| [56] Pola Asuh Sensitif Gender |
|
|
|
| Thursday, 04 August 2011 16:04 |
|
Karena itu, agar perkembangan anak optimal, perlu penerapan pola asuh yang sensitif gender. Artinya, model pengasuhan dengan memperhatikan perbedaan jenis kelamin. Jangan sampai memperlakukan sama antara anak laki-laki dan perempuan, karena sudah kodratinya, laki dan perempuan berbeda, bahkan sejak bayi sekalipun. Faktanya, anak laki-laki lebih aktif, lebih agresif dan menyukai kegiatan motorik kasar. Sedangkan anak perempuan lebih menyukai kegiatan yang membutuhkan ketekunan dan mengeksplor motorik halus. Umumnya, anak laki-laki memulai belajar mewarnai lebih lambat dibanding anak perempuan. Anak laki-laki lebih berani naik pohon atau jungkir balik dibanding anak perempuan. Anak perempuan memiliki daya ingat jangka panjang lebih hebat sehingga mampu menyelesaikan soal dengan cara yang sudah diajarkan. Sementara lelaki punya kreativitas dan keberanian mengambil risiko lebih besar dengan memilih menggunakan cara baru untuk menyelesaikan soal yang sama. Inilah pentingnya menerapkan pola asuh sensitif gender untuk lebih memahami apa kebutuhan anak sesuai dengan jenis kelaminnya masing-masing. Perlakuan terhadap anak laki-laki tentu berbeda dengan perlakuan terhadap anak perempuan. Semua disesuaikan dengan keunikan masing-masing jenis kelamin, yang tentu berbeda secara biologis, perkembangan motorik dan kognitif, serta perilaku sosial dan kepribadiannya. Dengan demikian, orang tua tidak serta merta melabeli 'nakal' atau 'pemberontak' untuk anak laki-lakinya yang serba aktif. Juga, tidak mencap 'lelet' atau 'tulalit' anak perempuannya yang serba perhitungan. Namun, perlu dicatat, pola asuh sensitif gender harus menyesuaikan dengan keadaan dan kebutuhan anak. Orangtua yang kurang sensitif gender akan memperlakukan sama anak laki-laki maupun perempuan. Misalnya, semua anak harus belajar menari atau semua anak harus berani memanjat pohon tanpa memerhatikan minat dan kenyamanan anak dalam melakukannya. Pola asuh yang kurang sensitif gender seperti ini mengakibatkan anak merasa tidak nyaman, kebingungan dalam berperan sesuai jenis kelamin. Sehingga pada tingkat yang lebih serius, dapat berakibat pada kebingungan orientasi seksual hingga depresi. Sebaliknya, perlakuan terlalu sensitif gender, juga kurang baik pengaruhnya. Misalnya, anak perempuan tidak boleh bekerja kasar, semisal mencuci mobil, harus selalu menurut, lemah lembut, dll. Sedangkan anak laki-laki tidak boleh menangis, tidak boleh memasak dan tidak boleh pakai baju pink, harus berwarna gelap, dll. Hal itu akan membuat anak merasa diperlakukan tak adil. Ia akan membandingkan diri dengan saudaranya yang berbeda jenis kelamin. Anak akan memiliki konsep diri terbatas, kurang fleksibel terhadap peran yang ada, sehingga kelak tidak empati terhadap lawan jenis. Misal, sebagai laki-laki merasa tak pantas menggendong bayi. Jadi, idealnya, menerapkan pola asuh sensitif gender tapi fleksibel. Rasulullah SAW pun mencontohkan, anak laki-laki harus bersikap lembut, penuh kasih sayang, bahkan tak tabu menangis. Sebaliknya, anak perempuan juga perlu menjadi pribadi mandiri, tidak cengeng dan berani mengambil risiko. Pola asuh seperti ini akan membuat anak berpikiran terbuka, fleksibel, mudah beradaptasi dengan keadaan, trampil di berbagai bidang, lebih ekspresif, dan lebih bahagia hidupnya.[] kholda |




Laki-laki dan perempuan jelas berbeda. Sejak usia dini pun, meski tanpa dipaksa, mereka sudah menunjukkan kecenderungan yang berbeda. Anak-anak perempuan lebih suka main boneka, anak laki-laki lebih memilih main bola atau mobil-mobilan. Itu bukan semata-mata faktor pendidikan atau lingkungan, tapi fitrah.





