| [55] Hari Perempuan, untuk Siapa? |
|
|
|
| Thursday, 07 July 2011 18:39 |
|
Hari Perempuan Internasional sudah berusia seabad, 8 Maret lalu. Sejak digulirkan, semangatnya masih sama: menuntut kesetaraan dan keadilan gender (KKG), alias persamaan peran laki-laki dan perempuan. Perjuangan aktivis perempuan selama kurun itu memang menampakkan hasil, tapi semu. Dikatakan “berhasil”, karena kini, isu KKG masih menjadi mainstream yang menjajah benak kaum perempuan. Bahkan anak-anak, remaja dan mahasiswi adalah sasaran empuk penanaman nilai-nilai gender equality. Ketika ditanya apa cita-cita mereka, pasti akan menyebut profesi-profesi di dunia karier yang menjadi ikon kesetaraan gender. Tertanam sudah bahwa menuntut ilmu itu untuk bekal bekerja. Kemudian, dikatakan “semu” karena hakikatnya perempuan justru keluar dari fitrahnya ketika memaksakan diri untuk mengikuti paradigma KKG. Isu KKG telah mendorong banyak perempuan menjadi minder, tidak percaya diri, rendah diri, terhina dan bahkan merasa sebagai perempuan tak berguna jika ia tidak bekerja alias tinggal di rumah saja. Seolah profesi ibu rumah tangga sedemikian tidak berharga. Terlebih jika ia mengecap pendidikan tinggi, dinilai rugi Akibatnya, para perempuan berebut peran di ranah publik, lebih bangga menyebut kariernya dibanding sebagai manajer rumah tangga. Ia lebih banyak mencurahkan waktu, pikiran dan tenaganya bagi perusahaan tempatnya bekerja, sembari menyembunyikan fitrahnya rapat-rapat. Padahal, konsekuensi peran ganda selalu dilema: rumah atau kantor? Makin Terpuruk Saat ini, kita perhatikan, banyak perempuan mandiri secara ekonomi, mengeksploitasi tubuhnya berdalih seni, terbang sana-sini karena tuntutan profesi, atau jadi TKW demi anak dan suami. Inikah keberhasilan KKG? Paradoks, karena diiringi dengan hancurnya institusi keluarga akibat tingginya angka perceraian, kerusakan moral, merajalelanya pornografi, perzinaan (perselingkuhan), pelecehan seksual dan kekerasan terhadap perempuan. Itulah buah digulirkannya KKG. Bukan mengangkat harkat perempuan, sebaliknya, memurukkan mereka dari kemuliaan dan kesejahteraan. Dikejar setinggi apapun, bahkan jika peran perempuan jauh melampaui laki-laki, tidak akan mengangkat kemuliaan perempuan. Kondisi ironis tersebut disebabkan KKG yang merupakan turunan dari ideologi demokrasi-kapitalisme, memang tidak menjamin terpenuhinya hak-hak perempuan. Penerapan sistem ini, hanya menghasilkan negara dan pemerintah yang gagal mengentaskan perempuan dari kemiskinan dan kelaparan akibat ketidak-adilan distribusi sumberdaya ekonomi. Sepanjang 2010 hampir semilyar penduduk dunia kelaparan, lebih dari separuhnya perempuan dan anak-anak. Sistem sekuler gagal memberikan keamanan dan ketentraman bagi perempuan. Perempuan menjadi korban perang yang harus menanggung beban sosial dan ekonomi keluarganya. Lebih dari 1,5 juta perempuan Afghanistan jadi janda karena kerakusan AS untuk menguasai sumber energi di sana. Sistem tersebut juga gagal memberikan jaminan pelaksanaan ketaatan agama bagi perempuan. Di banyak negara, perempuan dipaksa melepas kerudung dan pakaian Muslimahnya serta dilarang melanjutkan pendidikannya dengan alasan integrasi dan sekuritas padahal mereka sedang menjalankan perintah agama yang diyakininya. Islam Pro Perempuan Islam memandang, perempuan adalah makhluk yang secara manusiawi, sama dengan laki-laki. Allah SWT menciptakan potensi pada perempuan dan laki-laki sama. Punya akal, perasaan/hati, dan nafsu. Dalam diri perempuan dan laki-laki, sama-sama diciptakan hajatun udhawiyah (kebutuhan jasmani) dan gharizah (naluri). Tapi secara fisiologi, organ dan Perbedaan tugas ini bukan bararti membedakan kasta, martabat, apalagi diskriminatif. Ibarat neraca keseimbangan, ini justru untuk menciptakan harmonisasi di dunia. Ibaratnya ada siang ada malam, tak ada penilaian malam lebih mulia dari siang atau sebaliknya. Laki-laki dan perempuan pun demikian. Yang membedakan mulia tidaknya amalan. Firman Allah SWT dalam Surat Al Hujurat [49]:13: “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di hadapan Allah adalah yang paling bertakwa.” Karena itu, bagi Muslimah, tidak perlu Hari Perempuan. Apalagi jika hanya seremonial tiap tahun, tanpa pernah mengubah nasib. Perempuan hendaklah tetap pada fitrahnya, berkiprah sebagai perempuan. Sebab, setiap perbuatan yang menyalahi kodrat dan nurani, niscaya tidak akan menemukan kebahagiaan, kecuali semu. Untuk mewujudkan kemuliaan sejati, seluruh perempuan (dan laki-laki) harus meninggalkan sistem demokrasi-kapitalisme dan kembali pada ideologi Islam. Sistem inilah yang mampu menciptakan tatanan kehidupan sempurna karena berasal dari Dzat Yang Maha Sempurna. “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu”. (TQS Al Maidah:3). Wahai perempuan, saatnya memperjuangkan penerapan Islam secara komprehensif dengan tegaknya Khilafah Islamiyah. Hanya Khilafah yang menjamin hak-hak kalian, meninggikan harkat dan martabat serta menjamin kesejahteraan dan keadilan hakiki.[] kholda naajiyah |




Seabad diperingati, namun nasib kaum hawa makin terpuruk.





