| [68] Kristen Diserang? |
|
|
|
| Tuesday, 27 December 2011 15:21 |
|
Entah kebetulan atau memang disengaja, di tengah kasus Gereja Kristen Indonesia (GKI) Yasmin, Bogor, yang diseret-seret ke dunia internasional, tiba-tiba pihak Kristen menuding bahwa kelompok ekstrim Islam di Indonesia telah menyerang Kristen dan tidak ditindak secara hukum. Pernyataan ini bukan diungkapkan oleh orang sembarangan. Tapi disampaikan oleh Ketua Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) Uskup Martinus Dogma Situmorang, Selasa (04/10/2011), saat berkunjung ke Vatikan. Mereka tidak menghormati hukum negara yang ada, terutama Surat Kesepakatan Bersama (SKB) 2 Menteri, dan peraturan lainnya tentang pembangunan tempat ibadah. Ketika keinginannya itu ditolak karena tidak memenuhi persyaratan hukum yang ditetapkan negara, pihak Kristen menggunakan kelicikannya dengan mengatakan umat Islam menghalangi kebebasan beragama pihak Kristen. Terlalu Toleran Bila melihat perkembangan kebebasan beragama di Indonesia, justru umat Islam di Indonesia yang mayoritas (88 persen) ini sangat toleran, bahkan terlalu toleran, terhadap agama lain. Coba, Kristen diberi jatah libur nasional hingga tiga kali (Natal, Paskah, dan Kenaikan Isa Al Masih). Agama-agama kecil pun diberi libur nasional. Ini tidak didapatkan kaum Muslim di negara-negara yang mayoritasnya Kristen. Di Australia, Amerika dan Eropa tidak ada satu negara pun yang memberi hak libur bagi kaum Muslim kendati pengikutnya kini terus meningkat. Di London Selatan, masjid dilarang dibangun. Di Jerman, Prancis, Italia, dll busana Muslimah dilarang. Di Indonesia, kaum Kristen memperoleh kebebasan luar biasa. Data perkembangan pembangunan tempat ibadah Kristen pun bisa bicara. Menurut data Badan Litbang Departemen Agama, sejak 1977 hingga 2004, pertumbuhan rumah ibadah Kristen justru lebih besar dibandingkan dengan masjid. Rumah ibadah umat Islam, pada periode itu meningkat 64,22 persen, Kristen Protestan 131,38 persen, Kristen Katolik meningkat hingga 152 persen (Republika, 18/2/06). Kalau dikatakan Muslim tidak toleran, mana mungkin pihak Kristen bisa membangun tempat ibadah sebanyak itu? Wajar bila ada yang mengatakan Kristen tak tahu diri. Sudah diberi kebebasan seperti itu masih kurang. Malah kurang ajarnya lagi, mereka dengan sengaja memurtadkan orang Islam—gerakan Kristenisasi yang berpusat di gereja—dengan berbagai tipu daya dan jebakan-jebakan. Kasus pembodohan umat Islam di Bekasi yang dibaptis tanpa sadar beberapa waktu lalu, bisa menjadi contoh. Mereka pun tak segan menghina simbol-simbol Islam. Diskriminasi Kristen Dua peristiwa besar menimpa umat Islam di wilayah yang penduduk Kristennya cukup besar. Tragedi Ambon, menjadi catatan kejahatan Kristen terhadap Muslim. Saat kaum Muslim sedang merayakan Idul Fitri 1 Syawal tahun 1999, mereka dibantai oleh kalangan Kristen. Begitu juga tragedi Poso, Sulawesi Tengah. Seluruh penghuni Pesantren Wali Songo dibantai orang-orang Nasrani. Penghuni pesantren dari bayi sampai kakek-kakek dibantai tak bersisa.
Di Tapanuli Utara, Sumatera Utara yang mayoritas berpenduduk Nasrani, sebuah Masjid Syeikh Ali Martaib di Desa Lumban Lobu, Kecamatan Bonatua, tiga kali dibakar orang tak dikenal, yakni 1986, 2009, dan 2010. Harian Waspada Medan menyebut orang tak dikenal itu diduga kuat berasal dari kalangan Nasrani.
Di Papua, kaum Muslim pun sulit untuk mendirikan tempat ibadah di daerah yang birokratnya dikuasai oleh kaum Kristen. Bahkan pernah ada rencana menjadikan Kota di Sorong, Papua Barat, sebagai Kota Injil. Padahal perbandingan komposisi penduduk Muslim dan Kristen hampir berimbang. mujiyanto
Tirani Minoritas Atas Mayoritas
Boleh jadi jumlah kaum Nasrani lebih sedikit dibandingkan kaum Muslim. Tapi mereka menguasai negeri berpenduduk Muslim terbesar di dunia ini. Tidak hanya belakangan, itu terjadi sejak awal kemerdekaan Indonesia.
Ketika ada tujuh kata dalam UUD 45: ‘dengan kewajiban melaksanakan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya’, pihak Kristen dari Indonesia Timur mengancam akan melepaskan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) jika anak kalimat itu tidak dihapuskan. Tokoh Islam seperti Ki Bagus Hadikusumo, KH.Kahar Mudzakir, Tgk Muhammad Hasan, dll, mengalah UUD yang sejatinya sudah sah diterapkan itu direvisi. Hingga kini belum diketahui siapa yang menekan Bung Hatta agar menghapus tujuh kata tersebut. Padahal, wajar saja negeri yang mayoritas mutlak Muslim mengakomodasi aturan Islam. Jiwa besar para tokoh Islam dan kaum Muslim dilupakan begitu saja dan justru seringkali kaum Nasrani menuduh Islam tidak toleran.
Di masa awal Orde Baru, ketika Soeharto memprakarsai Musyawarah Antar Umat Beragama, pihak Kristen yang diwakili tokohnya seperti TB Simatupang, AM Tambunan amat gigih bahkan garang memaksa diberi hak menyebarkan agama Nasrani kepada siapa saja penduduk di Indonesia. Tentu ini ditolak oleh tokoh Muslim seperti Rasyidi dan M Natsir yang tak ingin penyebaran agama diarahkan kepada yang sudah beragama.
Di akhir masa kepemimpinan Soeharto, Kristen mulai tersingkir setelah Soeharto menempatkan orang-orang Islam di jabatan-jabatan strategis baik di pemerintahan dan militer. Dengan sinisnya Harian Kompas saat itu menghantam kebijakan tersebut. Mereka berusaha mengerahkan daya untuk menyingkirkan Soeharto. Jatuhlah penguasa Orde Baru ini tahun 1998.
Kristen yang menguasai media mainstream Indonesia pun terus menggoyang pemerintahan Habibie yang notabene representasi umat Islam. Dengan dibantu kalangan liberal yang pro Barat, Habibie pun dipaksa berhenti dengan dalih kepanjangan tangan Orde Baru. Padahal sejatinya mereka tidak menginginkan Habibie karena ICMI-nya.
Di masa reformasi ketika otonomi daerah berlangsung tak terkontrol, kaum Nasrani berusaha membangun provinsi Kristen. Di Sumatera Utara, orang-orang Kristen di Tapanuli ingin membentuk provinsi sendiri terlepas dari provinsi induk. Mereka memaksakan itu sehingga ketua DPRD Sumut tewas dianiaya para demonstran yang menuntut pengesahan provinsi tersebut. emje |




Kalangan Kristen tak tahu diri dengan kebebasan yang telah diberikan selama ini. 





