| [66] Ambon Nangise |
|
|
|
| Wednesday, 07 December 2011 16:11 |
|
Kalau 11 September 2001 ada tragedi WTC (World Trade Center) di New York, Amerika Serikat, sepuluh tahun kemudian 11 September 2011 ada tragedi Ambon, Maluku. Lho, kok tanggal dan bulannya sama? Bisa kebetulan, bisa juga memang ada yang sengaja ‘meledakkan’ kasus ini tepat tanggal tersebut? Kerusuhan itu sendiri dipicu oleh meninggalnya seorang tukang ojek warga Waihaong yang bernama Darvin Saiman. Kabar tewasnya korban menyebar luas dengan cepat. Informasi pun simpang siur. Ada yang mengatakan korban tewas dibunuh, sedangkan informasi kepolisian menyebut Saiman meninggal akibat kecelakaan lalu lintas (lakalantas). Kecelakaan itu sendiri terjadi pada Sabtu (10/9), sekitar pukul 21.00 WIT di dekat Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah, setelah ia kembali dari mengantarkan penumpang ojek asal Gunung Nona. Ia sempat dilarikan ke RSUD Haulussy Ambon. Namun, nyawa korban yang Muslim ini tidak dapat tertolong alias meninggal dunia. Esok harinya selepas Dzuhur, korban dimakamkan oleh keluarganya di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Muslim Mangga Dua, Ambon. Tak lama setelah itu muncul konsentrasi massa di beberapa titik di kota tersebut. Dua kelompok saling berhadapan. Bentrokan pun terjadi di kawasan Waringin, Tanah Lapang Kecil (Talake), dan kawasan jalan AM Sangadji. Mobil, motor, dan bangunan dibakar massa. Korban berjatuhan. Warga yang ketakutan lari kocar kacir menyelamatkan diri terutama anak-anak dan perempuan. Konflik 1999 yang lalu menjadikan warga trauma, sehingga kerusuhan yang terjadi ini membuat warga panik dan ketakutan yang luar biasa. Mereka mengungsi ke tempat yang aman. Yang Muslim memilih ke Masjid Jami’ Kota Ambon dan Masjid Al Fatah, dan yang non Muslim ke beberapa gereja. Ada juga pengungsi dari dua keyakinan yang berbeda mengungsi bersama di kompleks militer. Pengungsi mencapai lebih 7.000 orang. Kondisi tak terkontrol itu baru mereda setelah puluhan personel Brimob Polda Maluku dan ratusan tentara dari Batalyon Infantri 733/Raider diturunkan. Esoknya, untuk mengamankan situasi Mabes Polri mengirimkan ratusan personel Brimob dari Polda Sulawesi Selatan. Berdasarkan data kepolisian sehari setelah bentrokan, kerusuhan itu mengakibatkan tujuh orang tewas dan 65 orang terluka. Namun data yang diperoleh Siwalima (koran daerah Maluku) jumlah korban jauh lebih besar dari itu. Di RSUD Haulussy sebanyak 44 orang dirawat akibat mengalami luka-luka yang cukup serius, sementara di RS Al-Fatah sebanyak 65 orang dirawat akibat mengalami luka-luka dan RS Bhakti Rahayu sebanyak 14 orang juga mengalami luka-luka. Hingga kini belum jelas benar pemicu kerusuhan itu sendiri. Muncul isu berseliweran. Jelas versi polisi, Darvin Saiman tewas karena kecelakaan murni. Versi kedua, ia memang tewas kecelakaan tapi kemudian dipukuli oleh orang-orang dari kelompok lain. Ketiga, ia dibunuh. Foto-foto jenazah korban muncul di internet. Ada kejanggalan dalam jenazah korban. Inilah yang memunculkan beberapa dugaan bahwa korban mengalami penganiayaan atau dibunuh. Di punggung korban ada empat jahitan. Apakah ini bekas tusukan atau apa, perlu ada