| [54] Pangan Sehat Lindungi Keluarga |
|
|
|
| Tuesday, 31 May 2011 15:48 |
|
Belakangan ini, ibu-ibu dibuat was-was terkait peredaran susu formula yang menurut penelitian Institut Pertanian Bogor (IPB), ada yang terkontaminasi bakteri Enterobacter sakazakii yang membahayakan. Apa bahayanya? Disebutkan dalam id.wikipedia.org bahwa infeksi E. sakazakii menunjukkan bahwa bakteri ini dapat menyebabkan radang selaput otak dan radang usus pada bayi. Kelompok bayi yang berisiko tertinggi terinfeksi E. sakazakii yaitu neonatus (bayi yang baru lahir hingga umur 28 hari), bayi dengan gangguan sistem tubuh, bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR), bayi prematur, dan bayi yang lahir dari ibu yang mengidap Human Immunodeficiency Virus (HIV). Selain E. sakazakii, produk pangan tak sehat lainnya juga menjadi ancaman serius bagi masyarakat, khususnya anak-anak. Banyak beredar produk-produk pangan berbahaya akibat produsen yang hanya memikirkan profit. Makanan instan, yang belakangan menjadi alternatif di tengah kesibukan orang tua, rupanya tak semuanya aman dan menyehatkan. Maklum, biasanya makanan siap saji itu mengandung zat-zat aditif yang membahayakan tubuh. Badan dunia FAO/WHO mencatat, saat ini ada kurang lebih 600 macam zat aditif yang biasa digunakan di seluruh dunia. Zat aditif yang berasal dari bahan alami relatif aman bagi kesehatan, namun kenyataannya lebih banyak zat aditif buatan (sintetis) yang digunakan. Ini karena memang harganya jauh lebih murah. Juga, kelebihan-kelebihan lain, seperti lebih melezatkan, menguatkan aroma, dll. Zat aditif itu berupa bahan pengawet, pewarna, pemanis buatan, pemutih, penguat rasa dan aroma, antikempal (biar tidak menggumpal), antioksidan, zat pengatur keasaman, zat pengemulsi, pemantap dan pengental. Belum lagi berbagai minuman yang ditawarkan para produsen. Dengan embel-embel menyehatkan, banyak meracuni masyarakat untuk mencicipinya. Terlebih anak-anak, sekali kenal minuman kemasan yang dijual warna-warni dengan harga murah meriah itu, biasanya akan kecanduan. Padahal, banyak bahaya mengancam di dalamnya. Generasi Rentan Jika mengonsumsi makanan tak sehat, tubuh akan menolak. Akibatnya, terjadi gangguan metabolisme tubuh hingga mengundang berbagai jenis penyakit. Perubahan gaya hidup yang membuat masyarakat lebih banyak mengonsumsi makanan instan, turut memperbesar peluang munculnya penyakit berat. Kematian 'mendadak' yang belakangan ini menjadi fenomena di sekitar kita, berkorelasi dengan perubahan gaya hidup (life style). Bukan hanya itu, penyakit yang dulu hanya menyerang golongan usia lanjut, kini usia penderitanya semakin muda. Tengok saja di rumah sakit-rumah sakit besar di Jakarta, penyakit diabetes, asma, kebocoran jantung, dll, tak hanya ada di poliklinik orang dewasa, tapi poli anak. Jangan heran pula bila ibu-ibu saat ini banyak yang melahirkan anak dengan gejala tidak normal. Diduga, salah satu faktor penyebabnya juga karena Ibu Kreatif Ibu-ibu harus selektif memilih bahan pangan keluarga. Hindari bahan pangan berpengawet, pakai pewarna dan pemanis buatan. Kalau punya banyak Awasi konsumsi jajan anak-anak. Lebih ideal, sediakan jajanan sehat di rumah. Bisa membuat sendiri atau beli tapi sudah dipilih. Itu pada tataran individu. Tentu saja, yang paling efektif dalam menjamin kecukupan, keamanan, kehalalan dan kethayiban pangan adalah negara. Ya, pemerintah adalah pelindung masyarakat. Pemerintah wajib mengamankan warganya dari bahan pangan berbahaya. Jika ada produk yang membahayakan, negara harus menarik dari peredaran. Produk haram apalagi, harusnya tidak dipasarkan secara bebas, kecuali pada komunitas tertentu. Itupun harus dengan pengawasan ketat. Sungguh, kita merindukan pemimpin amanah yang tak merasa tenang bila melihat rakyatnya resah akibat kekurangan pangan. Pemimpin yang gelisah ketika bahan pangan berbahaya beredar di pasaran. Pemimpin yang tegas menindak produsen-produsen nakal, juga lembaga yang meloloskan produk bermasalah. Pemimpin seperti ini hanya lahir jika ia bersyakhsiyah Islamiyah, lebih takut pada Allah SWT dibanding para pemilik modal. Jika pemimpin seperti ini lahir, |




Generasi penerus dalam ancaman rendahnya kualitas pangan





