|
Belakangan ini, sejak tahun baru, harga kebutuhan pokok terus meroket. Bukan hanya naik harga, malah sudah ganti harga. Begitu gerutu ibu-ibu yang pusing karena uang belanja menjadi makin tak bernilai.
Bagi keluarga Muslim, kondisi ini dirasa makin berat. Terlebih jika pendapatan rumah tangga tidak bertambah, sementara pengeluaran naik karena meroketnya harga-harga. Maklum, pos pengeluaran keluarga Muslim bukan hanya untuk belanja bulanan demi memenuhi kebutuhan keluarga, juga ada pos-pos pengeluaran lain demi memenuhi sebuah kewajiban.
Semisal untuk menunjang aktivitas dakwah, perlu disisihkan uang untuk ongkos transportasi, pembelian produk-produk islami, kitab kajian, infak, dan keperluan insidental lainnya.
Lantas bagaimana cara mengelola keuangan agar lebih bijak, hemat dan efektif? Hal yang perlu diperhatikan adalah mengutamakan pengeluaran yang bersifat wajib dan tidak bisa ditunda. Karena itu, beberapa hal berikut bisa dipraktikkan:
1. Skala Prioritas Prioritaskan belanja untuk kebutuhan jasmani (hajatul udhawiyah) seperti makan dan minum. Ini tidak bisa dihilangkan, harus dipenuhi. Sisihkan secara khusus uang belanja untuk beli beras, susu anak, telur, bumbu, gula, dan sejenisnya. Namun pos ini masih bisa dihemat, semisal mengurangi minuman manis (gula), teh, kopi, dll.
Juga, untuk sementara singkirkan anggaran beli krupuk, sambal, bakso, mi ayam dan jajanan anak yang tidak bergizi. Memang, anak butuh ngemil, mungkin bisa dibuatkan alternatif makanan yang murah tapi tetap sehat. Seperti memilih buah pisang yang harganya relatif terjangkau.
2. Utamakan Pengeluaran Reguler Pengeluaran rutin berupa iuran sekolah anak, rekening listrik, air, telepon, pulsa, dan uang sampah. Pos ini bisa ditekan dengan berhemat cara pemakaiannya. Termasuk pengeluaran untuk komitmen dakwah, usahakan tidak diutak-atik. Insya Allah dengan niat menolong agama Allah, kita akan dapat pengganti yang lebih baik.
3. Mencari Alternatif Dalam membelanjakan uang, bisa memilih alternatif-alternatif yang bisa menghemat pengeluaran. Sedikit menurunkan kualitas hidup, tidak mengapa, asal segala kebutuhan bisa terpenuhi. Misal, jika semula kuat beli beras nomor satu, sekarang cukup nomor dua. Bila sebelumnya makan daging seminggu tiga kali, cukup dua atau bahkan sekali. Bila sebelumnya memakai deterjen merek terkenal, carilah deterjen lain yang lebih miring harganya. Toh fungsinya sama, pencuci pakaian. Dengan begitu pengeluaran bisa ditekan.
4. Mencari Penghasilan Tambahan Kenapa tidak? Saat ini hampir semua orang punya bisnis sampingan. Jual pulsa, produk herbal, bisnis online, kredit barang elektronik, dll. Asalkan halal, layak dicoba. Penghasilan tambahan ini bisa menunjang kebutuhan sekunder dan tersier, seperti belanja fashion keluarga, mebel rumah tangga atau barang elektronik. Bahkan, jika mendapat rezeki cukup, bisa menyisihkan untuk berinfak di jalan Allah.
5. Manajemen Tertulis Catatan pendapatan dan pengeluaran akan menjadi pengontrol yang sangat baik dalam mengendalikan isi dompet. Pengeluaran tiap hari hendaknya dicatat sehingga terlihat masih berapa sisa uang hari itu, atau hari itu sudah membelanjakan seberapa banyak uang. Memang butuh komitmen tinggi untuk melakukannya tapi bisa dicoba dari sekarang.
6. Belanja Sesuai Kebutuhan Ini tips yang sangat klise, tapi memang kerap dilanggar. Di antaranya, membuat daftar belanja rutin untuk barang yang dibutuhkan setiap bulan sesuai budget. Belanja di pusat perkulakan sehingga harga lebih mahal. Membeli barang dengan jumlah yang lebih banyak akan lebih menguntungkan karena lebih murah. Ini tentunya baru dapat dilakukan jika cash flow memungkinkan. Pandai-pandailah memilih barang yang berkualitas cukup baik dengan harga ekonomis. Belanjalah dalam kondisi perut kenyang sehingga tak perlu jajan di luar. Nah, selamat berhemat![] kholda
|