| [63] Ada Uang, Dijamin Menang |
|
|
|
| Tuesday, 20 September 2011 13:25 |
|
Partai Demokrat bak disambar petir di siang bolong. Borok partai penguasa yang dibina oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono itu kian kentara. Yah, itu gara-gara Muhammad Nazaruddin yang terus melempar tudingan kepada partai berlambang mercy itu. Kalau dulu Nazaruddin mengungkap aliran dana proyek Wisma Atlet di Palembang, kini Nazaruddin membongkar politik uang yang terjadi di Partai Demokrat—partai yang menggunakan jargon: “katakan tidak pada korupsi”. Seperti disampaikan Nazaruddin dalam wawancaranya kepada Majalah Tempo, pemilihan Ketua Umum Partai Demokrat di Bandung tahun lalu (2010) adalah arena pesta uang. Saat itu semua DPC (pengurus cabang) menerima uang darinya sebesar US$ 10 ribu sampai US$ 40 ribu untuk memenangkan Anas Urbaningrum—ketua umum terpilih. “Jangan kaget, biaya untuk memenangkan Anas waktu itu sekitar US$ 20 juta (sekitar Rp 170 miliar). Memangnya bisa mengalahkan SBY (yang mendukung Andi Mallarangeng untuk menjadi ketua umum— red) tanpa duit?” kata Nazaruddin. Ia pun mengungkapkan sebagian biaya politik Anas berasal dari PT Anugrah. Data soal itu, menurutnya, semuanya sudah di tangan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). “Siapa bilang waktu itu yang menang demokrasi? Yang menang duit,” tandas mantan bendahara Partai Demokrat ini. Menurut tersangka kasus Wisma Atlet Sea Games XXVI itu, dari jumlah 20 juta dolar AS itu, sebanyak 5 juta dolar dibawa tunai dari kantornya di Jakarta oleh staf keuangannya bernama Yulianis. Selain untuk memenangkan Anas, uang itu pun disetorkan kepada Anas dan Andi Mallarangeng -lawan Anas- serta Edhi Baskoro Yudhoyono (Ibas) -calon sekjen. Besarnya masing-masing sekitar 250 ribu dolar Amerika atau Rp 2 milyar. Alasan ia menyetor kepada Andi untuk menjaga kemungkinan Anas kalah. Ketika ditanyakan tentang gelontoran duit kepada anak bungsu SBY, Nazaruddin berkata: ”Nanti dululah, sekarang Anas aja dulu. Partai Demokrat bisa bubar—partai penikmat korupsi APBN.” Koar-koar Nazaruddin ini bisa jadi wujud kekesalannya kepada Anas. Soalnya, menurut pengakuannya, Anas sempat berjanji membereskan urusan di KPK. Belum usai urusan itu, Anas memintanya pergi ke Singapura. Dalam pelariannya di negeri Singa itu, ia dilengserkan dari jabatannya sebagai bendahara. ”Saya dikorbankan. Tahu gini mending jadi pengusaha saja. Saya sudah menjelaskan kepada SBY bahwa saya ke DPR bukan untuk cari uang, soal permainan uang selama kongres, SBY sudah tahu,” kata Nazar dari balik persembunyiannya. Apa yang ditudingkan Nazaruddin jelas langsung dibantah Anas. "Saya kira begini, yang penting adalah kalau ada data atau bukti, dibawa saja ke Indonesia biar mudah. Kan begitu," kata Anas di sela acara Tunas Garuda Demokrat, Jumat (15/7). Sekali lagi Anas menyatakan bahwa semua pesan BlackBerry Messenger (BBM) yang dikirimkan oleh Nazaruddin tidak ada yang benar. “Ya, BBM yang keliru semua kok. Keliru semua. Kan sudah saya bantah. Bukan hanya saya yang bantah. Tetapi biarkan menjadi proses hukum. Kan sudah ada laporan ke polisi, jadi tidak perlu ribut, apalagi ribut di media, kan tidak baik," timpal Anas. Bantahan yang sama muncul dari Ibas. ”Haram bagi saya menerima uang yang tidak sejalan dengan semangat antikorupsi. Jadi tuduhan adanya aliran dana tersebut tidak benar dan tidak berdasar,” tandasnya. Sementara kandidat ketua umum Andi Mallarangeng tak mau menanggapi tudingan Nazaruddin. “Jangan tanya saya, Nazaruddin tidak mendukung saya," kata Andi. Kemelut di tubuh Partai Demokrat ini kian seru ketika jajaran