| [57] DPR Bangun 'Istana' |
|
|
|
| Sunday, 18 September 2011 10:31 |
|
Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) tetap keukeuh membangun gedung baru senilai Rp 1,2 trilyun di tengah penolakan oleh rakyat. Rapat paripurna DPR yang berlangsung Jumat (8/4) mengesahkan pembangunan gedung itu meski Fraksi PDIP dan Gerindra walk out. Sebelumnya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sempat meminta pembangunan gedung itu ditunda atau ditinjau ulang. “Dalam bahasa saya, tidak memenuhi standar kepatutan agar ditunda dulu untuk dilakukan revisi penyesuaian. Bahkan, barangkali kalau memang tidak sangat diperlukan bisa ditunda dan dibatalkan,” kata SBY setelah rapat terbatas (ratas) di Kantor Presiden. Namun permintaan presiden itu tak digubris. Kalau presiden saja tak didengar, apalagi rakyat. Tak heran bila Ketua DPR Marzuki Alie mengeluarkan pernyataan yang sangat antirakyat. Lihat saja pernyataannya. “Soal beginian itu (gedung baru DPR) elite yang pinter-pinter. Kalau dibawa ke kampus, profesor, akademisi, baru bisa ngerti. Kalau rakyat biasa yang penting perut terisi. Jangan libatkan rakyat biasa tentang bagaimana cara memperbaiki sistem, bagaimana memperbaiki organisasi, bagaimana memperbaiki infrastruktur, rakyat biasa bisa pusing pikirannya. Karenanya tidak perlulah melakukan survei opini publik untuk mengetahui respon rakyat soal pembangunan gedung baru DPR.” Nantinya setiap anggota DPR memperoleh ruangan seluas lebih dari 1.000 meter. Ruangan itu didesain sangat mewah. Di gedung itu pun akan dibangun kolam renang, spa, dan fasilitas kebugaran lainnya. Mantan Wapres Jusuf Kalla (JK) menilai, jika gedung baru jadi dibangun, maka kerja anggota Dewan tidak akan efektif. “Nanti kalau terlalu enak, DPR tidur terus dan nggak kerja,” ujar Kalla usai bertemu Dewan Penyelamat Negara. Ia beralasan, azas prioritasnya belum waktunya. JK juga menilai, kantor Presiden dan Wapres jauh lebih sederhana dibanding gedung baru DPR yang akan dibangun. “Coba lihat kantor presiden dan wapres sederhana sekali tapi pekerjaan tetap berjalan,” imbuh Kalla. Secara finansial, kata Kalla, keputusan DPR yang 'ngotot' membangun gedung baru itu berbahaya bagi keuangan negara. “Persiden kan sudah mengatakan keuangan negara ini sekarang kita harus hati-hati,” katanya. Menurut Kalla, berdasarkan pernyataan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang meminta jajaran pemerintah pusat hingga daerah melakukan efisiensi keuangan, menandakan keuangan negara sedang dalam keadaan kurang baik. Sehingga, jika pembangunan gedung DPR yang menelan anggaran cukup besar itu dipaksakan, keuangan negara akan terganggu. “Jadi, kalau ada suatu pertimbangan bahwa keadaan negara begini, kalau membangun yang lux (mewah) kan berbahaya,” kata Kalla. Ia mengaku berulangkali telah menyuarakan untuk mengevaluasi ulang pembangunan gedung baru itu. Karena, lanjut Kalla, jika anggaran pembangunan gedung baru DPR itu bisa dikurangi, maka sisanya bisa digunakan untuk kepentingan rakyat yang lebih mendesak. “Biaya pembangunan gedung yang mahal akan mengurangi alokasi yang lain, apalagi dengan tingginya subsidi,” katanya. Keengganan DPR mendengar rakyat ini memicu gugatan. Koalisi Masyarakat Sipil menggugat DPR ke pengadilan. Koalisi LSM ini terdiri atas Asppuk, Seknas FITRA, Perkumpulan Inisiatif Bandung, Prakarsa, PWYP, P3M, dan ICHS selaku kuasa hukum. Koalisi LSM juga mengggat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Menteri Keuangan (Menkeu). “Presiden RI dan Menteri Keuangan memegang kekuasaan pemerintahan dalam hal pengelolaan keuangan juga bertanggung jawab terhadap pembangunan Gedung DPR RI yang menghambur-hamburkan keuangan negara,” kata Uchok Sky Khadafi dari Seknas FITRA.[] emje |




Wakil rakyat tutup telinga terhadap suara rakyat.





