| [54] Mengapa Miranda Untouchable? |
|
|
|
| Wednesday, 01 June 2011 14:15 |
|
Allah SWT melaknat penyuap, penerima suap, dan perantara keduanya.” Demikian peringatan Nabi Muhammad SAW dalam hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad, Thabrani, Al Bazzar, dan Al Hakim. Tapi di Indonesia, meski semua pelaku dan perannya jelas, hanya penerima suap yang jadi pesakitan. Contohnya dalam kasus suap pemilihan Deputi Sejak dinyanyikan politisi PDIP Agus Condro, skandal suap tersebut telah menjebloskan 26 anggota dan mantan anggota DPR 2004-2009 sebagai tersangka penerima suap pemilihan Deputi Senior Gubernur Bank Indonesia Miranda Swaray Gultom. Komisi Hukum DPR “membalas” tindakan KPK tersebut dengan cara menolak kehadiran Bibit dan Chandra yang dianggap masih berstatus tersangka kendati kasusnya sendiri telah dikesampingkan (deponeering) oleh Kejaksaan Agung. Anehnya, Miranda Goeltom dan Nunun Nurbaety yang disebut-sebut sebagai kran duit suap, sampai detik ini masih aman dari jerat hukum. Menurut pengamat politik LIPI, Syamsuddin Haris, Miranda untouchable karena dia memegang kartu skandal Century. Skandal Century, lanjut Haris, bersama mafia pajak Gayus Tambunan dan kasus suap yang diduga diterima para politisi DPR sebenarnya hanya puncak dari gunung es kebobrokan sistemik proses politik yang mendera bangsa kita selama ini. Kebobrokan itu pada dasarnya berpusat pada kecenderungan para elite politik dan penyelenggara negara untuk saling menyelamakan kepentingan politik busuk mereka masing-masing. Karena itu tidak mustahil tiga kasus besar ini bukan hanya terkait satu sama lain, tetapi juga melibatkan pertarungan tiga partai politik besar, yakni Demokrat, Golkar, dan PDI Perjuangan. Haris menjelaskan, Partai Golkar sangat bernafsu membongkar skandal Century karena diduga melibatkan Partai Demokrat terkait pendanaan kampanye Pemilu 2009. Sedang Partai Demokrat, antara lain melalui Satuan Tugas Pemberantasan Mafia Hukum yang dibentuk Presiden, berkepentingan menyeret keterlibatan tiga perusahaan Aburizal Bakrie, Ketua Umum Golkar, yang diduga sebagai penyuap terbesar di balik kasus Gayus.Sementara itu PDI Perjuangan sangat berharap agar KPK lebih fokus membongkar skandal Century dan kasus Gayus ketimbang kasus cek pelawat yang melibatkan semua anggota Komisi Keuangan dan Perbankan DPR 2004-2009 dari pihak mereka. Parpol besar tidak hanya saling menyandera di antara mereka, melainkan juga menyandera KPK. Bagi Partai Demokrat skandal Century telah Hal itu secara eksplisit tercermin dari ucapan Ketua DPR Marzuki Alie yang meminta anggota dewan yang tersangkut kasus dugaan suap pemilihan Miranda Goeltom untuk mengundurkan diri. "Kalau mereka mendorong Pak Boediono mundur, kemudian mereka sendiri tidak mundur, kan tidak realistis? Kita tidak meminta demikian, tapi begitu yang terjadi," kata Marzuki di DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (9/3/2010). ”Masyarakat sudah muak dengan sikap parpol yang saling main sandera satu sama lain sehingga kasus Century, mafia pajak dan cek pelawat serta kasus korupsi lain tidak kunjung dituntaskan. Semua kasus itu harus dibongkar sampai tuntas,” tegas Zaenal Arifin Muchtar, Direktur Pukat FH-UGM. Inilah wajah khas demokrasi kapitalisme, di mana uang dan kepentingan politik mengendalikan hukum. Wajar bila tuntutan Ganti Sistem Ganti Rezim pun semakin menggema.[] taqiyuddin albaghdady |




Nyanyiannya dikhawatirkan mengancam elite Partai Demokrat dan RI-2.





