Banner
[44] Fenomena Kehancuran Suatu Bangsa PDF Print E-mail
Thursday, 06 January 2011 19:02

Oleh: Abah Hideung,
Pimpinan Ponpes An Nidzamiyah Cicurug, Sukabumi, Jawa Barat

Alquran mengajukan suatu norma sejarah bagi kehidupan suatu bangsa/umat yang akan mengalami kehancuran. Di antaranya pada ayat-ayat Al-Isra, 17:16; (Sabaa, 34:34). Mereka yang hidup mewah akan hancur. Tentang mereka yang hidup mewah ini masih bisa dilacak pada surat : Al Mu`minun 23:33,64, Al Anbiya 21:13, Hud 11:116, Az Zukhruf, 43:23, yaitu mereka yang kufur terhadap sistem kehidupan yang dibawa oleh para rasul dan mendustakannya. Mereka meng-ikuti sistem kehidupan dzalim yang tidak berkeadilan, mereka tamak dan rakus sebagai akibat dari sistem riba-nya.

Dari ayat-ayat tersebut kita mendapat penjelasan :
Pertama: Bentuk kalimat bersyarat pada surat Al Israa 17:16 di atas mene-rangkan kepada kita, bahwa adanya kaitan antara mereka yang hidup mewah dengan kehancuran mereka sebagai konsekuensi-nya dan karena penentangannya kepada sistem yang dibawa oleh para rasul. Terbelahnya suatu masyarakat atau dunia ke dalam dua kategori, yaitu kelompok kecil si kaya yang mewah dan massal si miskin yang sengsara adalah merupakan pertanda akan hancurnya tatanan dan komunitas tersebut.
Kehidupan mewah para pemilik kebijakan dan para penentu arah suatu negeri yang umumnya hanya beberapa gelintir saja di mana massal manusia hidup miskin dan papa adalah merupakan pertanda telah dekatnya kehancuran tatanan bangsa tersebut. Atau dalam level dunia, hanya beberapa gelintir negara saja yang kaya raya, sementara seratusan negara hidup dalam kemiskinan, maka hal ini merupakan pertanda bahwa sistem yang sedang berlaku sudah mendekati kebang-krutannya.

Kedua: Penentangan mereka yang hidup mewah terhadap para rasul bukanlah terjadi hanya satu kali, tetapi berulang-ulang sebagaimana dinyatakan dalam surat Sabaa 34:34 di atas.

Ketiga: Selalu ada kaitan negatif dan kontradiktif antara antara misi-misi ilahi dalam kehidupan sosial masyarakat dengan posisi yang diambil oleh mereka yang congkak dan hidup mewah. Bisa dikatakan, bahwa mereka yang hidup mewah adalah penentang-penentang alamiah terhadap dakwah para rasul dalam suatu masyarakat.

Dalam berbicara norma sejarah, ukuran hidup mewah tidak ditimbang dengan timbangan individual, sebab seja-rah tidak berbicara individu, tetapi ber-bicara sebuah sosial masyarakat. Qaryah, yakni penghuninya, yaitu suatu umat atau bangsa. Bagaimana sikap para penguasa dan para pendukungnya yang hidup me-wah di suatu negeri atau dunia terhadap dakwah ilahiyah yang diusung oleh para rasul dan para penerusnya.
Masalah sosial ini bisa dilihat dalam ruang dan waktu sejarah masa lalu sebagai fakta. Kita ambil misalnya fakta sejarah Firaun dan Bani Israil. Secara akal telanjang, tidak mungkin Nabi Musa dan Bani Israil yang tertindas tanpa senjata bisa menga-lahkan Firaun dan wadya-baladnya yang hidup mewah dengan persenjataan yang sangat lengkap, tetapi dalam realitas, ternyata kemustahilan itu menjadi ter-pecahkan.

Bahwa Allah berkehendak lain, sebagaimana firman-Nya:
“Dan Kami hendak memberi karunia kepada mereka yang tertindas (Bani Israil) di bumi (Mesir) itu, dan hendak menjadikan mereka para pemimpin, serta menjadikan mereka yang mewarisi (bumi)”. Dan Kami teguhkan kedudukan mereka di bumi, dan Kami perlihatkan kepada Firaun dan Haman bersama balatentaranya apa yang mereka takutkan”. (Al Qashash 28:5,6).

