|
 Oleh: Lely Noormindhawati, Ibu Rumah Tangga dan Penulis Lepas
Setiap tanggal 1 Desember masyarakat disibukkan oleh peringatan Hari AIDS sedunia. Meskipun berbagai peringatan digelar termasuk kampanye kondomisasi yang telah dicanangkan BKKBN sejak tahun 2007, upaya tersebut ternyata belum efektif menghambat laju penyebaran virus HIV/AIDS di tanah air. Terbukti jumlah pengidap virus HIV/AIDS mengalami kenaikan secara signifikan. Tahun ini saja kasus terinfeksi HIV/AIDS diperkirakan mencapai 93 ribu-130 ribu kasus. Penyebaran HIV/AIDS telah menjadi fenomena gunung es, sebab jumlah penderita HIV/AIDS yang tampak sejatinya hanyalah 5-10 persen dari jumlah keseluruhan.
Ilusi Kondomisasi Selama ini kondomisasi dijadikan senjata pamungkas untuk mencegah penularan virus HIV/AIDS. Namun sejatinya kondomisasi adalah kebohongan publik yang terselubung. Berikut ini kutipannya: (1). Dirjen WHO Hiroshi Nakajima (1993), “Efektivitas kondom diragukan.” (2). Penelitian Carey (1992), Division of Pshysical Sciences Rockville, Maryland, USA: “Virus HIV dapat menembus kondom”. (3). Laporan dari Konferensi AIDS Asia Pacific di Chiang Mai, Thailand (1995): “Penggunaan kondom aman tidaklah benar. Pada kondom (yang terbuat dari bahan latex) terdapat pori-pori dengan diameter 1/60 mikron dalam keadaan tidak meregang; dalam keadaan meregang lebar pori-pori tersebut mencapai 10 kali. Virus HIV sendiri berdiameter 1/250 mikron. Dengan demikian, virus HIV jelas dengan leluasa dapat menembus pori-pori kondom”. (4). V. Cline (1995), profesor psikologi Universitas Utah, Amerika Serikat, “Jika para remaja percaya bahwa dengan kondom mereka aman dari HIV/AIDS atau penyakit kelamin lainnya, berarti mereka telah tersesatkan.” (5). Hasil penelitian Prof. Dr. Biran Affandi (2000): “Tingkat kegagalan kondom dalam KB mencapai 20 persen.
Kondomisasi telah membuka pintu seks bebas bagi manusia, termasuk remaja yang juga mendapatkan sosialisasi kondomisasi berkedok Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR). Bahkan dengan fasilitas ATM Kondom di beberapa kota besar, semua kalangan bisa mendapatkan kondom dengan harga cukup terjangkau. Siapapun, termasuk remaja, diberikan kesempatan luas melakukan hubungan seks asalkan aman (menggunakan kondom). Puncaknya, kehidupan ala binatang yang semula ditabukan justru diadopsi tanpa malu-malu lagi!
Hal senada diungkapkan pula oleh Mark Schuster, seorang pediatri di University of California. Setelah kampanye kondomisasi, aktivitas seks bebas di kalangan pelajar pria meningkat dari 37 persen menjadi 50 persen dan di kalangan pelajar wanita meningkat dari 27 persen menjadi 32 persen (USA Today, 14/4/1998). Wajar jika kemudian pakar AIDS, R Smith (1995) mengecam mereka yang telah menyebarkan safe sex dengan kondomisasi sama saja telah mengundang kematian. Ia pun merekomendasikan pemberantasan risiko penyebaran HIV/AIDS dengan menghindari free sex.
Kondomisasi adalah ilusi sekaligus racun yang ditebarkan kaum sekuler, pemuja HAM, dan penganut liberalisme untuk mempertahankan kehidupan bebasnya. Bahkan untuk melindungi bisnis pornografi dan pornoaksinya di negeri yang telah menjadi surga pornografi-pornoaksi terbesar ke dua setelah Rusia ini.
Solusi Hakiki Merebaknya virus HIV/AIDS memang berkorelasi dengan tumbuh suburnya pergaulan bebas yang di negeri ini justru dilegalkan melalui lokalisasi. Selama praktik-praktik semacam itu tidak dihapuskan maka laju peningkatan HIV/AIDS akan semakin tak terkendali. Selain itu negara juga harus menerapkan sanksi tegas bagi para pelaku yang terlibat di dalamnya dengan menerapkan sistem rajam bagi pezina mukhshan (pelaku yang sudah menikah) dan jilid bagi ghairu mukhshan (pelaku yang belum menikah). Dengan sanksi yang tegas akan membuat siapapun jera dan tidak mengulangi tindakan serupa. Solusi ini juga sangat manusiawi dibandingkan membagikan kondom secara bebas dan membiarkan praktik perzinahan merajalela, yang oleh agama mana pun itu diharamkan. Selain itu para pemakai narkoba dan pelaku bisnisnya juga harus mendapatkan sanksi yang cukup berat. Aparat penegak hukum berkewajiban memutuskan mata rantai peredarannya tanpa tebang pilih. Sebab narkoba juga menjadi sarana efektif penyebaran virus HIV/AIDS. Itulah langkah-langkah praktis dan cukup manusiawi untuk menyelamatkan generasi dari kehancuran []
|