|
Nasib perempuan ditentukan pula penerapan sistem, baik di bidang ekonomi, politik, hukum, sosial budaya maupun pendidikan, dll.
Tak terasa kita sudah masuk tahun 2011 Masehi. Begitu banyak harapan digantungkan tahun ini, tak terkecuali oleh kaum perempuan. Akankah nasibnya terentaskan, mengingat setahun belakangan ini, perempuan belum beranjak dari nestapa. Kemiskinan, kekerasan, eksploitasi dan pelecehan masih jadi potret buram di album mereka. Bagaimana agar perempuan bangkit?
Pemberdayaan Semu Meningkatnya peran perempuan di publik dan keberhasilan mereka mendatangkan rupiah, menjadi indikator perempuan dianggap berdaya dan bangkit. Tak aneh jika para perempuan didorong untuk terus berkiprah. Termasuk di panggung politik, nama seperti Sri Mulyani sudah digadang-gadang menjadi next president. Demikian pula Ani Yudhoyono yang saat ini istri presiden, sudah dielus-elus menjadi kandidat pengganti SBY pada Pemilu 2014. Itukah yang disebut kebangkitan?
Sementara itu, Bupati Kutai Kartanegara (Kukar) Rita Widyasari –yang tentunya perempuan—mencanangkan 2011 sebagai tahun kebangkitan perempuan. Hal ini ditandai dengan meningkatnya peran dan partisipasi perempuan dalam berbagai aspek kehidupan, yang berujung pada kesejahteraan mereka. Hal itu diungkapkannya saat mengisi Public Corner di Metro TV 23 Desember lalu. “Target utama yang ingin dicapainya agar kaum perempuan di Kukar lebih dihargai kaum lelaki,” kata Rita Widyasari.
Komitmen Rita dalam peningkatan kesejahteraan perempuan di Kukar dibangun dengan mengalokasikan dana APBD 2011 sebesar 2 persen atau Rp 64 milyar untuk program pemberdayaan. Menurutnya dana itu sangat besar dibanding tahun sebelumnya yang hanya Rp18 milyar.
“Sudah saatnya para suami memberikan dukungan penuh kepada istri untuk dapat berperan dan berkarya, agar istri juga dapat diberi kesempatan untuk membantu dalam memenuhi kebutuhan dirinya sendiri dan keluarga. Pada saat sekarang, bukan masanya lagi istri hanya berada di seputar sumur, dapur, dan kasur. Namun kesetaraan gender benar-benar dijalankan, saya berkeyakinan bahwa jika ibu sejahtera, anak dan keluarga pasti akan sejahtera,” ujarnya.
Apa yang diperjuangkan Rita, tampaknya mulia. Perempuan memang harus sejahtera. Tapi, haruskah kesejahteraan itu dikejar oleh perempuan itu sendiri? Sampai-sampai, demi predikat sejahtera, banyak perempuan mengadu nasib ke luar negeri sebagai TKW. Mereka meninggalkan suami dan anak-anaknya, menggantungkan fungsinya sebagai istri, ibu dan pendidik anak-anak.
Ini terjadi karena suami miskin, sehingga perempuan tidak dapat sejahtera. Anehnya, kenapa bukan para suami saja yang diberdayakan? Bukankah saat ini, masih banyak para suami, para bapak, yang menganggur dan tak punya penghasilan? Padahal, jika para suami sejahtera, kaum perempuan sebagai istri, ibu dan anak-anak juga akan sejahtera.
Karena itu patut dipertanyakan pula, benarkah “jika ibu sejahtera, anak dan keluarga sejahtera?” Bagaimana dengan banyaknya kasus perceraian yang terjadi gara-gara perempuan 'lebih sejahtera' dibanding laki-laki? Ya, angka perceraian karena gugat cerai dari istri, belakangan meningkat. Salah satu penyebab, karena istri lebih mapan secara ekonomi dibanding suami. Seperti anggota DPR yang juga artis Rachel Maryam, menggugat cerai setelah kesibukannya meningkat.
