| [67] Misteri Kelompok Cirebon |
|
|
|
| Wednesday, 07 December 2011 16:45 |
|
Tak pernah ada cerita perampok/maling meninggalkan jejaknya di tempat sasarannya. Tapi pelaku bom bunuh diri ini justru meninggalkan jejaknya. Sebuah tas ransel ditinggalkannya di Warnet Solonet, 200 meter dari Gereja Bethel Injili Sepenuh (GBIS). Di dalam tas tersebut ditemukan Alquran, parfum, pulpen, dan sisir. Tak ditemukan bahan pembuat bom dalam tas itu. Tas sempat dititipkan ke operator warnet dan dibiarkan teronggok di salah satu sudut warnet yang disewa pelaku yang mengatasnamakan akun ‘Eko’ dan ‘Oki’ saat mendaftar. Sumber Media Umat di Solo menjelaskan, bom rakitan yang meledak dengan daya ledak rendah (low explosive) itu terkesan dirakit asal-asalan. Ini tak menyulitkan petugas kepolisian untuk mengidentifikasinya. Bom berisi paku dan baut. Ini mirip dengan bom di Mapolresta Cirebon. Benarkah Hayat ada hubungan dengan M Syarif, sumber Media Umat menyebut memang keduanya ada kaitan. Ia sering bersama-sama dengan M Syarif ketika di Cirebon. Nama aslinya sebenarnya Pino Damayanto di akte kelahirannya, namun karena sering sakit namanya diganti menjadi Ahmad Urip. Ia tidak pernah mondok, apalagi mondok di Pesantren Ngruki, Solo. Sejauh yang terungkap, berjualan bakso adalah satu pekerjaan yang ia tekuni sekalipun tidak sukses. Pria kelahiran Cirebon 19 Oktober 1980 ini pernah mengikuti kegiatan MMI dan kemudian berafiliasi ke JAT—belum tentu menjadi anggotanya. Ia sering terlihat bersama pelaku bom Cirebon M Syarif dalam berbagai aksi memberantas kemaksiatan di Cirebon meskipun ia tak seagresif Syarif. Sumber Media Umat menyebut, kesamaan visi yang dimiliki antar mereka menjadikan mereka membangun “tandzim” (struktur/kelompok) sendiri melepaskan diri dari kelompok yang sebelumnya mereka berafiliasi. Hanya saja, ‘tandzim’ Cirebon ini tak memiliki nama khusus. Kelompok Cirebon ini diduga memiliki hubungan dengan Tim Hisbah, Solo. Hisbah ini awalnya merupakan kelompok yang bergerak di bidang nahi munkar (pemberantas kemaksiatan). Kelompok itu dipimpin oleh Sigit Qardhawi. Ini kelompok lokal murni. Namun kemudian Hisbah terpecah menjadi dua yakni yang tetap hanya bergerak sebatas nahi munkar dan kelompok yang beralih bergerak ke apa yang mereka sebut jihad amaliyah. Tak diketahui bagaimana kelompok ini pecah. Benarkah ada penyusupan? Menurut sumber tersebut, ada kontak antara Hisbah Solo ini dan Cirebon. Di akhir 2009 ada seseorang yang bernama Musolah tercatat ikut pengajian Tim Hisbah beberapa kali di Masjid al Anshor, Semangi, Solo. Musolah adalah orang Cirebon. Sebelum itu, September 2009, M Syarif bersama Musolah dan seorang lagi yang bernama Yadi diduga terlibat perusakan toko Alfamart Cirebon karena alasan menjual miras dalam sebuah sweeping. Dalam perkembangan berikutnya, ada kontak antara Sigit Qardhawi dan Musolah setelah tim Hisbah gagal melakukan aksi pemboman di Sukoharjo. Pasca bom bunuh diri di Mapolresta Cirebon, 15 April 2011, Musolah menghubungi seorang bernama EJ untuk mencarikan tempat aman bagi Yadi dan Hayat karena keduanya ikut membantu M Syarif. Sementara Musolah sendiri menghilang lari ke wilayah Tegal Jawa Tengah. Pelarian Musolah hanya berlangsung empat hari. Ia tertangkap. Ini mendorong Hayat lari ke Karanganyar dan Yadi ke Bandung. EJ pada 12 Mei 2011 tertangkap dan sehari kemudian Sigit Qardhawi tewas tertembak oleh Densus 88 di Sukoharjo, Jawa Tengah. Setelah itu, Hayat meledakkan diri di GBIS Solo. Sumber Media Umat di Solo menyebutkan, kelompok Hisbah ini memiliki ilmu keagamaan sangat minim. Akhlak mereka jelek dan sulit dinasihati. Beberapa ulama Solo pernah menasihati mereka tapi tak digubris. ”Mungkin inilah salah satu celah yang mudah dimanfaatkan pihak lain,” kata sumber itu. Selain mereka, Densus 88 kini masih mengejar DPO lainnya yakni Amir Ashabul Kahfi Cirebon Yadi alias Hasan (diduga menyembunyikan pelaku bom Klaten dan memerintahkan untuk memberikan pelatihan merakit bom), Heru Komarudin (diduga perakit bom yang dipakai M Syarif di Mapolresta Cirebon), Beni Asri dan Nanang Irawan alias Nang Ndut alias Gendut alias Rian (dua orang ini diduga yang terlibat menyembunyikan rangkaian bom). Siapa Otaknya? Sudah banyak teroris yang tertangkap dan tewas. Tapi hingga kini belum diketahui siapa otak sebenarnya dari aksi-aksi tersebut. Juru bicara Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) M Ismail Yusanto menyebut bisa jadi awalnya aksi terorisme itu muncul sebagai bentuk perlawanan terhadap orang kafir dan kekuatan asing. Namun di tengah jalan hal itu ditunggangi atau ditumpangi. Itulah yang disebutnya sebagai fabricated terrorism. Dugaan itu kian kuat ketika aksi-aksi mereka tak lagi nyambung dengan motivasinya. Dalam kasus bom Solo, aksi itu tak menguntungkan sama sekali bagi Islam dan kaum Muslimin serta tegaknya Islam. Justru yang terjadi kaum Muslim malah menerima citra buruk. Fabricated terrorism terjadi melalui sebuah operasi dengan jalan infiltrasi terhadap kelompok-kelompok Islam. Kemudian di dalamnya penyusup melakukan proses radikalisasi. Situasi dunia Islam yang terus menerus dizalimi oleh Barat yang notabene orang kafir, memudahkan mereka memprovokasi kelompok tersebut untuk beraksi. Hasilnya, rugi dua kali. Tidak menguntungkan Islam dan malah stigmatisasi serta generalisasi buruk menimpa kaum Muslim. Indonesia dianggap sebagai sarang teroris.
Semua itu tak bisa dilepaskan dari rencana jahat asing di negeri-negeri Islam dalam rangka menghambat kebangkitan Islam ideologi. Dengan stigmatisasi negatif terhadap Islam, diharapkan kaum Muslimin menjauh dari tujuan menegakkan syariah Islam dalam bingkai khilafah.
Maka aksi terorisme tak akan pernah ada habisnya jika semuanya merupakan fabricated terrorism. Sebaliknya terorisme akan hilang bila khilafah tegak untuk mengayomi seluruh anak negeri. Mujiyanto Keganjilan Bom Solo
|




Dugaan ditumpangi menguat ketika aksi mereka tak lagi nyambung dengan motivasinya.