penyelidikan lebih lanjut. Selain itu, helm korban juga utuh sementara kepala korban pecah. Banyak kalangan, tak yakin Darvin hanya kecelakaan biasa. Ketidakyakinan itu disampaikan pula oleh ibu korban, Halimah Jogja. “Pakaian yang dikenakan tampak jelas sobekan benda tajam yang menembus bagian belakang. Selain itu, helm dan motor juga tidak menunjukkan tanda tanda kecelakaan lalu lintas, seperti yang di kemukakan polisi,” kata Halimah kepada wartawan, Senin (12/9/2011) malam. Beberapa kalangan menyayangkan tindakan kepolisian yang dianggap sangat lambat mengatasi keadaan sehingga kerusuhan itu sampai meledak. Namun ini dibantah oleh Kapolda Maluku, Brigjen Polisi Syarief Gunawan. Menurutnya, pihaknya bukan lemah dan lamban. “Personel sudah kami turunkan amankan titik-titik yang terdapat konsentrasi massa. Polisi senantiasa menggunakan pendekatan humanis dalam menyelesaikan masalah, akan tetapi dalam kasus ini kami tetap proses hukum pihak-pihak yang dianggap telah mengganggu keamanan dan ketertiban,” tandasnya seperti dikutip Siwalima. Tak Berdiri Sendiri Kerusuhan Ambon tidak terjadi secara tiba-tiba. Sekitar dua bulan sebelumnya, benih-benih bentrokan antara kelompok Muslim dan Kristen muncul di Universitas Pattimura, Ambon. Bentrokan kedua kelompok mahasiswa ini menimbulkan kerusakan yang cukup parah. Gedung Universitas Pattimura (Unpatti) Ambon dibakar. Akibatnya, gedung Fakultas Ekonomi, gedung registrasi, laboratorium, dan gedung Fakultas Pertanian terbakar. Sedangkan gedung Fakultas Teknik, MIPA, dan Keguruan hancur. Kebakaran terjadi sekitar pukul 17.30 WIT, Rabu, 6 Juli 2011. Tudingan itu dibantah oleh Rektor Unpatti Profesor Tetelepta. Menurutnya, semua hasil penerimaan ditentukan pihak Kementerian Pendidikan Nasional melalui komputerisasi. Sebelum ini, bentrokan serupa sering terjadi di kampus tersebut pasca kerusuhan besar melanda Ambon tahun 1999. Perjanjian Malino yang telah ditandatangani ternyata tak mampu menyelesaikan akar persoalan Ambon. [] Mujiyanto Perjanjian Malino MandulPasca kerusuhan Ambon 1999, pemerintah membuat perjanjian Malino bagi pihak-pihak yang bertikai di Ambon dan sekitarnya. Perjanjian yang ditangani langsung oleh M Jusuf Kalla, saat itu Menko Kesejahteraan Rakyat, memuat 11 butir kesepakatan. Melalui perjanjian itu, kedua belah pihak sepakat mengakhiri semua bentuk konflik dan kekerasan. Di butir enam, membentuk tim investigasi independen nasional untuk mengusut tuntas peristiwa 19 Januari 1999, FKM, RMS, Kristen RMS, Laskar Jihad, Laskar Kristus, pengalihan agama secara paksa dan pelanggaran HAM dan lain-lain sebagainya demi tegaknya hukum. Sayangnya perjanjian itu hanya berlaku di atas kertas. Hingga kini, pengusutan kasus pembantaian kaum Muslim di Ambon tepat di hari raya Idul Fitri 1999 belum terungkap. Pelanggaran HAM berat yang begitu besar seolah diputihkan begitu saja dengan pemberian kompensasi kepada para keluarga korban. Walhasil, perjanjian ini ibarat memelihara bara dalam sekam. Suatu saat bisa memunculkan api bila ada pihak-pihak yang menyulut sekam tersebut. MJ |




Konflik di Ambon sangat mudah dipicu oleh kasus yang kecil. Bukti masih ada bara perpecahan yang belum terselesaikan?





