Banner
[45] Patologi Kekuasaan Israel PDF Print E-mail
Friday, 14 January 2011 15:02

Oleh: Mohammad Shoelhi,
Pengamat politik internasional, penulis buku Di Ambang Keruntuhan Amerika

Sebelum negara Israel berdiri, wilayah Israel merupakan wila-yah Palestina. Israel mendirikan negara di Palestina melalui berbagai macam aksi teror seperti intimidasi, memaksa, mengusir, menyerang, menyiksa, dan bahkan membunuh warga Palestina secara keji. Hingga kini, kebiadaban teroris itu tak henti-hentinya dilancarkan terhadap Palestina, bahkan secara lebih sistematis lagi.
Selama ini, apapun jalan yang ditempuh untuk menghentikan kebiadab-an Israel tak pernah efektif. Jangankan seruan dan kutukan, sejumlah resolusi DK-PBB pun tak satupun digubris. Jangankan satu negara maju berperang, pasukan multinasional PBB yang bertugas menga-wasi jeda perdamaian pun tak ditakuti, bahkan malah ditembaki. Deret pelang-garan terhadap hukum interna-sional yang dipertontonkan Israel begitu panjang. Terhadap pelanggaran itu, PBB sendiri tak sanggup menjatuhkan sanksi atau hukum-an. Memperhatikan kebia-daban Israel yang melampaui batas, tidak sulit menarik kesimpulan, bahwa pasti ada yang salah dengan bangsa dan negara zionis itu.

Patologi Kekuasaan
Ada anggapan di tengah kaum Yahudi, bahwa Yahudi adalah keturunan bangsa Aria, oleh karena itu Israel pun merasa menjadi warga kelas satu dunia. Jika Israel warga kelas satu dunia, maka sepatutnya Israel beradab. Tetapi pada kenyataannya, selama ini Israel selalu berperilaku biadab. Dalam pergaulan antarbangsa, Israel tidak menjadi negara terdepan dalam penerapan etika dan hukum internasional. Justru fakta menun-jukkan yang sebaliknya, bahwa Israel adalah negara barbar.
Para pakar politik internasional me-nyebut Israel sebagai teroris sejati (the real terrorist), karena tidak ada perilaku teroristis yang begitu canggih, ganas, terus-menerus dan sistematis selain yang diperbuat Israel. Antara lain atas dasar itulah, tidak sedikit pengamat dan pakar politik internasional meyakini, bahwa bangsa dan negara Israel selama ini mengidap patologi kekuasaan. Kebenaran bagi pengidap patologi kekuasaan ini adalah, bahwa Israel harus tampil paling berkuasa dan tidak meng-hendaki ada pihak lain yang memper-soalkan kekuasaannya.
Keyakinan adanya patologi kekuasaan pada Israel timbul terutama dari fakta dan data perilaku Israel yang tak dapat diterima akal sehat. Setiap orang yang berakal sehat tak mampu memahami perilaku biadab Israel. Bahkan PBB pun hanya bergeming menghadapi sepak terjang Israel yang penuh dekadensi di panggung pergaulan antarbangsa.
Sangat meyakinkan, bahwa bagi Israel, Israel tak akan tunduk pada lembaga dunia atau aturan hukum internasional manapun. Lagi pula bagi Israel, tak ada perlunya peduli terhadap pertimbangan hukum, etika, logika, rasio, moral, psikologis, nurani, dan sebagainya, pihak manapun baik secara sukarela maupun terpaksa harus menerima apapun yang dilakukannya. Patologi kekuasaan yang dianut Israel ini menentukan berlakunya semboyan: Israel harus menjadi satu-satunya pihak paling berkuasa di atas dunia dengan segala cara dan aturannya sendiri.

Permusuhan tak Seimbang
Meski perang terbuka antara Israel versus Palestina dengan dukungan Hizbullah kini mengalami jeda, tidak berarti pecahnya perang di kemudian hari bisa dicegah. Mengapa? Karena, kedua belah pihak belum mencapai tujuannya.
Ditinjau dari pemicunya, realitas perang ini menunjukkan aksi spiralistik dengan pemicu serangan militer atau tindakan militer berlebihan oleh Israel. Dalam hal penggunaan kekerasan senjata berlebihan ini, kegilaan kekuasan Israel sangat jelas tampak. Dipandang dari segi jumlah pasukan dan kecanggihan serta keragaman alat dan mesin perang, sesungguhnya permusuhan antara Israel-Palestina menghadapkan dua kekuatan yang sangat tak seimbang. Israel jauh lebih unggul segalanya.
Tak heran Israel telah mencabut ribuan nyawa warga Palestina dengan keji dan biadab.

Obsesi Patologi Kekuasaan
Lantas, obsesi apa yang diinginkan Israel dengan patologi kekuasaannya itu? Tak diragukan, bahwa kemauan terbesar Israel dalam permusuhan dengan Palestina, Israel tidak menghendaki Palestina merdeka atau memiliki angkatan bersen-jata, bahkan seluruh persenjataan Hizbullah pun ingin dilucutinya. Kemauan Israel ini menyulitkan posisi Libanon, mengingat kekuatan pertahanan Libanon ditopang milisi Hizbullah. Sementara itu, Israel akan sangat keras menekan Libanon hingga Libanon semakin lemah.
Anehnya, menyaksikan kenyataan ini, sejak gencatan senjata Arab-Israel tak ada lagi negara, baik di Timur Tengah maupun di Dunia Islam, sadar dan bersedia me-nunjukkan solidaritas pertahanan dengan Palestina. Selama ini berbagai langkah diplomatik maupun pengerahan pasukan multinasional di bawah bendera PBB, semuanya tak membawa hasil berarti. Tamsilnya, bagaimana mungkin pesakitan bisa berkomunikasi dengan orang waras? Lebih musykil lagi karena kebiadaban yang selama ini dipertontonkan si pesakitan (baca: Israel) bersumber dari faktor patologi.

Menunggu Runtuhnya Patron
Kendati terasa musykil untuk meng-hentikan perilaku biadab Israel terhadap Palestina, Dunia Islam tampaknya tak perlu berkecil hati. Melawan Israel yang meng-idap patologi kekuasaan memang berat, karena siapapun mengakui bahwa penyakit paranoid susah disembuhkan.
Skeptisme tak perlu karena kebiadab-an Israel pada sisi lain bergantung pada keadidayaan Amerika Serikat. Hingga waktu tertentu Israel tak akan bisa lagi berbuat sewenang-wenang, karena patron-nya (AS) kini tengah menapaki detik-detik keruntuhannya. Negara adidaya ini tak akan jaya selamanya. Pada momen tertentu, AS akan limbung oleh berbagai sebab yang tak dapat ditanggulanginya. Maka, ketika itulah Israel pun akan oleng hingga sama sekali tak mampu berkutik.
Keruntuhan AS akan terjadi akibat kelumpuhan ekonominya. Dalam sepan-jang sejarah AS, negara adidaya ini belum pernah mengalami kesulitan ekonomi separah sekarang.  Bila AS runtuh, maka dapat dipastikan Israel pun akan ambruk. Dengan demikian, runtuhnya AS adalah harapan bagi dunia untuk mengenyahkan patologi paranoid yang selama ini didemonstrasikan Israel.[]

 

Untuk menambah keberkahan, disarankan untuk menyebarkan artikel pada situs ini dengan menyebutkan URL sumbernya.

Developed by SmileBizMedia. All rights reserved