| [68] Asing Intervensi Yasmin |
|
|
|
| Tuesday, 27 December 2011 15:26 |
|
Seberapa seriuskah kasus GKI Yasmin hingga Sekretaris Dewan Gereja-Gereja Dunia, Walter Altman, mengunjungi lokasi pembangunan gereja di Jl. KH Abdullah bin Nuh, Bogor, Jawa Barat? ”Ini jelas lebay, masa urusan kayak gini sampai dibawa ke dunia internasional. Padahal ini kan persoalan Curug Mekar,” kata seorang warga Desa Curug Mekar, Bogor, saat menggelar aksi unjuk rasa di dekat gereja tersebut, Ahad (16/10). Walter mengaku, pihaknya selama ini telah menerima laporan diskriminasi yang terjadi pada GKI Yasmin. Kunjungannya itu, lanjutnya, menandakan perhatian dan keprihatinan yang mendalam umat Kristen se-dunia atas terjadinya apa yang mereka sebut sebagai ’diskriminasi’ gereja di Bogor. Masuknya Dewan Gereja Dunia ke kasus Yasmin ini kian membongkar kedok mereka. Fakta itu menguatkan, Kristenisasi itu menyangkut kepentingan asing di negeri-negeri Islam. Kasus Yasmin, dengan dibantu jaringan liberal, terus diangkat sedemikian rupa dalam rangka memuluskan pendirian gereja yang lain di seluruh Indonesia. Alat Penjajah Memang tidak bisa dipisahkan antara penjajahan dan kristenisasi. Kalau dulu penjajahnya langsung datang ke Indonesia, kini penjajah itu masuk langsung ke jantung kebijakan negara. Para penjajah datang ke negeri-negeri jajahan membawa tiga misi (3G) yakni gold, glory, dan gospel. Mereka ingin memperoleh kekayaan alam (gold), mencapai kejayaan dengan menguasai daerah jajahan (glory), dan menyebarkan agama Kristen (gospel). Tak mengherankan bila keterkaitan antara kaum Kristen dengan para penjajah sangat erat. Lihat saja kasus di Papua. Mengapa negara-negara Barat begitu gigih membantu Organisasi Papua Merdeka (OPM)? Karena mereka Kristen dan ingin melepaskan diri dari Indonesia yang mayo-ritas Muslim. Barat juga tak bisa dipungkiri akan keterlibatannya dalam kemerdekaan Timor Timur karena kekristenannya. Amerika pun melindungi Alex Manuputty sampai sekarang karena kasus Republik Maluku Serani/Nasrani (RMS) yang ingin melepaskan diri dari pangkuan pertiwi. Padahal Alex dalam kacamata hukum Indonesia terbukti bersalah melakukan makar. Di mana penghormatan mereka terhadap hukum? Karakter penjajahan dan kristenisasi ini tidak berubah dari awalnya. Pak, peneliti Cina dalam bukunya yang berjudul China and The West menukil ucapan Napoleon sebagai berikut: “Delegasi misionaris agama bisa memberikan keuntungan buatku di Asia, Afrika, dan Amerika karena aku akan memaksa mereka untuk memberikan informasi tentang semua negara yang telah mereka kunjungi. Kemuliaan pakaian mereka tidak saja melindungi mereka, bahkan juga mem-beri mereka kesempatan untuk menjadi mata-mataku di bidang politik dan per-dagangan tanpa sepengetahuan rakyat.” Kardinal Ximenes pada tahun 1516, dalam rangka perluasan infiltrasi dan pengokohan gerakan Kristen, memberi perintah supaya setiap serangan ke India Timur dan Barat haruslah diiringi oleh misionaris Kristen. Islam dianggap sebagai ancaman yang bisa mengganggu eksistensi Barat yang Kristen. Maka berbagai cara dilakukan untuk melemahkan kekuatan Islam dan lebih jauh lagi menghancurkannya. Kardinal Lavie Garry: “Tanpa diragukan lagi, agama yang paling kuat dan tidak bisa ditaklukkan adalah agama Islam. Oleh karena itu, para misionaris berharap agar seluruh kaum Muslim menjadi Kristen.” Dalam konteks kekinian, kristenisasi menyatu dengan imperalisme modern. Misi ini didukung oleh kelompok-kelompok komprador yang mencari keuntungan ekonomi dari