| [69] Saat Kapitalisme Digugat Pemeluknya |
|
|
|
| Friday, 03 February 2012 15:02 |
|
Gelombang unjuk rasa anti kapitalisme menyebar ke seantero dunia. Gerakan kaum muda yang dipicu oleh krisis ekonomi ini menusuk jantung-jantung ekonomi kapitalis. Occupy Wall Street (Duduki Wall Street), di New York, Amerika Serikat, sebagai prionir penentangan terhadap kapitalisme berhasil menarik warga dunia untuk bergerak. Wall Street adalah bursa saham terbesar di dunia. Di sana bercokol para penjudi kelas kakap yang bermain di bursa saham. Mereka adalah pemilik perusahaan multinasional. Melalui lantai bursa ini, mereka bisa mengeruk keuntungan yang sangat besar tanpa harus bersusah payah bekerja/berproduksi secara riil. Wall Street tidak sendiri. Bursa saham sejenis tersebar di seluruh dunia. Semua terhubung dalam jaringan kapitalisme global. Nilai saham Wall Street menjadi acuan bursa saham di negara lainnya. Kejatuhan saham di Wall Street akan menyebabkan bursa saham lainnya lesu. Tak mengherankan bila pemenang hadiah Nobel ekonomi 1997 Prof Maurice Allaiss menyebut bursa saham sebagai big casino (kasino besar). Di dalamnya terjadi perjudian yang luar biasa tanpa mengenal batas negara. Namun keuntungan yang besar itu hanya untuk para kapitalis saja. Rakyat tak menerima apa-apa. Justru dalam kondisi tertentu rakyatlah yang menyubsidi pemilik perusahaan multinasional itu melalui pajak yang mereka bayarkan. Inilah yang terjadi dalam kasus di Amerika maupun di Indonesia. Ketika perbankan mengalami kolaps akibat krisis ekonomi, uang rakyat yang dipergunakan untuk menalanginya. Ini jelas melanggar prinsip kapitalisme itu sendiri karena ideologi ini berpandangan negara tidak boleh ikut campur. Nyatanya, ketika perusahaan-perusahaan besar terkena krisis, negaralah yang paling depan menyelamatkannya. Ini terjadi karena negara telah dikendalikan oleh korporasi atau perusahaan. Para pejabat dan wakil rakyat adalah kepanjangan kepentingan para pemodal. Masih ingat berapa milyar dolar dana yang dikucurkan oleh para pengusaha Amerika untuk kampanye Barack Obama? Model yang sama terjadi di negara lain yang menerapkan sistem kapitalisme ini, tak terkecuali Indonesia. Tak heran bila muncul istilah baru dalam sistem tata pemerintahan yakni pemerintahan korporatokrasi. Yakni pemerintahan yang dijalankan oleh kolaborasi antara korporat/perusahaan dan pemerintah yang berkuasa. Sudah dapat diduga, kebijakan yang dilahirkan pun tak akan jauh dari kepentingan keduanya. Masyarakat Amerika dan Barat mulai menyadari hal itu. Mereka marah terhadap sistem kapitalisme ini. Mereka marah terhadap pengusaha dan penguasa karena telah menggunakan negara untuk bisnis dan kekuasaan. ”We are 99 %”, begitu slogan mereka untuk menggambarkan bahwa hak-hak mereka telah dirampok oleh satu persen orang kaya di negara tersebut. Mereka menyebut sistem itu tidak adil. Di tambah lagi dalam krisis ekonomi yang parah, nasib rakyat terlunta-lunta sementara para pengusaha bisa berfoya-foya atas bantuan penguasa. Krisis itu kian hari kian parah. Belum ada tanda-tanda pemulihan. Tidak hanya Amerika, krisis mulai merembet ke Eropa. Yunani hampir kolaps. Italia sudah mulai meriang. Perancis mulai menangis. Negara lain pun mulai kembang kempis. Para pengamat ekonomi menilai, krisis kapitalisme ini merupakan krisis terburuk sepanjang sejarah. Berbagai upaya tambal sulam yang dilakukan selama ini tak mampu menahan gejolak yang muncul. Meski kapitalisme telah mengorbankan banyak prinsip dasarnya, perbaikan tak membuahkan hasil. Akankah krisis ini merupakan akhir dari sistem ekonomi kapitalis ini? Alternatif
Krisis ekonomi kapitalis ini sebenarnya suatu yang wajar. Sebab, sistem ekonomi itu telah cacat dari lahirnya. Maka, sistem ini pasti gagal. Tanda yang paling serius dari kegagalan itu adalah terciptanya cabang-cabang ekonomi non-riil yang memungkinkan kekayaan negara muncul berkali-kali lebih besar dari ukuran perekonomian yang sebenarnya. Hal ini telah menciptakan suatu ilusi, yang pasti akan menyebabkan keruntuhan besar. Kekuatan-kekuatan yang mendorong ke arah ekonomi non-riil meliputi pasar saham, perbankan dan sistem keuangan yang berbasis riba, dan diasingkannya emas dan perak dari basis sistem moneter. Selain itu, kapitalisme didirikan di atas premis yang keliru. Premis itu adalah bahwa manusia di dunia ini bebas dari segala batasan Allah. Premis ini mengasumsikan bahwa Tuhan (jika memang ada) memiliki peran pasif dalam kehidupan manusia di bumi. Premis ini tidak valid dan tidak rasional. Maka, setelah komunisme/sosialisme runtuh dan kapitalisme mulai sempoyongan, hanya Islam yang bisa menjadi satu-satunya solusi. Bagi kaum Muslim, sebagai sistem yang diturunkan oleh Allah, sistem ekonomi Islam pasti paling baik dan memiliki ketahanan tinggi. Islam menjadikan paradigma ekonomi berhubungan dengan perintah dan larangan-larangan Allah. Yakni dengan menghubungkan gagasan-gagasan yang menjadi dasar kepengurusan individu dan masyarakat, serta menjadikan langkah-langkah ekonomi sesuai dengan pendapat dan pemikiran Islam serta hukum Islam. Syariah Islam mengatur perbuatan dan kegiatan ekonomi. Inilah pengertian kegiatan ekonomi dalam Islam sebagai bagian dari ibadah kepada Allah yang implikasinya tidak berhenti di dunia saja, tapi sampai ke negeri akhirat karena semua itu akan dimintai pertanggungjawabannya di sana kelak. Keyakinan Islam juga mengatakan bahwa syariah pastilah membawa rahmah. Artinya, di dalam syariah pasti terkandung kebaikan-kebaikan. Bila syariah dilaksanakan dengan sebaik-baiknya, maka kebaikan-kebaikan itu akan dirasakan baik oleh individu maupun masyarakat. Dengan keyakinan seperti itu, kegiatan ekonomi yang baik adalah apa yang dikatakan baik oleh syariah dan yang buruk adalah apa yang dikatakan buruk oleh syariah (al-hasan ma hassanahu al-syar’u, al-qabih ma qabbahahu al-syar’u). Jadi, melaksanakan sistem ekonomi Islam berarti adalah melaksanakan syariah Islam di bidang ekonomi. Pertanyaannya, apakah mungkin sistem ekonomi Islam ini dilaksanakan secara sempurna oleh negara kapitalis-sekuler? Pasti tidak mungkin. Yang melaksanakan pastilah negara yang didasarkan atas syariah Islam. Itulah khilafah Islamiyah. [[]mujiyanto |




Sistem kapitalisme sekuler lambat laun akan gagal. Alternatif satu-satunya adalah sistem Islam.





