Banner
[56] Algojo Itu Bernama Ibu PDF Print E-mail
Thursday, 04 August 2011 15:51

Sekulerisme memicu dehumanisasi pada kaum perempuan.

Hati-hati, ibu bisa menjadi algojo bagi sang buah hati. Ini peringatan serius. Sudah banyak kasus, ibu membunuh anak kandung dengan berbagai motif. Terakhir yang baru terungkap, seorang ibu, menjadi otak pembunuhan anak kandungnya Agnes Kharisma (17) di rumahnya, jalan Raya Sirsak, Jagakarsa, Jakarta Selatan, 7 Februari lalu. Ia mengaku tega menghabisi putri cantiknya karena sakit hati.

Pembunuhan ibu terhadap anak tak hanya terjadi di Indonesia. Di berbagai negara, fenomena seperti itu semakin lumrah. Ironisnya, pembunuhan kerap dipicu masalah sepele. Seperti di Korea Selatan, ada ibu yang tega membunuh putranya yang berusia 3 tahun. Kim (27), setiap hari main game 10 jam dan membiarkan dua anaknya menangis berjam-jam. Kesal, dibantainya sang buah hati hingga tewas.

Kisah lain di Florida, AS. Alexander tobias (22), ibu yang kecanduan main game farmville, menghabisi  bayinya, Dylan (3 bulan), yang rewel. Ia mengaku sangat kesal ketika Dylan terus menangis, sementara ia asyik main game. Ia pun mengguncang tubuh mungil korban sekencang-kencangnya sampai berhenti menangis selamanya. Ibu sinting ini lebih asyik memelihara makhluk virtual dibanding mengasuh dan mendidik anak.

Dehumanisasi
Dewasa ini, nilai-nilai kemanusiaan semakin runtuh. Perlahan tapi pasti, terjadi dehumanisasi pada diri makhluk bernama manusia. Bahkan, juga menimpa kaum perempuan (ibu), yang notabene makhluk berhati lembut, penuh kasih dan empati. Ibu yang seharusnya menjadi tempat berlindung, mendulang
cinta, menuai kasih dan merajut cita bagi si anak, malah menjadi algojo bagi mereka. Ke mana gerangan kesucian hati bunda?

Pangkal masalahnya karena tersingkirnya nilai-nilai spiritual dari diri manusia, termasuk kaum hawa. Ya, ideologi sekulerisme yang memisahkan agama dari
kehidupan, telah menjadikan manusia-manusia kehilangan jiwa. Hati nurani menjadi tumpul akibat minimnya siraman rohani, sementara gelombang liberalisasi mendera dengan derasnya.

Sekulerisme yang mengajarkan kebebasan, menginjeksikan racun-racun pembunuh nilai-nilai kejiwaan. Persaingan di berbagai bidang terjadi bak hukum rimba, membuat manusia-manusia menjadi beringas. Stres dan depresi sosial menggejala.

Terlebih kaum hawa yang menjadi sasaran tembak gerakan liberalisasi di seluruh dunia. Gambaran perempuan ideal yang utopis, menyebabkan jutaan perempuan di dunia sibuk mengejar  fatamorgana. Mimpi bisa tampil molek bak boneka barbie, mendorong mereka mati-matian mencari materi.  Tak terkecuali ibu-ibu. Meski sudah 'laku', penampilan tetap nomor satu. Akibatnya, mereka lebih intensif 'mengaji' metode-metode perawatan tubuh dan penampilan dirinya, dibanding mendalami tips-tips mendidik anak misalnya.

Bahkan, anak kerap dianggap pengganggu, penghambat terwujudnya mimpi-mimpi. Konflik ibu-anak pun terakumulasi menjadi sebuah kebencian dan kedengkian. Tak ada lagi kasih sayang, bahkan sense sebagai ibu makin luntur didera tuntutan hidup yang makin tinggi dan berat. Semua terjadi karena hilangnya kesadaran sebagai hamba dari sang pencipta.

