| [67] Aksi Solo Bom Solo |
|
|
|
| Wednesday, 07 December 2011 16:42 |
|
Kota Solo yang tenang terguncang. Sebuah bom meledak di Gereja Bethel Injil Sepenuh Kepunton (GBIS Kepunton), Kota Solo, Ahad (25/9). Saat itu waktu menunjukkan pukul 10.55 WIB. Si pembawa bom tewas bersama bom yang melekat di tubuhnya. Badannya hancur tapi kepalanya masih utuh. Selain menewaskan si pembawa bom, ledakan itu melukai 24 orang lainnya. Bom berdaya ledak rendah (low explosive) itu meledak tepat di depan pintu gerbang Gereja. Saat itu, gereja baru saja selesai mengelar kebaktian. Kejadian pas bubaran gereja,” kata seorang petugas keamanan Gereja. Sebenarnya aksi pelaku bom bunuh diri sudah terekam oleh CCTV milik Gereja. Pendeta GBIS Kepunton, Wim Agwin mengatakan, pelaku menyelinap ke dalam gereja sesaat setelah kebaktian usai. Ia masuk ke dalam gereja melalui pintu samping.
Semua kalangan mengecam aksi bom bunuh diri. Lembaga/organisasi massa baik Muslim maupun non Muslim mengutuk tindakan tersebut.
Hanya berselang beberapa jam, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono langsung menggelar jumpa pers. Presiden SBY menyebut tersangka pelaku bom bunuh diri memiliki kaitan dengan pelaku serangan serupa di Cirebon April lalu. "Investigasi sementara yang kita lakukan, pelaku adalah anggota jaringan teroris Cirebon," kata Presiden Yudhoyono, Ahad (25/9) sore. Ia mengatakan, itu baru perkiraan berdasarkan penyelidikan awal. Presiden menambahkan, ia telah meminta aparat keamanan membongkar habis pelaku aksi teror di Cirebon dan Solo ini, termasuk pihak-pihak yang menyediakan dana dan mengatur serangan. Dua hari kemudian, identitas tersangka bom bunuh diri sudah diketahui. Dalam jumpa pers di Mabes Polri Jakarta, juru bicara Mabes Polri, Inspektur Jenderal Anton Bachrul Alam, mengatakan tersangka pelaku bom Solo adalah Pino Damayanto alias Ahmad Urip alias Ahmad Yosepa Hayat alias Hayat. "Setelah dilakukan pemeriksaan DNA selama 20 jam, tidak terbantahkan bahwa jenazah pelaku bom bunuh diri di GBIS Kepunton Solo, Jateng adalah Pino Damayanto," kata Kepala Pusdokkes Polri, dr Mussadeq Ishaq dalam jumpa pers, Selasa (27/09). Temuan polisi ini pun sangat tepat dengan perkiraan Presiden. Anton menyebut, Hayat terlibat dalam aksi bom bunuh diri di masjid Polres Cirebon. "Hayat mengantarkan Mohammad Syarif (pelaku pengeboman) ke masjid Polres Cirebon itu," kata Anton. Tak hanya itu, kata Anton, kepolisian memastikan Hayat adalah anggota Jamaah Ansharut Tauhid (JAT) Cirebon. Namun hal ini dibantah oleh JAT melalui Abdurrahim Ba’asyir. “Kita sudah mengecek, dia bukan anggota Jamaah Ansharut Tauhid seperti yang disampaikan Polri,” kata anak Abu Bakar Ba’asyir ini. Anton mengatakan, Hayat termasuk dalam daftar pencarian orang (DPO) Polri. Ia menjadi DPO sejak Oktober 2010 karena terlibat perusakan Alfamart dan Indomart. “Sehingga dia termasuk DPO kita," kata Anton. Anehnya, kendati sudah dinyatakan sebagai buron, bahkan juga masuk dalam daftar DPO bom Cirebon sejak 15 April 2011, Hayat bebas berkeliaran di masyarakat. Hayat sempat membantu orang tuanya berjualan bakso di Jalan Pandesan, Cirebon, Jawa Barat. “Saya pernah melihatnya setelah kejadian bom di Cirebon. Tapi ya itu, langsung hilang lagi,” kata