proses tersebut, dan juga para penguasa boneka alias antek yang ingin mempertahankan kekuasaannya. Bersamaan dengan kristenisasi, imperialis modern mengampanyekan apa yang mereka sebut sebagai Hak Asasi Manusia (HAM). Prinsip-prinsip HAM soal kebebasan beragama akan mereka gunakan manakala kaum Kristen terganjal tujuannya. Tapi HAM tidak akan pernah mereka suarakan manakala yang menjadi korban adalah kaum Muslim. Pernahkah Anda mendengar ada Paus yang prihatin atau mengutuk Kristen Ambon yang membantai umat Islam? Tidak cukup itu, agar kaum Muslimin terlepas dari agamanya, gerakan sekulerisasi marak dilakukan. Baik itu melalui kurikulum pendidikan dan intervensi budaya. Yang masih hangat, ada gerakan deradikalisasi Islam. Memang mereka tidak terlibat langsung, tapi ini adalah kebijakan Barat yang diterapkan di negeri-negeri Muslim dengan dalih mencegah terorisme. Padahal sesungguhnya gerakan deradikalisasi ini adalah upaya mencegah kebangkitan Islam dan menjauhkan umat Islam dari pemahaman Islam yang benar. Kalau umat Islam kian terikat dengan agamanya dan berhasil mengatur negerinya dengan syariah Islam secara kaffah, maka misi kristenisasi akan gagal dengan sendirinya. Mereka takut! []Mujiyanto
HMI Kok Ngadu ke Vatikan?Kalau orang kafir mengadu kepada pimpinannya, itu wajar. Tapi ini, sebuah organisasi Islam yang tidak terkait sama sekali dengan urusan gereja malah mengadukan masalah Yasmin ke Vatikan. Bukannya malah membela nasib kaum Muslimin yang teraniaya di Curug Mekar. Inilah yang dilakukan Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI). Sabtu (10/9), mereka memberikan dokumen kasus Gereja Kristen Indonesia (GKI) Yasmin, Kota Bogor kepada Presiden Dewan Kepausan untuk Dialog Antaragama, Kardinal Jean-Louis Tauran di Vatikan. Kasus itu disampaikan kepada Touran, untuk menunjukkan bahwa ketegangan yang mengatasnamakan agama sebenarnya diwarnai motif politik (Kompas.com). Tidak cukup melalui surat, pengaduan itu diantar langsung oleh beberapa pengurus PB HMI ke Vatikan. Di antaranya Ketua Umum Noer Fajrieansyah, Sekretaris Jenderal Basri Dodo, Ketua Bidang Hubungan Internasional Muhammad Makmoen Abdullah, serta Wakil Sekjen Bidang Hubungan Internasional Muhammad Chairul Basyar. Kepada Media Umat Noer Fajrieansyah Jumat (16/9) berdalih, kunjungan mereka ke Vatikan merupakan bagian dari serangkaian kunjungan ke beberapa negara di antaranya Malaysia, Singapura, Amerika, dan juga Vatikan. "Ini memang rangkaian kunjungan kami, di beberapa negara dan Insya Allah juga akan berangkat ke Iran” Ia menjelaskan, ada aspek positif negatifnya dari kunjungan ini. Ia beralasan Rasulullah tidak pernah mengajarkan permusuhan, Islam agama perdamaian, Islam menerima perbedaan, dan Islam mengajarkan bahwa damai itu indah. "Kunjungan HMI ini murni bicara dakwah,” katanya. Ia mengaku bangga bisa datang ke Vatikan dan berdialog tentang hubungan Islam-Kristen. "Murni dakwah Mas, kita berdialog bahwa Islam menerima perbedaan” tuturnya. Lalu mengapa kok ya ikut-ikutan mengadukan kasus Gereja Yasmin, Noer Fajrieansyah berdalih, itu berbarengan dengan adanya beberapa sastrawan yang melaporkan hal itu ke Vatikan, makanya mereka berdialog juga soal hal itu. Ditanya tanggapannya terhadap kasus Yasmin, ia menjawab, "Kalau tanggapan kami terhadap Gereja Yasmin itu konstitusional.” Lalu apa perlunya hal seperti itu diadukan ke Paus? FM |




Kepentingan global ada di balik kristenisasi di seluruh dunia. Ini untuk kepentingan imperialisme dan menghadang Islam