Dengan munculnya Dawud dan Sulai-man sebagai Khalifah di bumi (S. Shad 38:26) maka sempurnalah firman-Nya dan terbuktilah sebagai fakta sejarah yang tak terbantahkan. Mereka Bani Israil yang selama 400 atau 430 tahun menurut Bibel diperbudak di Mesir, tetapi ketika di Palestina mereka menjadi penguasa dan pewaris bumi. Hanya karena kedurhakaan Bani Israil sendirilah mereka terusir kembali dari tanah yang dijanjikan. Sejarah ini pun pasti berulang kembali.

Sebenarnya, Bani Israil tidak harus menunggu kedatanagan Nabi Dawud, di zaman Nabi Musa pun Allah SWT telah menjanjikan kemenangan buat mereka, tetapi karena kekeras-kepalaan merekalah melawan Nabinya sehingga kemenangan mereka diundur sampai kedatangan Nabi Dawud. Ketika Nabi Musa memerintahkan berperang kepada Bani Israil untuk mela-wan Penguasa Palestina, Bani Israil men-jawab:
“Wahai Musa, sampai kapan pun kami tidak akan memasukinya selama mereka masih ada di sana, maka pergilah engkau bersama Tuhan-mu dan berperanglah kamu berdua, biarlah kami menunggu di sini”. Sehingga akhirnya Musa meratap: “Ya Tuhanku, aku hanya menguasai diriku sendiri dan saudaraku (Harun), sebab itu, pisah-kanlah antara kami dengan orang-orang yang fasiq itu”. (Al Maidah 5:24,25).

Akhirnya, sepeninggalan Dawud dan Sulaiman, daging Bani Israil dicabik-cabik oleh harimau Mesir, oleh singa Romawi dan macan Babylonia, kemudian sisanya ter-pencar ke seantero dunia sebagai diaspora. Tetapi karena kedurjanaan mereka jugalah sejarah akan berputar ke titik semula. Begitulah Allah pergilirkan antara hari-hari kemenangan dan kekalahan, antara masa-masa kejayaan dan kesialan, antara yang tertindas-hina dan penguasa mewah, sebagaimana pergiliran siang dan malam.

Terbelahnya suatu masyarakat, baik tingkat nasional maupun dunia, merupa-kan akibat dari suatu sistem. Dan di dunia sekarang ini kita tidak sulit mencari biang keroknya, itulah dia Kapitalisme-Indivi-dualisme dan Sosialisme-Komunisme, se-bagai anak kembar dari Naturalisme.
Kedua sistem inilah yang telah me-nyengsarakan banyak negara dan menaik-kan beberapa gelintir negara menjadi kaya raya, baik dengan penjajahan fisik secara langsung maupun penjajahan sistem seca-ra tidak langsung.

Peristiwa sejarah akan terus berulang di atas prinsip yang sama meskipun dengan wajah, ruang dan waktu yang berbeda. Barat yang kapitalis adalah penjelmaan kembali Romawi pada abad ke-7 M, dan Timur yang sosialis adalah reinkarnasi dari Persia pada abad yang sama, menjelang kedatangan sistem kehidupan baru yang dibawa oleh Nabi Muhammad. Kemudian pertarungan ketiga kekuatan itu akhirnya dimenangkan oleh kekuatan yang baru, yang melenyapkan sistem riba.

Posisi abad ke-21 ini sebentar lagi akan menyamai posisi abad ke-7 di masa Nabi Muhammad, hanya tinggal menung-gu Blok Timur lebih melengkapi per-senjataan militernya. Namun kedua sistem itu akan hancur (Ali `Imran 3:103).

Maka, tampakkanlah kepada dunia konsep kehidupan yang telah dicontohkan oleh Rasul serta para khalifah sesudahnya. Kini dunia tengah menunggu sistem baru. Percayalah, sebentar lagi -menurut ukuran sejarah-, malam akan berganti siang. Sekali biji tertanam, akar akan terhujam, batang akan merindang, pohon Khilafah dan Syari`ah akan menyajikan panen di setiap ruang dan waktu di ujung akhir nafas sejarah, dengan seizin Allah SWT.[]

 

Untuk menambah keberkahan, disarankan untuk menyebarkan artikel pada situs ini dengan menyebutkan URL sumbernya.

Developed by SmileBizMedia. All rights reserved