| [55] Basa-Basi ala Koalisi |
|
|
|
| Thursday, 07 July 2011 15:19 |
|
Pembentukan panitia khusus (Pansus) pajak di DPR akhirnya kandas. Partai Demokrat yang menjadi salah satu motor penggerak pembentukan Pansus Pajak justru di tengah jalan menjadi penjegal terbentuknya pansus tersebut. Melalui voting, DPR terbelah dua. Barisan penolak terbentuknya pansus memenangi pertarungan dengan selisih dua suara. Dua partai pendukung Sekretariat Gabungan—koalisi partai pendukung pemerintah— yakni Partai Golkar dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) terancam terkena sanksi karena partai tersebut berada di pihak yang berlawanan dengan Partai Demokrat, PAN, PKB, PPP. Para petinggi partai berlambang bintang mengancam akan mendepak para kader kedua partai dari Kabinet Indonesia Bersatu II. Hampir selama dua pekan, masyarakat disuguhi rencana perombakan koalisi dan kabinet. SBY pun memberikan sinyal untuk menghukum kedua partai itu. Eh, setelah SBY bertemu dengan Ketua Umum DPP Partai Golkar Aburizal Bakrie, semuanya berubah. Tak ada copot mencopot menteri atau mengubah format koalisi. Pengamat kebijakan publik Ichsanudin Noorsy menilai, ini adalah sebuah keberhasilan pemerintah SBY. Dengan isu reshuffle, pemerintah berhasil Di sisi yang lain, kata Noorsy, ini juga menunjukkan kegagalan SBY membangun kabinet yang sesuai dengan amanah konstitusi. SBY menggelindingkan isu reshuffle hanya demi kepentingan kekuasaan. “Ketika Golkar sudah kenyang kekuasaan dan tidak lapar kekuasaan justru di situ Demokrat sebagai partai pemenang menjadi tidak punya harga, tidak punya gengsi. Di situ isunya SBY langsung kalah,” jelasnya. Dalam pandangan pengamat politik Ikrar Nusa Bakti, orang-orang Demokrat terlalu terburu-buru dan tidak memperhitungkan apa yang akan terjadi. Partai yang semula berkoar-koar akan keluar koalisi pun akhirnya bersorak gembira, meski tak ditunjukkan di muka umum. Tak dipungkiri, kata Noorsy, partai-partai sangat takut kehilangan jabatan. Dalam panggung politik, terutama panggung politik praktis dan pragmatis, kursi kekuasaan adalah mesin produksi. “Ketika mereka kehilangan kekuasaan maka mereka kehilangan mesin produksi, maka mereka tidak mau kehilangan kekuasaan itu. Nah itu kan karena kekuasaan menjadi tujuan,” paparnya. Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Rohmin Dahuri menilai partai tersebut hanya berorientasi duniawi, tidak ada sedikit pun akhirat. “Kalau mereka meyakini bahwa akhirat itu ada dan meyakini itu sebagai kehidupan yang hakiki dan abadi tentunya mereka tidak pernah mengukurnya dengan keberhasilan duniawi,” jelasnya. Menurut Noorsy, saat ini tidak ada partai Islam. Yang ada partai yang berbasis massa Islam. Sebab mereka tidak bicara Islam karena mereka menggunakan cara berpikir Barat yang berbasis kapitalis materialis. Karena itu, bagi Noorsy, saat ini tidak ada lagi partai politik yang bisa dipercaya untuk memperjuangkan kepentingan rakyat. Semua cuma basa-basi.[] emje |




Partai-partai hanya mementingkan kekuasaan sebagai mesin produksi bagi mendapatkan uang. 





