|
[51] Menumbuhkan Empati pada Anak |
|
|
|
|
Saturday, 02 April 2011 22:38 |
|
Anda pernah dibuat kesal karena egoisme yang tinggi pada anak? Ya, bagi seorang anak, konsep 'keakuan' atau 'egoistis' sangat menonjol. Dia sangat sulit diajak berbagi atau peduli dengan sekitarnya. Semisal meminjamkan mainan pada adik atau teman sebayanya. Bagaimana agar anak punya empati? Tidak mudah memang, melainkan butuh proses, keseriusan dan kedisiplinan dari orang tua untuk menumbuhkannya. Berikut ini hal-hal yang harus diperhatikan:
1. Berawal dari mendengar Empati adalah merasakan perasaan orang lain. Latihan untuk menumbuhkan empati anak dimulai dengan mendengarkan perasaannya, mau mendengarkan anak. Anak akan merasa berharga sehingga ia pun akan belajar menghargai orang lain. Namun pada praktiknya, mendengarkan perasaan orang lain bukanlah hal yang mudah. Perlu latihan keras dari orang tua sebelum mampu melatih anak agar mampu mendengarkan perasaan orang lain. Untuk mendengarkan anak maka bagi orang tua ada salah satu cara yaitu dengan menggunakan bahasa respek, seperti yang dilakukan oleh Rasulullah SAW dalam setiap berkomunikasi dengan anak-anak. Beliau selalu mendengarkan perasaan mereka (bukan sekadar kata-kata) sambil membaca bahasa tubuh yang diajak bicara. Dalam setiap berdiskusi dengan anak, orang tua hendaknya menjaga kontak mata.
2. Kelola emosi anak Orang tua hendaknya selalu membuatkan saluran emosi bagi anak. Jangan biarkan emosi tertumpuk menjadi lapisan-lapisan yang kian hari semakin tebal. Marah, sedih, kecewa, bukanlah sesuatu yang haram. Yang penting bagaimana anak diajarkan untuk menyalurkan kemarahan dengan cara benar. Saat anak emosi, orang tua harus mampu mengalihkan perhatian anak pada hal-hal dan kegiatan yang disukai anak dengan tetap mendengarkan dan menghargai perasaannya. Setelah itu ajaklah anak untuk bisa memahami perasaan dan kondisi lain di luar dirinya.
3. Orang tua sebagai teladan Tak mungkin orang tua menuntut anak memahami perasaan orang lain sebelum mereka bisa lebih dulu memahami perasaan anak. Tanpa keteladanan suatu nasihat tidak akan mampu mengubah anak, bagaimana bisa merasakan penderitaan orang lain, bila orang tuanya sendiri tidak berusaha untuk memahami perasaan anak.
4. Penghargaan bukan sogokan Dalam proses menuju pembentukan perilaku, anak memang membutuhkan rangsangan, begitu pula dalam mengasah empatinya. Anak-anak butuh rangsangan agar mampu terpacu untuk berbuat baik. Rangsangan pada anak umumnya diberikan dalam bentuk hadiah, namun hati-hati, jangan sampai hadiah terkesan sebagai 'sogokan'.
Sogokan adalah iming-iming pemberian agar anak mau berbuat atau tidak berbuat sesuatu. Penekanannya didasari pada mau tidaknya anak berbuat. Sementara hadiah adalah pemberian karena prestasi kebaikan tertentu yang diwujudkan atas dasar cinta dan sayang. Hadiah dianjurkan Rasulullah yang pernah mengingatkan pada sahabat-sahabatnya untuk selalu ber-tahaddu tahabbu, artinya saling memberi hadiah supaya saling mencintai. Jadi tujuan memberikan hadiah kepada anak adalah untuk membuatnya gembira dan merasa disayang. Idealnya orang tua sudah sejak jauh hari menyiapkan hadiah untuk anak. Hadiah ini diperlukan terutama pada tahap pertama di saat anak masih kecil. Setelah anak semakin besar atau tumbuh dewasa, hendaknya hadiah dikurangi bertahap dengan cara bijak.[] kholda
|