Banner
[57] Film '?' Merusak Umat PDF Print E-mail
Sunday, 18 September 2011 10:43

Film itu menggambarkan stereotype yang buruk terhadap orang-orang Islam.

Hati-hatilah  Anda  dalam menonton film! Tidak semua film yang berbau Islam layak ditonton apalagi oleh orang awam yang tidak memiliki landasan akidah yang kuat.

Setelah sebelumnya membuat film berjudul ”Perempuan Berkalung Surban” yang kontroversial, kini sutradara Hanung Bramantyo lagi-lagi membuat film yang bisa membahayakan umat Islam. Film itu berjudul '?' (Tanda Tanya).

Film ini mengisahkan tentang konflik keluarga dan pertemanan yang terjadi di sebuah area dekat Pasar Baru, di mana terdapat Masjid, Gereja dan Klenteng yang letaknya  tidak  berjauhan,  dan  para  penganutnya memiliki hubungan satu sama lain.

Adian Husaini, peneliti Institute  for the  Study  of  Islamic  Thought  and  Civilizations (INSISTS), menilai film ini jelas-jelas sebuah  kampanye  pluralimse  yang  vulgar.

Menurutnya,  dalam  pandangan  Islam, orang murtad itu sangat serius, tidak bisa  dianggap  main-main.  Dalam  Islam, orang murtad itu dianggap kafir dan kata kafir itu bukan kata main-main. “Setelah saya melihat trailer film ini yang lebih dulu disebarkan di YouTube, hingga menonton langsung filmnya malam ini, jelas sekali, film ini sangat merusak, berlebihan, dan melampaui batas.”

Pesan dalam film ini yang ingin memberikan kerukunan, tetapi justru memberikan streotype (cap) yang buruk pada Islam. Misalnya,  kasus  menusuk  pendeta,  mengebom gereja dll. Kasus-kasus itu kemudian diangkat menjadi sterotype. Menurut Adian, peran-peran Islam juga digambarkan  dengan  buruk.  Orang  murtad  dari Islam digambarkan sebagai hal yang wajar saja,  juga  semua  agama  digambarkan menuju tuhan yang sama.

Hanung  mencoba  mengemas  paham  pluralisme  seolah-olah  tak  bertentangan dengan Islam, padahal paham ini sangat ditentang dalam Islam. Kerukunan itu, kata Adian, bisa diwujudkan tanpa mengorbankan keyakinan masing-masing.

Pesan film Hanung ini sangat berlebihan dan merusak konsep Islam. Merusak konsep tauhid, syirik, iman dan kufur. “Sangat disayangkan film seperti ini disebarluaskan. Ini bukan menumbuhkan kerukunan,  malah  merusak  kerukunan  itu sendiri.”

Film Hanung ini, kata Adian seperti pernah disampaikan Allah dalam Alquran Surat Al-An'am; 112, dengan istilah “Zuhrufal Qauli Ghururo” [perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia)].

MUI sendiri menyebut film produksi Mahaka Picture (Kelompok Republika) ini menyebarluaskan  kesyirikan.  “Film  itu menyebarkan paham syirik modern (Pluralisme Agama), mendukung orang murtad dari Islam, menyatakan semua agama menuju Tuhan yang sama, mencampuradukkan antara tauhid dan syirik, antara iman  dan  kufur,  dan  berlebih-lebihan dalam  menggambarkan  konflik  antar agama,” demikian disampaikan KH Cholil Ridwan, Ketua MUI Bidang Budaya.

Ia  mengingatkan,  dalam  Alquran Surat  Al  An'am:  112  telah  disebutkan, bahwa Allah telah menjadikan setan-setan dari  jenis  manusia  yang  selalu  membisikkan kata-kata indah untuk menipu.

Protes terhadap film ini pun datang dari Banser Nahdlatul Ulama (NU) Cabang Kota Surabaya juga mengecam penayangan  film  tersebut.  Film  ini  dinilai  telah mendiskreditkan sosok Banser.

Sekretaris  Satkorcab  Banser  Kota Surabaya  M  Hasyim  As'ari,  Rabu  (6/4) mengatakan,  protes  tersebut  dilakukan karena  dalam  film  tersebut  Hanung menukil peran Soleh sebagai sosok Banser dengan beragam perannya sesuai fakta di masyarakat.

Menurut Hasyim, Hanung harus meminta  maaf  kepada  para  tokoh  Banser sekaligus merevisi film tersebut. “Banyak yang tidak terima penggunaan seragam Banser yang tanpa meminta izin itu,” kata Hasyim dikutip Antara.

Hanung sendiri menyatakan senang ada kritikan terhadap filmnya. Ia menganggap  adanya  kritik  itu  menunjukkan bahwa filmnya hidup.

Sebelum ini, sejumlah tokoh Islam pernah  mengecam  film  karyanya  yang berjudul  Perempuan  Berkalung  Sorban (PBS). KH. Prof Dr Ali Mustafa Yakub, Wakil Ketua Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI), yang dinilai telah mendiskreditkan pesantren.

Sementara itu, sineas Chaerul Umam berkesimpulan,  film  PBS  sarat  dengan propaganda  paham  liberalisme,  budaya jahiliyah,  bahkan  nilai-nilai  Kristiani.[] emje

 

Untuk menambah keberkahan, disarankan untuk menyebarkan artikel pada situs ini dengan menyebutkan URL sumbernya.

Developed by SmileBizMedia. All rights reserved