Banner
[48] Stop Eksploitasi Tubuh Perempuan! PDF Print E-mail
Tuesday, 01 March 2011 15:15

Mereka sudah termakan racun ideologi kapitalis yang mendefinisikan perempuan ideal sebagai: perempuan mandiri, bebas berekspresi dan menjunjung tinggi hak asasi.

Belakangan ini Indonesia kebanjiran artis-artis porno impor. Ada bintang Jepang Miyabi yang syuting di kawasan Puncak, Bogor. Ada pula Tera Patrick, bom seks Hollywood. Entah siapa lagi artis panas yang diam-diam 'menjajah' industri hiburan Tanah Air.

Bisa dibayangkan, seperti apa film-film yang mereka lakoni. Mungkin sudah tidak kalah dengan blue film ala Hollywood. Pasalnya, artis porno lokal saja ulahnya selama ini sudah menjijikkan, apalagi artis impor.

Tak heran bila masyarakat Muslim pun gerah dengan kehadiran para artis bejat itu. Sebab, dikhawatirkan membawa dampak buruk bagi masyarakat Muslim di Indonesia. Paling tidak, mereka akan menjadi sumber inspirasi bagi kaum perempuan yang berminat mengekploitasi tubuhnya. Artis-artis lokal, produser, penulis skenario dan sutradara, akan banyak berguru pada artis porno ini.

Akhirnya, menguatlah opini bahwa pornografi dan pornoaksi itu wajar belaka. Yang tadinya tabu, jadi diumbar. Yang tadinya porno kelas teri, jadi porno kelas kakap. Na'udubillahi min zalik.

Bisnis Rendahan

Perempuan dalam industri kapitalis makin telanjang. Tak afdhal rasanya tanpa memasang tubuh molek mereka, baik dalam iklan, musik, sinetron maupun film. Perempuan dalam ideologi kapitalis memang begitu direndahkan. Hanya dinilai dari kemolekan tubuhnya, dieksploitasi setiap inchi tubuhnya demi rupiah. Makin seksi, makin berani buka-bukaan, makin menggiurkan bayarannya.

Berjejalanlah kaum perempuan untuk antre dieksploitasi. Hal ini mengundang kesimpulan, lenyapnya harga diri mereka. Sayangnya, sebagian juga Muslimah. Ini terjadi karena rendahnya kesadaran kaum perempuan akan harkat dan martabat dirinya. Mereka sudah termakan racun ideologi kapitalis yang mendefinisikan perempuan ideal sebagai: perempuan mandiri, bebas berekspresi dan menjunjung tinggi hak asasi.

Perempuan seperti ini memahami kebahagiaan dari materi. Mereka memandang kecantikan dan kemolekan tubuhnya sebagai aset berharga yang harus dimanfaatkan untuk mendapatkan kebahagiaan dunia.

Tentu saja, pihak yang merendahkan perempuan, sejatinya memiliki harga diri lebih rendah. Ya, pengeksploitasi tubuh perempuan adalah manusia hina, baik laki-laki maupun perempuan. Mereka adalah pihak yang suka mempermainkan perempuan, menjadikannya barang mainan. Mereka bukanlah orang yang pantas dihargai, karena tidak menghargai perempuan.

Mereka lupa bahwa ibu, istri, nenek, adik atau kakak mereka perempuan. Bahkan di antara mereka juga punya anak perempuan. Relakah jika para perempuan suci di sekelilingnya itu dieksploitasi? Relakah bila ibu, istri atau anak gadis mereka sendiri ditelanjangi dan ditonton jutaan mata? Orang tak waras saja yang menjawab iya.
Rasulullah SAW bersabda yang artinya: “tidak akan memuliakan perempuan kecuali lelaki yang mulia, tidak merendahkan perempuan kecuali lelaki yang rendah pula.”

Perempuan Mulia

Ironisnya, para pejuang harkat dan martabat perempuan diam saja menyaksikan proses eksploitasi besar-besaran terhadap kaumnya. Mereka justru berteriak nyaring jika perempuan diamankan dari keterjerumusan harga dirinya.

Ketika ada upaya umat Muslim untuk melindungi kaum perempuan (Muslimah) dengan pakaian takwa, para aktivis yang mengklaim memperjuangkan hak-hak perempuan itu langsung berteriak: jilbab itu tidak trendy, pengekang aktivitas, simbol budaya Arab, bukan syariat Islam, dan menghambat kebebasan berekspresi. Dihambatlah berbagai regulasi yang berbau Islam, seperti perda yang mewajibkan perempuan menutup aurat dan memberlakukan jam malam untuk perempuan, beberapa waktu lalu.

Sebaliknya, mereka membela model porno, pelaku adegan mesum, dan bahkan pezina seks komersial sebagai profesi. Mereka mencak-mencak kalau perempuan-perempuan itu diusik dari kebebasannya berekspresi.

Demikian pula ketika ada upaya umat Muslim untuk mengembalikan aktivitas perempuan ke rumah, penggiat kesetaraan gender langsung gerah. Mereka segera mempropagandakan kemandirian ekonomi dan pemberdayaan perempuan. Perempuan dilepaskan dari ketergantungan pernafkahannya pada wali atau suami.

Akibatnya, perempuan didorong menghidupi dirinya sendiri dengan berkeliaran di ranah publik. Di sana tubuhnya menjadi terkaman mata para lelaki hidung belang. Pelecehan, perkosaan hingga perzinaan jadi bagian cerita sehari-hari.

Padahal, dengan mendudukkan kembali fungsi dan peran perempuan di rumah, eksploitasi atas tubuh perempuan bisa dihentikan. Jika perempuan memahami kodratnya sebagai wanita baik-baik dengan lebih dominan beraktivitas di rumah, insya Allah tidak ada kesempatan untuk berpose bugil, beradegan mesum, atau berlenggak-lenggok tanpa busana. Tidak akan terjadi buka-bukaan aurat yang menggoda mata nafsu laki-laki yang memang kodratnya harus berkiprah di ranah publik sebagai pencari nafkah.

Lagipula, sejatinya kebahagiaan perempuan adalah di rumah. Ya, setinggi apapun perempuan 'terbang' di ruang publik, pasti 'hinggap' juga ke sarang, yakni rumahnya. Rumah adalah istana terindah bagi kaum perempuan, dengan malaikat-malaikat kecil berupa putra-putrinya yang selalu dirindu.
Ya, perempuan rumahan adalah perempuan mulia. Dia menjaga harga diri, punya rasa malu tinggi, menjaga nama baik diri maupun keluarga. Selayaknya perempuan menjadikan rumah sebagai sumber aktivitasnya.

Memang, tidak dilarang beraktivitas di luar rumah bagi kaum perempuan. Tapi, harus memenuhi syarat-syarat sesuai syariat Islam. Seperti menutup aurat, tidak membahayakan diri, tidak khalwat dan ikhtilat, tidak mengandalkan kemolekan tubuh/tabaruj, bermuamalah yang halal, ditemani mahram bila bepergian lebih dari sehari semalam, dll.

Demikian seharusnya, di manapun berada, Muslimah sejati selalu menjaga harga diri. Ini adalah kewajiban yang tak boleh diabaikan. Haram mengeksploitasi tubuh untuk motif apapun, apalagi sekadar materi.[] kholda naajiyah

 

Untuk menambah keberkahan, disarankan untuk menyebarkan artikel pada situs ini dengan menyebutkan URL sumbernya.

Developed by SmileBizMedia. All rights reserved