Ujungnya, ketika keluarga tercerai berai, anak jadi korban. Terlebih jika perempuan –atau laki-laki—itu kerap kawin cerai, anak-anak jadi labil karena harus selalu menyesuaikan diri dengan keluarga-keluarga barunya.
Lantas, benarkah kaum perempuan akan lebih dihargai lelaki hanya jika menghasilkan materi (bekerja)? Bagaimana dengan kasus-kasus pelecehan seksual dan eksploitasi tubuh perempuan di ruang publik (dunia kerja), dengan dalih kebebasan berkarya dan bereskpresi? Bukankah justru perempuan seperti ini dilecehkan kaum Adam? Kalau demikian, bukannya bangkit, justru perempuan terperosok dalam jurang kenistaan.
Dan itu terjadi karena sistem yang diterapkan saat ini adalah sistem sekuler, liberalis dan kapitalis. Sistem yang terbukti gagal memenuhi hak-hak perempuan. Bahkan dengan teganya memaksa perempuan untuk mengatasi sendiri persoalan yang membelit mereka.
Padahal, persoalan perempuan adalah bagian dari persoalan masyarakat umum. Nasib perempuan ditentukan pula penerapan sistem, baik di bidang ekonomi, politik, hukum, sosial budaya, pendidikan, dll. Jelaslah, sistem kapitalis saat ini hanya menawarkan kebangkitan semu bagi perempuan.
Kebangkitan Perempuan Kebangkitan perempuan diwujudkan dengan terpenuhinya hak-haknya sehingga bisa menjalankan peran dan tugasnya secara maksimal. Apa itu? Tugas dan peran sebagai ibu, pelahir generasi penerus. Ya, di tangan merekalah akan lahir generasi-generasi mujahid yang siap menjadi pemimpin umat. Karena itu, perempuan dianggap berdaya dan bangkit jika menyadari peran dan tugasnya itu. Itulah kebangkitan hakiki seorang perempuan. Dari Anas Radhiyallahu 'anhu ia berkata: Kaum wanita datang menghadap Rasulullah shallallahu 'alaih wa sallam bertanya: “Ya Rasulullah, kaum pria telah pergi dengan keutamaan dan jihad di jalan Allah. Adakah perbuatan bagi kami yang dapat menyamai 'amal para mujahidin di jalan Allah?” Maka Rasulullah SAW bersabda: ”Barangsiapa di antara kalian berdiam diri di rumahnya maka sesungguhnya ia telah menyamai 'amal para mujahidin di jalan Allah.” (HR Al-Bazzar).
Subhanallah, begitu mulianya peran perempuan di rumah hingga pahalanya disamakan dengan pahala mujahid. Tentu saja, berdiam diri di rumah dimaksud tidak menghalangi perempuan untuk keluar rumah. Hanya, keluar rumahnya bukan dalam rangka merendahkan diri sebagaimana perempuan sekuler.
Bahkan, banyak kisah menunjukkan kiprah para sahabiyah di luar rumah, terkait dengan kewajibannya membangkitkan umat. Baik terkait dengan aktivitas mencari ilmu maupun mendakwahkannya. Inilah yang harus dilakukan perempuan untuk membangkitkan kaumnya, yakni melakukan pencerdasan umat, khususnya kaum perempuan.
Arah kebangkitan kaum perempuan adalah untuk menyadarkan mereka agar kembali kepada syariah Islam secara utuh, baik yang menyangkut kehidupan mereka di ranah domestik maupun publik. Sebab, hanya dengan diterapkannya sistem Islam secara kaffah melalui Khilafah Islamiyah hak-hak kaum perempuan terpenuhi.
Nestapa yang menimpa perempuan, seperti kemiskinan, kekerasan, pelecehan seksual dan eksploitasi dirinya akan dihentikan. Inilah kebangkitan hakiki perempuan yang semoga benar-benar terwujud tahun ini.[] kholda naajiyah
|