| [66] Muslim di Tengah Arogansi |
|
|
|
| Wednesday, 07 December 2011 16:13 |
|
Tahukah Anda, dulu Maluku merupakan wilayah kerajaan Islam. Di antaranya adalah kerajaan Ambon, Herat, dan Jailolo. Begitu banyaknya kerajaan sehingga orang Arab menyebut kawasan ini dengan Jaziratul Muluk (Negeri Raja-raja). Sebutan ini kelak dikenal dengan Maluku. Masyarakatnya saat itu hidup damai. Namun sejak kedatangan Belanda, situasi berubah. VOC dengan membawa agama Kristen menaklukkan Maluku dan memaksa warga Maluku yang ada di kampung-kampung untuk memeluk Kristen. Sebagian warga tetap mempertahankan akidah Islamnya dan terus melawan penjajahan tersebut demi mempertahankan kedaulatan wilayah kerajaan Islam. Sementara warga yang bersedia bekerja sama dengan Belanda untuk terus memerangi saudaranya yang tetap beragama Islam. Rustam Kastor, dalam bukunya ”Fakta Data dan Analisa Konspirasi RMS dan Kristen Menghancurkan Umat Islam di Ambon – Maluku” menjelaskan, penjajah berhasil mengalahkan perlawanan tersebut. Namun kaum Muslim tidak berhenti melawan. Mereka melanjutkan perlawanan itu dengan tanpa senjata dalam bentuk non kooperatif dan bersikap membangkang lebih dari satu setengah abad. Salah satu bukti nyata, menurut pensiunan perwira tinggi militer ini, adalah tidak terdapatnya Serdadu Belanda KNIL yang beragama Islam. Ummat Islam lebih suka memilih pekerjaan lepas dari penjajah (non formal) dan hal tersebut tampak sebagai suatu kenyataan di lapangan. Karena sikap tidak bersedia kerja sama itulah maka umat Islam diperlakukan tidak adil dan diskriminatif yang dilanjutkan oleh kalangan Kristen yang memang menguasai posisi-posisi kunci di pemerintahan setelah Maluku terbebas dari cengkeraman RMS. Kelompok Kristen, karena kepatuhannya kepada penjajah, mendapat perlakuan istimewa. Orang-orang Kristen Maluku lebih maju dan menguasai posisi penting dalam pemerintahan. Ketika umat Islam secara perlahan-lahan bangkit dan mampu menduduki berbagai posisi penting dalam pemerintahan maupun menguasai sektor ekonomi secara proporsional, timbullah kecemburuan di kalangan Kristen. ”Inilah latar belakang konflik Islam-Kristen di Maluku yang terus berlangsung ibarat api dalam sekam, sewaktu-waktu muncul ke permukaan,” tulis Rustam. Kondisi serupa tak jauh berbeda dengan era setelah kemerdekaan. Posisi-posisi kunci di pemerintahan, juga universitas ditempati oleh kalangan Kristen. Penguasaan posisi jika digunakan untuk kepentingan bersama tentu tidak masalah. Hanya saja, muncul dugaan hal itu digunakan untuk kepentingan kelompoknya saja. Di sisi lain, umat Islam sulit bisa menempati posisi kunci tersebut. Mereka bergerak di sektor informal. Usaha mereka pun sukses, apalagi ditambah kedatangan orang-orang Bugis, Buton, dan Makassar (BBM). Perlahan-lahan mereka mampu menguasai ekonomi rakyat. Keberhasilan kelompok ini menimbulkan iri kalangan kelompok Kristen lain yang merasa lahan mereka dirampas. Muncullah upaya mengusir mereka dari Maluku. Inilah yang terjadi dalam kerusuhan Ambon 1999. Kemajuan yang diperoleh umat Islam, terutama munculnya generasi muda cendekiawan merupakan saingan bagi kalangan Kristen yang walaupun dalam skala rendah, mereka melihatnya sebagai ancaman yang membahayakan. Merasa adanya ancaman (yang sesungguhnya tak seberapa besar), kalangan Kristen melakukan aksi penghambatan dengan menutup peluang bagi yang Islam di berbagai sektor strategis. Bersamaan dengan itu, muncul berbagai tudingan yang memojokkan umat Islam. Misalnya saja, kaum Muslim dituding ingin mendominasi perekonomian. Mereka juga dituding sebagai penyebab berbagai kerusuhan sehingga seolah-olah umat Islam adalah biang dari berbagai tindakan anarkis. Kaum Muslim yang awalnya jadi korban diubah sedemikian rupa citranya sehingga menjadi pelaku/terdakwanya. Malah dalam peristiwa kerusuhan Ambon 1999, kaum Muslim dicap sebagai teroris gara-gara mempertahankan diri dari kekejaman kaum Kristen. Bahkan sebutan ’teroris Ambon’ terus dilekatkan hingga sekarang bagi kaum Muslim yang dulu pernah ikut membela saudara mereka yang Muslim di Ambon. Setelah perjanjian Malino ditandatangani 2002, masyarakat Ambon kian terfragmentasi secara tegas. Ada kelompok Kristen dan Muslim. Mereka tinggal di kantong-kantong pemukiman terpisah. Kondisi ini memungkinkan mudah diprovokasi oleh pihak lain untuk berhadap-hadapan meskipun mungkin hanya karena masalah sepele. Mujiyanto
|




Kaum Muslim Maluku di penjajahan selalu ditindas karena tidak mau bergabung dengan Belanda dan masuk Kristen.
Pattimura, Mujahid yang ‘Dikristenkan”