Humanis
Islam sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dengan mengajarkan akhlak sebagai hukum syara'. seperti lemah lembut, mencintai sesama, dermawan, empati, bertutur kata baik, menghormati sesama, dll.

Terlebih terhadap keluarga, suami dan anak-anak wajib ditumbuhkan nilai-nilai kasih sayang dilandasi ketakwasan. kasih dalam keluarga ini sejatinya bersifat khas, berlaku sepanjang hayat. bahkan jika anak berpaling dari orangtua dan menghinanya, kasih orangtua semestinya tetap terpelihara. doakan, mudah-mudahan sang anak menyadari kesalahannya. bukan sebaliknya, memelihara kebencian, kedengkian dan berujung pada konflik hingga penghilangan nyawa.

Memang, dalam kehidupan sehari-hari, kita sering kali mengalami konfrontasi yang menyebabkan timbulnya perilaku agresif. sebab, anak dan orang tua sama-sama punya potensi untuk tertekan, stres dan depresi atas berbagai problem yang dihadapi. Jika ini terjadi, masing-masing justru harus saling mengingatkan, dengan lemah lembut membimbing dan berdoa agar tidak menjadi bom waktu.

Harmonis
Allah SWT memerintahkan anak untuk berbuat baik pada orangtuanya, sebaliknya, orangtua pun wajib memenuhi hak-hak anak.

Allah SWT berfirman:  “dan orang yang berkata kepada kedua orang tuanya:“cis bagi kamu berdua, apakah kamu berdua memperingatkan kepadaku bahwa aku akan dibangkitkan, padahal sungguh telah berlalu beberapa umat sebelumku? lalu, kedua ibu bapaknya itu memohon kepada allah seraya mengatakan: alangkah celaka kamu (kalau begini), berimanlah! sesungguhnya janji allah adalah benar”. Lalu dia berkata: ini tidak lain hanyalah dongengan orang-orang dahulu belaka”. (TQS. Al-Ahqaaf, 17)

Perintah dalam ayat ini adalah anjuran yang disertai peringatan dan kelemahlembutan. perintah Allah untuk orang tua yang terdapat dalam ayat tadi adalah agar mereka mendidik anaknya untuk bersikap hormat dan lemah lembut kepada orangtua. dengan alasan inilah Allah SWT berfirman:
“Dan kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada orang tuanya….”. (TQS. Al-Ahqâf: 15)

Hal ini mengingat perjuangan ibu  sewaktu  mengandung, melahirkan dan merawat anaknya, juga pendidikan ayah sejak ia bayi. kesadaran akan hal ini bisa menimbulkan rasa kasih sayang dan sifat pemaaf dalam diri anak.

Sebaliknya, orang tuapun harus melaksanakan beberapa kewajiban mereka terhadap anaknya. orang tua tidak boleh menelantarkan anak, membuang apalagi membunuhnya. na'udzubillahi min zalik.

Kekal
Hubungan orangtua-anak berlaku dunia-akhirat, berjalan semasa hidup sampai wafatnya. Bagaimanapun buruknya orang tua, anak harus hormat. Sebaliknya, seburuk-buruk anak, dia adalah darah daging sendiri. Silaturahmi tidak boleh terputus.

Dalam hadits diriwayatkan, jika seseorang telah wafat, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: amal jariyah, ilmu yang bermanfaat dan doa anak yang saleh (HR. Bukhari dan Muslim). Anak yang saleh tentu lahir dari kedua orangtua yang saleh pula. Orangtua seperti ini tidak akan membiarkan anaknya menjadi durhaka. Allah SWT berfirman yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…” (TQS At-Tahrim: 6).

Demikianlah, harmonisasi antara orangtua dan anak, akan memelihara kelemahlembutan, kasih sayang dan nilai-nilai kemanusiaan. Kondisi ini akan terwujud manakala sekulerisme disingkirkan, diganti dengan syariah Islam secara kaffah.[] kholda naajiyah


 

Untuk menambah keberkahan, disarankan untuk menyebarkan artikel pada situs ini dengan menyebutkan URL sumbernya.

Developed by SmileBizMedia. All rights reserved