| [64] Marhaban Yaa Ramadhan |
|
|
|
| Thursday, 03 November 2011 14:14 |
|
Meski sudah ditunggu-tunggu, hilal tak tampak pada 29 Sya'ban lalu di negeri-negeri kaum Muslim. Maka, Sya'ban digenapkan menjadi 30 hari. Sejak Senin (1/8) kaum Muslimin memulai ibadah shaum Ramadhan. Suasana suka cita terasa ketika shalat Tarawih berjamaah dimulai Ahad (31/7) malam. Masjid-masjid dan mushala penuh oleh para jamaah. Tua-muda, besar-kecil, pria-wanita, semua mengikuti ibadah sunah tersebut. Kaum Muslimin secara umum mengetahui bahwa Ramadhan ini bulan penuh keberkahan dan keagungan, meski banyak juga yang ikut-ikutan. Namun demikian, suasana peribadahan yang begitu kuat menjadikan semua orang yang mengaku Muslim mau tidak mau akan terbawa. Rasulullah SAW sendiri telah menjelaskan betapa agungnya Ramadhan ini. Pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditu-tup, dan setan dibelenggu. Setiap Muslim diwajibkan berpuasa dan Allah memberikan ganjaran ber-lipat ganda kepadanya yang beramal shalih di bulan itu. Bahkan, Allah memberikan pahala yang luar biasa di malam Lailatul Qadar, berupa pahala senilai amal shalih selama 1.000 bulan atau 83 tahun lebih. Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda: “Setiap amal kebaikan anak Adam akan dilipatgandakan menjadi sepuluh sampai 700 kali lipat. Allah berfirman: 'Kecuali puasa. Karena ia milik-Ku dan Aku akan membalasnya. Dia (anak Adam) meninggalkan syahwat dan makanannya karena-Ku'. Orang yang berpuasa mempunyai dua kebahagiaan: satu kebahagiaan ketika berbuka dan keba-hagiaan yang lain ketika bertemu dengan Tuhannya. Sungguh, bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau kesturi”. (HR Muslim). Dalam riwayat lain Rasulullah bersabda: Barang siapa bangun di tengah malam untuk beribadah pada bulan Ramadhan dengan keimanan dan keikhlasan maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni. Banyak keutamaan Ramadhan dalam banyak hadits. Belakangan, ilmu pengetahuan membuktikan bahwa puasa mampu memberikan manfaat yang luar biasa bagi manusia baik secara fisik maupun psikis. Malah, ada yang menjadikan puasa sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan. PrihatinSuasana Ramadhan dari tahun ke tahun memang terlihat kian semarak. Namun secara kehidupan, kaum Muslimin hidup dalam keprihatinan. Di dalam negeri, menjelang Ramadhan, harga-harga kebutuhan pokok melambung. Beban rakyat terasa berat apalagi bagi mereka yang berada dalam kemiskinan. Jangankan untuk makan tiga kali sehari, sehari makan sekali saja sulit. Bahkan banyak yang menjadikan nasi aking—nasi bekas yang dikeringkan—sebagai santapan karena tak mampu lagi memberi beras. Ini banyak ditemui di berbagai daerah. Di tengah pengumuman pemerintah bahwa Indonesia menjadi salah satu negara yang memiliki pertumbuhan ekonomi terbaik di kawasan Asia, justru muncul kasus-kasus busung lapar. Anak-anak kekurangan gizi menjadi fenomena gunung es, terus muncul. Bersamaan dengan Ramadhan, banyak orang tua menjerit karena mahalnya biaya pendidikan karena tahun ajaran baru mulai datang. Sekolah telah berubah menjadi institusi bisnis. Negara mulai melepaskan tanggung jawabnya sebagai pelayan umat. Hal yang sama terjadi dalam layanan kesehatan. Rakyat kian sulit menikmati layanan kesehat-an yang memadai. Sampai-sam-pai muncul pameo: orang miskin dilarang sakit. Mengapa? Mereka tak mampu lagi menjangkau biaya kesehatan. Malah sekarang, pelepasan tanggung jawab pemerintah itu kian nyata dengan adanya UU Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) dan RUU Badan Pengelola Jaminan Sosial (BPJS) yang mengalihkan urusan layanan kesehatan ini kepada rakyat sendiri. Masyarakat dipalak, hasilnya dinikmati perusahaan negara. Tidak hanya di dalam negeri, kondisi serupa terjadi di negeri Islam lainnya. Mereka mengalami kondisi yang jauh lebih berat. Mereka mengalami penjajahan secara fisik. Mereka tak mampu menjalankan Ramadhan dengan khusu'. Bahan kebutuhan pokok sulit dicari karena akses perdagangan sulit. Belum lagi, sebagian mereka harus berhadapan langsung dengan moncong senjata. Sebagian dibantai oleh orang-orang kafir. Momentum PerubahanKondisi kaum Muslimin seperti ini tidak akan banyak berubah jika kondisi global kaum Muslim tidak diubah. Pangkal persoalan semua itu adalah tidak diterapkannya syariah Islam secara kaffah dalam naungan khilafah. Gara-gara tidak ada yang menyatukan, kaum Muslimin terpecah belah secara politik. Sampai-sampai, penentuan awal dan akhir Ramadhan pun bisa berbeda satu dengan yang lain padahal seharusnya bisa disatukan. Karenanya, Ramadhan semestinya menjadi momentum untuk perubahan. Ini begitu pas sebab kaum Muslimin sedang dalam suasana keimanan, kedekatan, dan ketaatan kepada Allah SWT. Perubahan yang dimaksud tentu saja bukan hanya perubahan yang sifatnya individual semata. Perubahan itu bersifat sistemik dan komprehensif. Maka, tidak tepat kalau orang yang berpuasa hanya memikirkan dirinya sendiri tanpa mau peduli dengan permasalahan umat. Rasulullah dan para sahabat memberi contoh betapa Ramadhan bukanlah bulan 'loyo' karena fisik sedang lemah. Justru di bulan ini Rasulullah bersama para sahabat maju ke medan jihad untuk meninggikan kalimat Laa ilaha illallah. Rasulullah dan para sahabat melakukan aktivitas amal shalih yang memiliki nilai pahala besar di tengah bulan yang agung. Semestinya, begitu pulalah kaum Muslim. Saatnya kaum Muslim pun bangkit ke medan dakwah, melaksanakan amar makruf nahi munkar untuk mengembalikan Islam ke posisi yang tinggi. Maka dakwah menyeru kepada penerapan syariah secara kaffah dalam naungan khilafah menjadi satu amalan yang mulia. Inilah momentum untuk mengokohkan perjuangan tersebut. Mari ajak masyarakat meninggalkan sistem kufur, yang jelas-jelas ha-ram dan berpindah kepada sis-tem Islam yang dirahmati Allah.[] mujiyanto |




Keutamaan Ramadhan begitu besar. Sayangnya kaum Muslimin tak bisa menggapai itu dengan sempurna. 





