.
Pada 3 Desember 2010, Majalah Forbes Indonesia merilis Daftar 40 Orang Terkaya di Indonesia. Jawaranya adalah bos perusahaan rokok Grup Djarum, Robert Budi dan Michael Hartono, dengan kekayaan US$11 milyar atau Rp99 trilyun.
Tahun lalu, mereka menem-pati posisi yang sama dengan kekayaan US$ 7 milyar. Mereka pun merangsek ke peringkat 430 dalam Daftar 731 Miliuner Dunia versi Forbes, yang tahun 2009 memuat tiga nama dari Indo-nesia.
Itu menunjukkan bahwa Indonesia surga perokok. Diperkirakan, konsumsi rokok Indo-nesia tiap tahun 199 milyar batang, dan berada di urutan ke-4 setelah RRC (1.679 milyar batang), AS (480 milyar), Jepang (230 milyar), serta Rusia (230 milyar).
Dalam kurun 2004-2008, produksi rokok Indonesia tiap tahun meningkat yaitu 194 milyar, 202 milyar, 220 milyar, 226 milyar dan 230 milyar batang. Laju peningkatan ini bahkan melebihi laju peningkatan jumlah penduduk.
Jumlah uang yang dibe-lanjakan penduduk Indonesia untuk tembakau/rokok 2,5 kali lipat dibandingkan biaya untuk pendidikan dan 3,2 kali lipat biaya kesehatan.
Dalam APBN Perubahan 2005 penerimaan cukai dipatok Rp 31,439 trilyun atau 1,2 persen dari Produk Domestik Bruto. Angka ini lebih tinggi Rp 2,506 trilyun atau 8,7 persen dari sasa-ran penerimaan cukai dalam APBN senilai Rp 28,933 trilyun. Jika dibandingkan dengan reali-sasi penerimaan tahun 2004 Rp 29,172 trilyun, maka sasaran pe-nerimaan cukai tahun 2005 me-ningkat Rp 2,267 trilyun atau 7,8 persen.
Ketagihan pada pendapatan cukai rokok, pemerintah dalam ''Roadmap Industri Hasil Tembakau dan Kebijakan Cukai tahun 2007-2020″, menggenjot produksi rokok. Jika produksi pada 2007-2010 mencapai 240 milyar batang, maka akan dike-but sampai 260 milyar batang pada kurun 2015-2020 mendatang.
Yang paling diuntungkan dari bisnis rokok se-Indonesia tak lain adalah bos rokok kelas kakap.
Pada tahun 2006 Bos Gudang Garam dan Djarum juga masuk jajaran 746 orang paling kaya dunia. Dalam daftar yang dirilis Forbes pada 10 Maret 2006 tentang peringkat orang kaya pada semester I 2006, Bos Gu-dang Garam Rachman Halim berada dalam urutan 410 dengan kekayaan US$ 1,9 milyar. Sedang-kan Bos Djarum, R Budi Hartono, di peringkat 428 dengan keka-yaan US$ 1,8 milyar.
Philip Morris International, pada 2004 memborong saham Putera Sampoerna sebanyak 40 persen dengan Rp 18,6 Trilyun. Ini mengantarkan Putera Sampoer-na sebagai orang terkaya pering-kat ke-387 dari 500 orang terkaya di dunia menurut Majalah Forbes tahun 2005.
Tahun sebelumnya, dari bisnis rokok HM Sampoerna memperoleh pendapatan bersih Rp 15 Trilyun. Dia jadi orang kaya peringkat ke-13 dalam Southeast Asia's 40 Richest 2004 versi majalah Forbes.
Kejayaan para juragan rokok, ditumbali oleh derita jutaan wong cilik. Survei sosial dan ekonomi nasional 1995 dan 2001 menunjukkan, persentase perokok di desa lebih tinggi diban-ding di kota. Menurut survei Bappenas (1995) orang miskin mengalokasikan sampai 9 persen pendapatannya untuk rokok. Dana BLT (bantuan langsung tunai) yang memenangkan SBY dalam pilpres pun, 70 persen digunakan kaum miskin penerimanya untuk membeli rokok.[] ta
|