|
[41] Meneropong Normalisasi Kerja Sama Militer AS Indonesia |
|
|
|
|
Friday, 24 September 2010 17:31 |
|
Harits Abu Ulya, Ketua Lajnah Siyasiyah DPP HTI
Sudahkah Indonesia di-anggap sebagai anak manis Amerika lagi? Mengapa embargo Amerika atas militer Indonesia selama 12 tahun tiba-tiba dicabut? Kompensasi apa yang diberikan Indonesia kepada Amerika atas pencabutan embar-go ini? Mestilah Menteri Pertahan-an AS Robert Gates dan Presiden SBY yang tahu pasti setelah keduanya bertemu 22 Juli lalu di Jakarta. Sebenarnya, Amerika telah melonggarkan embargo peralat-an militernya sejak 2005 lalu tidak lama setelah SBY terpilih sebagai presiden. Namun normalisasi itu sangat terbatas. Dalam proses selanjutnya, Amerika mengajukan berbagai persyaratan.
Menhan AS Robert Gates mengatakan, AS akan mencabut larangan kontak dan pelatihan ke Kopasus setelah pemerintahan Obama menyimpulkan bahwa Kopasus telah dibersihkan dari dan memiliki komitmen kepada HAM. Melalui pembicaraan sela-ma berbulan-bulan, akhirnya AS meyakini Kopasus telah meme-nuhi persyaratan. Pejabat Dephan AS menga-takan, Indonesia telah member-sihkan Kopasus dari orang-orang yang terlibat dalam pelanggaran HAM. Kopasus pun dinilai telah berhasil memprofesionalkan para pejabatnya dalam satu dekade ini. Dan kini yang memegang koman-do adalah orang-orang yang di-anggap memiliki reputasi bersih.
Keputusan itu tak ayal men-dapat protes dari senator Patrick Leahy, yang dahulu memprakarsai lahirnya UU yang melarang ker-jasama militer dengan militer manapun yang terindikasi me-langgar HAM. Begitu juga kepu-tusan itu juga mendapat protes dari organisasi da aktivis HAM. Editorial Washington Post mengo-mentari para pengkritik itu. “Kami berpikir bahwa mereka yang mengkritik itu melupakan poin kunci. Indonesia saat ini sudah berdemokrasi.
Dalam persiapan penca-butan larangan itu, pejabat Dep-han AS mengatakan bahwa mere-ka telah meminta pemerintah Indonesia dalam bulan-bulan lalu untuk memindahkan “hampir selusin” anggota Kopasus yang terlibat pelanggaran HAM. Yang paling akhir adalah pencopotan Letkol Tri Hartomo yang divonis penjara oleh pengadilan militer akibat pelanggaan yang menye-babkan terbunuhnya aktivis Pa-pua Theys Eluay. Satu faktor penting di balik normalisasi kerja sama AS dengan Kopasus itu adalah dalam kerang-ka menyikapi tantangan yang muncul dari Cina. Kurt Campbell, asisten menteri untuk Asia Timur dan Pasifik baru-baru ini berko-mentar, “Terdapat kebijakan yang baik dari Cina dalam melibatkan pihak lain di kawasan.”Di sinilah pentingnya posisi Indonesia di mata AS.
Amerika tak mau kalah pe-ngaruh dengan Cina dalam mendekati Indonesia. PM Wen Jiabao dalam kunjungan di Jakar-ta, berjanji akan datang dengan membawa banyak hadiah untuk bangsa Indonesia. Ernie Bowring, ahli di the Center for Strategic and Inter-national Studies (CSIS) mengata-kan, saat ini AS terlihat tengah berupaya mengepung Cina de-ngan memperkuat hubungan dengan India, kemudian secara bertahap membangun hubungan dengan Vietnam dan melalui Jepang, Australia dan Korea Sela-tan. AS berupaya mengokohkan posisinya dalam menghadapi pengaruh Cina. Pilihannya bagi AS adalah menjadikan Indonesia sebagai mitra strategis (baca: sekutu). Washington juga memer-hatikan pentingnya Indonesia bagi bisnis AS, peluang perda-gangan dan investasi di pasar yang secara historis sangat meng-untungkan bagi bisnis asing. Penurunan porsi perdagangan dan investasi AS mungkin akan sulit membangkitkan pertum-buhan ekonomi kawasan ini. Akan tetapi hampir tidak ada penolakan terhadap pengaruh kultur AS, meski Indonesia menolak politik AS di Timur Tengah. Jadi normalisasi kerja sama AS dengan Kopasus merupakan simbol yang bisa jadi sama pentingnya dengan sebagian isi kunjungan Obama yang sudah tertunda dua kali dan akan dijad-walkan pada November menda-tang. Tidak heran bila peng-umuman pencabutan embargo peralatan militer ini justru di-umumkan di Jakarta, bukan di Amerika. Bowring menulis, “Semua itu membuat lebih penting sehingga AS menghilangkan hambatan dalam dirinya untuk memper-kokoh pengaruh di Asia Tenggara dengan fokus kepada Indonesia dalam mencari dan mendefini-sikan kepentingan dan partner strategisnya. Keputusan tentang Kopasus ini haruslah baru sekedar permulaan”. Itulah yang terjadi. Indonesia jadi bemper Amerika.[] |