Ketua RT 06 RW 04 Kelurahan Pekalangan, Kota Cirebon, Uni Saruni seperti dikutip BorneoNews. Wanita ini pun sering melihat istri Hayat, Yosefa Dewi, melayani pembeli di warung bakso milik M Dawud Turani dan Hindun (orang tua Hayat). Bahkan, saksi mata lainnya pernah melihat Hayat pulang kampung saat Lebaran lalu. Mencari Motif Ketua MUI Solo Prof Zainal Arifin tak tahu apa motif sebenarnya dari pelaku tersebut. Menurutnya, tindakan pelaku tak bisa dibenarkan dalam sudut pandang manapun. ”Dalam pandangan Islam, itu bukan jihad, sebab bukan karena perang,” katanya. Selama ini, katanya, Kota Solo tidak ada masalah dengan kerukunan antar umat beragama. Maka, menurutnya, adu domba adalah salah satu kemungkinan, di samping ada 1001 macam kemungkinan lainnya, seperti pengalihan isu, memuluskan proyek deradikalisasi, dll. ”Ini merupakan umpan kecil, maka jangan sampai dibuat besar. Kita hendak diadu domba, tapi kita tidak mau,” jelas akademisi ini. Sementara itu pengamat intelijen AC Manullang menilai, ada upaya membidik kelompok radikal di Solo dengan menciptakan adanya bom bunuh diri di Gereja Bethel Injil Sepuluh (GBIS) Kepunton, Solo. ”Solo menjadi target serangan, karena di wilayah ini menjadi basis kelompok radikal,” katanya. Alasannya, selama ini pemerintah sangat sulit untuk mendapat legitimasi membubarkan kelompok radikal. ”Dengan adanya bom ini, secara tidak langsung masyarakat yang akan mendorong pemerintah untuk membubarkan organisasi kelompok radikal,” jelasnya. Hingga kini polisi belum mengungkapkan, motif di balik serangan bom bunuh diri. Apa yang sebenarnya terjadi?[] mujiyanto
Reaksi Cepat SBY
Begitu bom Solo terjadi, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono langsung bereaksi. Tak perlu menunggu hari, cukup hanya dalam hitungan jam. Kejadian siang, sore langsung menggelar jumpa pers.
Namun, Pak Beye—begitu sebagian orang menyebut—kok tak beraksi terhadap berbagai kasus di Tanah Air yang menewaskan banyak orang. Sebut saja kasus kematian lebih dari 700 orang saat mudik, atau tewasnya enam penumpang Marina Nusantara Senin (26/9) di Sungai Barito atau tewasnya delapan orang yang terinjak saat KM Kirana terbakar di Surabaya, atau tewasnya tujuh orang—sebagian besar Muslim—di Ambon dalam kerusuhan beberapa waktu lalu.
Pengamat politik dari Universitas Indonesia, Boni Hargen membandingkan antara Solo dan Ambon. Menurutnya, perbedaan sikap tersebut dikarenakan SBY telah mengetahui siapa pihak yang bermain dalam bentrok Ambon. Namun, SBY memilih bungkam untuk menghindari bentrokan politik. Abdurrahman Ba’asyir, juru bicara utama JAT menilai, ada diskriminasi terhadap umat Islam. “Kenapa pada saat umat jadi korban kok tidak ada komentar bahkan seakan-akan ditutup-tutupi kejadian yang sebenarnya. Sedangkan kalau orang Kristen yang menjadi korban dengan serangan seperti itu, dengan kejadian tidak terlalu besar komentarnya sudah sangat jauh dan sinis. Ini saya pikir, ada sebuah bentuk diskriminasi yang akan membentuk kecemburuan dari masyarakat Muslim dari respon pemerintah,” katanya. Ini memudahkan provokasi muncul. emje |




Tindakan pelaku tak bisa dibenarkan dalam sudut pandang manapun. Dalam pandangan Islam, itu bukan jihad, sebab bukan karena perang. 





