| [56] Ahmadiyah Dikekang Amerika Meradang |
|
|
|
| Tuesday, 12 July 2011 17:27 |
|
"Belum merespon secara langsung tapi tentu akan dijawab,'' ucap Juru Bicara Presiden, Julian Aldrin Pasha, di Kantor Presiden (24/3) mengenai surat dari 27 anggota Kongres Amerika Serikat (AS) yang membela Ahmadiyah. Surat desakan itu dikirim melalui Kedutaan Besar Republik Indonesia di Washington pada Selasa (15/3). Masya Allah! Sampai sepuluh hari Presiden SBY belum juga turun tangan langsung untuk mereaksinya. Padahal, isi surat tersebut merupakan bentuk intervensi yang sangat telanjang terhadap pemerintahannya. Dalam surat itu, para anggota kongres AS menyatakan prihatin atas keputusan pemerintah, khususnya pemerintah daerah, dalam menyelesaikan kasus Ahmadiyah. Mereka meminta Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk mencabut SKB Menteri Agama, Jaksa Agung, dan Menteri Dalam Negeri No 3/2008 tentang Jemaat Ahmadiyah Indonesia. Perda larangan Ahmadiyah yang diterbitkan sejumlah provinsi seperti Jawa Timur dan Jawa Barat, juga mereka persoalkan. Menurut pengamat politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Hermawan Sulistyo, surat dari gerombolan anggota Kongres Amerika itu merupakan pembenaran bahwa Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) di-back up kekuatan asing. Justru dengan surat tersebut, ''orang kan ngomong kalau mereka benar didukung asing," tandas Kiki, usai diskusi di Warung Daun, Cikini, Jakarta, Sabtu (19/3/2011). Menurut Jubir HTI, Ismail Yusanto, dukungan asing pada Ahmadiyah bukan barang baru. Ia merujuk pada informasi yang diungkapkan Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Departemen Agama, Prof Nasarudin Umar, tiga tahun lalu. Saat itu, Nasarudin menyatakan ada empat negara asing yang meminta agar Ahmadiyah tidak dibubarkan. "Memang ada empat negara yang mengimbau agar Ahmadiyah tak dibubarkan. Yaitu dari Amerika Serikat, Inggris, Kanada, dan satu lagi saya lupa. Suratnya ditujukan ke Menteri Agama dan ada tembusannya ke saya," ujar Nasarudin, di Jakarta, 25 Februari 2008. Menanggapi surat ke-27 anggota Kongres AS, Ketua Umum Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab menilainya sebagai tekanan terhadap Indonesia. Melalui SMS kepada wartawan pada Sabtu (19/3) Habib Rizieq menyerukan perlawanan terhadap intervensi Kongres AS. ''Kongres AS jangan sok tahu soal HAM, karena justru AS berdasarkan laporan Komisi HAM PBB merupakan negara pelanggar HAM terbesar di dunia,'' tulis Habib. PBB melalui Human Right Report 2002 dan Human Right Watch di New York, dalam laporannya 16 Januari 2002 menyimpulkan: "Amerika Serikat dan Saat Amerika Serikat yang disebut Khomeini ''Setan Besar'' merayakan Hari Kemerdekaan 4 Juli 2002, koran terkemuka Inggris, Daily Mirror, memuat artikel wartawan senior John Pilger sebagai headline. Dalam tulisannya, Pilger menyebut Amerika sebagai ''Negara Bajingan'' (Rogue State). Di bawah judul Pagi Hari pada Empat Juli, Pilger menyatakan korban sipil Afghanistan yang tewas akibat bom-bom yang dijatuhkan AS, jauh lebih Selepas serangan WTC 11/9, FBI menahan lebih dari 1.200 orang bukan kebangsaan Amerika, mayoritas muslim atau dari Timur Tengah. Kebanyakan ditangkap dengan alasan tinggal melebihi visa. Menurut UU mereka hanya boleh ditahan maksimal 48 jam. Prakteknya, orang-orang yang dicurigai sebagai teroris ditahan lebih dari sebulan. Habib juga menilai Amerika menggunakan standar ganda. ''Mereka membela aliran sesat