pengurus teras itu bertengkar. Ruhut Sitompul, Deny Kailimang, dan Amir Syamsudin saling memojokkan. Aksi mereka bisa dilihat secara langsung (live) dalam forum Jakarta Lawyers Club yang khusus membahas kasus Nazaruddin. Ini membuat Wakil Ketua Dewan Pembina Marzuki Alie mengirimkan SMS ke SBY sebagai Ketua Dewan Pembina. Ketua DPR ini menilai tindakan kader ini sudah keterlaluan sehingga ia meminta SBY mengambil tindakan tegas untuk menyelamatkan partai. Berbarengan dengan itu berhembuslah isu kongres luar biasa untuk mengganti Anas. SBY pun mencoba meredam isu yang sangat panas di semua media massa ini. Ia menggelar jumpa pers di kediamannya Cikeas, Senin (11/7). SBY yang didampingi Anas, menegaskan, partainya tidak akan menggelar KLB. Ia pun menuding media massa mendiskreditkan partainya. “Banyak pemberitaan media massa termasuk media massa yang selama Ini punya kredibilitas baik terus mendiskreditkan Partai Demokrat dari sumber SMS atau BBM,” ujarnya. Ia mengaku tak bisa memahami mengapa media massa memakai SMS dan BBM sebagai sumber berita karena tidak sesuai logika. Anehnya, tak lama sebelum ini SBY sendiri yang justru menanggapi SMS yang dianggap memfitnah dirinya. Dari persembunyiannya, Nazaruddin dipastikan masih memiliki amunisi untuk menyerang partainya tersebut. Menurut pengacaranya, OC Kaligis, semua “Kalau sampai ini dia bongkar, tamatlah negeri ini,” ujar OC Kaligis. Namun OC Kaligis tidak bersedia mengungkapkan siapa saja orang yang menerima aliran dana haram tersebut. “Pokoknya saatnya akan dia bongkar,” kata Kaligis sebelum kasus kongres Partai Demokrat diungkap Nazaruddin.[] mujiyanto Uang Mengalir sampai ke KandangNazar memang lihai. Apalagi setelah memiliki kedudukan baru sebagai bendahara partai berkuasa. Dalam tuduhan yang pernah disebar ke media massa melalui BBM-nya, ia mengaku pernah mengikuti tiga pertemuan berkaitan dengan proyek-proyek di Kementerian Olahraga yang dipimpin Andi Mallarangeng. Pertemuan demi pertemuan itu dihadiri antara lain oleh kader-kader Demokrat yang duduk di DPR di tempat berbeda. Di antaranya Anas Urbaningrum, Andi Mallarangeng, Angelina Sondakh, dan Mahyudin. Saat itu Anas masih menjabat ketua fraksi Demokrat DPR. Mereka membicarakan proyek Stadion Hambalang di Bogor, Jawa Barat senilai Rp 1,2 trilyun. Juga ada proyek alat bantu olahraga senilai Rp 75 milyar, dan Wisma Atlet di Palembang senilai Rp 200 milyar, serta proyek prasarana atlet di Jawa Barat senilai Rp 180 milyar. Dari pengaturan proyek inilah, Nazar dan kawan-kawan memperoleh uang jasa dan itu yang disebar ke mana- mana. Nazar mengaku, dari proyek Hambalang, Rp 100 milyar dialokasikan untuk dibagi. DPR dapat Rp 30 milyar, pemenangan Anas di kongres Rp 30 milyar, dan konsultan Anas sebesar Rp 20 milyar. Dalam pernyataan yang lainnya, Nazar mengungkapkan bahwa proyek di Kementerian Olahraga nilainya sebesar Rp 3,2 trilyun. Ia bersama Anas, Angelina, dan Wafid Muharram (Sekretaris Menegpora yang kini jadi tersangka) bertemu di sebuah restoran Jepang. Dari pertemuan itu, Wafid mengusulkan agar mereka bertemu Andi. Januari 2010, mereka bertemua di lantai 10 kantor Menegpora. Anas tak ikut karena tak enak dengan Andi. ”Wafid dalam pertemuan itu diatur pura-pura tak kenal dengan kami, padahal dia ikut mengatur proyek Rp 3,2 trilyun itu,” kata pengusaha sawit Riau ini. Mereka sepakat menggarap proyek senilai trilyunan tersebut. Yang belum terungkap sekarang, dari mana Nazaruddin mendapatkan uang yang jumlahnya jutaan dolar sebelum dia menjadi bendahara Partai Demokrat?[] emje |




”Memangnya bisa mengalahkan SBY tanpa duit?”





