|
ExxonMobil kembali akan berkuasa di Natuna setelah Obama datang ke Indonesia.
Kabar buruk datang dari Natuna. Setelah tahun 2005 pemerin-tah menolak perpan-jangan kontrak eks-ploitasi gas Natuna oleh Exxon-Mobil, eh tahun ini justru Pertamina yang dipercaya pemerintah malah menyerahkan Blok Natuna Timur (Natuna D-Alpha) ke ExxonMobil juga.
Pada 3 Desember 2010 lalu Pertamina menandatangani Head of Agreement (HoA) rencana pengembangan Blok Natuna Timur dengan ExxonMobile, me-nyusul Perjanjian Kemitraan Komprehensif Amerika-Indonesia yang ditandatangani Presiden Obama-Presiden SBY pada 10 Nopember 2010 di Jakarta.
Reputasi ExxonMobile sejak 1980 di tempat itu sangat buruk. Selama 25 tahun perusahaan Amerika itu tak melakukan eks-ploitasi. Dan yang mengagetkan, dalam ketentuan kontrak bagi hasil itu Indonesia memperoleh bagi hasil sebesar nol persen. Semuanya diambil Exxon.
Kenyataan inilah yang membuat beberapa pihak bersuara lantang. Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) berharap pengelolaan minyak dan gas bumi (migas) di Blok Natuna Timur (Natuna D-Alpha) tidak dikuasai asing.
JK mengatakan, pemerintah harus mengevaluasi setiap kebijakan yang dikeluarkan serta memperhatikan betul setiap detil kontrak kerja sama migas. Apabila tidak menguntungkan, pemerintah harus tegas mem-batalkan.
“Soal Blok Natuna ini, mengundang pihak asing untuk bekerja sama tidak masalah, tapi Chief-nya tetap Pertamina,” kata JK pada seminar bertajuk Blok Natuna dan Kedaulatan Negara di Gedung DPR, beberapa waktu lalu.
Menurut JK, tidak ada yang kurang dari negeri ini. Sumber daya alam ada, uang juga banyak. “Belajar dari pengalamanlah, jangan semuanya dikuasai asing. Pertamina juga harus didukung jadi operator. Kalau Pertamina tidak bisa menjadi operator penuh, bubarkan saja, “ tegas JK.
Di tempat yang sama, Direktur Pembinaan Usaha Hulu Migas Kementerian ESDM Edi Hermantoro menegaskan, pihaknya sudah menyerahkan surat kon-trak kerja sama Blok Natuna kepada Pertamina, sekaligus un-tuk mencari partner terkait pe-ngelolannya. “Tapi kalau itu dikuasai 100 persen oleh Per-tamina juga bisa kok,” ungkap Edi.
Ekonom Iman Sugema me-ngatakan, yang dibutuhkan pe-merintah saat ini hanyalah kepercayaan diri yang besar untuk mengelola sendiri sumber daya alam. Ia memastikan, Indonesia tidak kekurangan modal. Tek-nologi juga tidak bisa dijadikan alasan. ”Yang harus dilakukan pemerintah saat ini cuma pede (percaya diri) saja, kasih kepercayaan Pertamina untuk mengelola penuh, baru persoalan-nya akan clear. Kalau itu saja tidak mampu dilakukan, ya sudah lupakan saja negara ini,” jelasnya.
Menurutnya, sangat bodoh kalau pemerintah terus meng-obral lokasi sektor strategis kepada pihak asing. Sebab, dampaknya masyarakat dan industri kini semakin kesulitan memperoleh energi murah dan bersih.
Sementara itu, Direktur Eksekutif Indonesian Resources Studies (IRESS) Marwan Batubara berharap pengalaman di Blok Cepu tidak terulang kembali pada Blok Natuna.
Kalangan DPR sendiri men-dukung Pertamina sebagai satu-satunya operator di Blok Natuna. Anggota Komisi VI DPR Chandra Tirta Wijaya menegaskan, po-tensi ekonomi pada Blok Natuna Timur mencapai Rp 6.036,08 trilyun dengan laju ekstraksi 0,5 TCF pertahun. Potensi blok migas tersebut bisa dieksplorasi sampai 92 tahun mendatang dan menyimpan sekitar 500 juta barel minyak.
“Kita harus waspada pada daerah yang kaya akan sumber daya alam melimpah. Jika tidak mampu mengelola dengan baik, justru akan mengganggu keda-ulatan negara,“ ujarnya.
Vice President Corporate Communication Pertamina M Harun seperti dikutip Rakyat Merdeka, mengatakan, pihaknya saat ini sudah dalam proses seleksi untuk mengelola Blok Natuna. Menurutnya, berpartner dengan perusahaan mana pun suatu yang lumrah. Ia menegas-kan, Pertamina yang akan men-jadi leader-nya. Benar atau sekadar omong kosong?[] emje
|