Ahmadiyah di Indonesia, sementara di negerinya sendiri melarang sekte sesat semacam Kristen Mormon,'' kata Habib Rizieq. Selanjutnya ia mengingatkan Presiden SBY untuk tidak menjadi boneka Amerika dengan menuruti pesan surat anggota Kongres AS. Justru, katanya, Presiden harus segera membubarkan Ahmadiyah agar kasus ini tidak terus dijadikan barang dagangan para komprador antek asing. Toh kasus penodaan agama oleh kelompok sesat semacam Salamullah (Lia Aminuddin) dan Al Qiyadah Al Islamiyah (Nabi Palsu Ahmad Mushaddeq) bisa diselesaikan secara pidana. Sayangnya, Presiden RI telanjur mencintai Amerika. SBY saat berkunjung ke sana pernah menyatakan, ''I love the United States with all its faults. I consider it my second country'' (Al-Jazeera English Archive, 6 Juli 2004). Untuk cari aman, SBY tidak berani menerbitkan Keppres Pembubaran Ahmadiyah, tapi menyerahkan pada Pemda. Menurut Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof Din Syamsuddin, ini menunjukkan pemerintah pusat ingin cuci tangan. "Saya menilai ini adalah cara pemerintah pusat lari dari masalah dan melemparkan ke daerah," ujar Din di kantor PP Muhammadiyah, Jakarta Pusat, awal Maret lalu.[] ta Surat Jahanam ItuKepada yang terhormat Presiden Republik Indonesia H Susilo Bambang Yudhoyono Ditujukan melalui Kedutaan Besar Republik Indonesia 2020 Massachusetss Ave NW Washington, DC 20036 Bapak Presiden, Hari ini kami menuliskan surat guna menggambarkan rasa peduli kami atas keputusan pemerintah daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur perihal pembatasan kegiatan kelompok muslim minoritas Ahmadiyah di beberapa provinsi di Indonesia. Kami meminta Anda untuk segera mencabut keputusan yang dikeluarkan pada 2008 yang melarang segala aktivitas religius kelompok Ahmadiyah di Indonesia dan menghapus segala hujatan yang sejak lama ditujukan kepada kelompok Ahmadiyah sehingga kebebasan mereka untuk melakukan kegiatan keagamaan menjadi terbatas. Pada 6 Februari lalu, ratusan orang menyerang sekitar 25 anggota Ahmadiyah di Desa Cikeusik, Banten, Jawa Barat. Tragisnya, hanya ada sekitar 30 petugas keamanan yang dikirim untuk menangani insiden tersebut. Sebanyak tiga orang meninggal dan enam lainnya terluka setelah dihajar secara brutal oleh massa yang menggunakan pacul, tongkat kayu, dan parang. Semenjak keputusan pada 2008 yang melarang banyak aktivitas Ahmadiyah, aksi kekerasan terhadap kelompok minoritas itu semakin meningkat saja. Tak hanya kontra dengan prinsip-prinsip hak asasi manusia, tapi kami juga khawatir hal ini malah akan semakin memotivasi para ektremis dan memperhebat kekerasan terhadap anggota Ahmadiyah. Sekali lagi, kami dengan hormat meminta agar pembatasan kegiatan keagamaan kaum muslim Ahmadiyah dikaji kembali dan keputusan atas pembatasan itu dicabut. Terima kasih atas perhatian terhadap hal ini dan kami menantikan tanggapan Anda Dengan hormat, anggota kongres: Frank R Wolf, Maurice D Hinchey, Joseph R Pitts, Dan Burton, Madeleine Z Bordallo, Michael M Honda, James P McGorven, Daniel E Lungren, Sheila Jackson Lee, Zoe Lofgren, Lloyd Doggett, Jackie Speier, Janice D Schakowsky, Barney Frank, Gregorio Kilili Camacho Sablan, Trent Franks, Edward J Markey, David Wu, Keith Ellison, Christopher H Smith, John F Tierney, Roscoe G Bartlett, Thomas E Petri, Davis N Ciciline, Jim McDermott, Chellie Pingree. |




Sampai sepuluh hari Presiden RI belum juga turun tangan menghadapi intervensi Kongres AS yang membela Ahmadiyah.





