| [52] Krisis Global dan Cacat Bawaan Kapitalisme |
|
|
|
| Wednesday, 13 April 2011 14:44 |
|
Sejak runtuhnya kekhilafahan Islam terakhir di Turki pada 1924, tatanan kehidupan manusia di dunia hampir semuanya dikelola berdasarkan pada sistem kapitalisme atau sosialisme/komunisme. Kemudian, berbarengan dengan ambruknya negara adidaya Uni Soviet dan imperium Blok Timur pada medio 1980-an, komunisme boleh dikatakan telah 'mati', tidak ada lagi penganutnya. Kapitalisme memang telah membuat pemeluknya, terutama bangsa-bangsa Barat dan Jepang, menjadi maju dan makmur serta unggul hampir di setiap bidang kehidupan material, khususnya IPTEK, ekonomi, informasi, dan pertahanan. Dengan kemajuan IPTEK yang berkembang pesat sejak Revolusi Industri 1753 M, kehidupan material manusia semakin mudah dan nyaman. Jumlah penduduk dunia yang kelaparan dan miskin semakin berkurang. Angka kematian bayi dan ibu yang melahirkan juga menurun secara signifikan. Sebaliknya, harapan hidup rata-rata, baik di negara-negara maju maupun berkembang kian meningkat. Dari tahun 1950 hingga 2003, ekonomi dunia tumbuh secara fenomenal sebesar tujuh kali lipat Namun, sejak awal 1990-an jumlah orang yang kekurangan gizi, kelaparan, dan miskin semakin bertambah. Pada 2009 jumlah warga dunia yang menderita kelaparan tidak kurang dari 1 milyar jiwa (FAO, 2009) dan yang miskin absolut (pendapatan lebih kecil dari US$ 1/hari) mencapai 3,5 milyar jiwa atau lebih dari separuh penduduk dunia (Bank Dunia, 2009). Kesenjangan antara kelompok kaya dan miskin dalam suatu negara maupun antar negara kian melebar. Contohnya negara-negara industri maju (G-8) yang penduduknya hanya 14 persen dari total penduduk dunia menguasai sekitar 50 persen dari total investasi dan perdagangan dunia (UNDP dan ILO, 2004). Dan, tiga orang terkaya di dunia memiliki kekayaan sebesar yang dimiliki oleh 48 negara termiskin di dunia (Sach, 2007). Kapitalisme dengan segenap variannya termasuk neoliberalisme juga telah mengakibatkan instabilitas ekonomi dunia yang tercermin pada tingkat inflasi yang tinggi; volatilitas pasar mata uang, komoditas, dan saham; dan defisit anggaran serta neraca perdagangan. Selain itu, sejak the Great Depression 1930 kapitalisme juga tak bisa lepas dari badai krisis ekonomi baik yang berskala nasional, regional, maupun global. Krisis ekonomi global kontemporer yang dipicu oleh skandal kredit macet sektor properti dan krisis keuangan di AS pada awal 2008, sampai sekarang belum pulih sempurna. Di negeri Paman Sam sendiri, pertumbuhan ekonomi masih sangat lamban, angka pengangguran masih tinggi, defisit anggaran dan neraca perdagangan terus membengkak, dan utang telah mencapai US$12 trilyun atau 82,7 persen dari nilai PDB nya (US$ 14,5 trilyun). Kondisi yang sama terjadi di Eropa. Ironisnya, terapi yang dilakukan oleh masyarakat dunia sejauh ini baru menyen- tuh gejala dari krisis ekonomi, belum mengobati penyebab penyakit yang se- sungguhnya. Tak heran krisis ekonomi kapitalis ini selalu berulang seperti yang terjadi pada 1970, 1980, 1990, 1998, dan 2001 (Davies and Davies, 2002). Akar Permasalahan Krisis ekonomi global sejatinya berakar pada cacat bawaan dari sistem kapitalisme itu sendiri, bukan karena kesalahan implementasi semata. Sedikitnya ada empat kelemahan paradigmatik yang membuat ekonomi kapitalis identik dengan krisis. Pertama, tujuan kapitalisme yang bukan sekadar memenuhi kebutuhan dasar manusia, tetapi juga untuk memuaskan nafsu manusia (kebutuhan sekunder). Nafsu manusia yang tidak dilandasi dengan nilai-nilai spiritual, sifatnya menjadi tak terbatas. Padahal, kapasitas bumi dan teknologi dalam menyediakan sejumlah alat pemuas kebutuhan dan nafsu manusia berupa SDA beserta segenap produk turunannya berbeda di setiap negara dan Kedua, kehidupan neoliberalisme digerakkan secara dominan oleh ekonomi berbasis sektor keuangan/sektor maya, bukan sektor riil. Keuntungan ekonomi diperoleh bukan dari aktivitas investasi dan usaha produktif dengan menghasilkan berbagai barang dan jasa, tetapi melalui investasi spekulatif seperti valas, saham, dan produk derivatives. Sejak globalisasi di awal 1990-an, sektor moneter melesat secara dramatis meninggalkan sektor riil. Terjadilah gap. Ekonomi dunia bagaikan balon, a bubble economy. Sistem itu secara lahiriah tampak besar, tapi di dalamnya hanya berisi udara. Dan kondisi ini sangat mudah diterpa krisis karena berpijak pada spekulasi, bukan produksi barang dan jasa. Ketiga, dalam buaian ekonomi berbasis sektor maya, kapitalisme tak mungkin lepas dari praktik bunga/riba. Padahal, perbedaan tingkat suku bunga yang besar antar negara itulah yang membuat para pialang keuangan dengan seenaknya mengeruk keuntungan melalui investasi hot money. Lebih dari itu, pemberlakuan sistem bunga juga: (1) memaksa pertumbuhan ekonomi tinggi terus menurun, kendati kondisi ekonomi riil telah mencapai Keempat, sistem ekonomi kapitalis yang berbasis pada uang kertas (fiat money) memiliki kelemahan fundamental yakni selalu terkena inflasi permanen. Sebab, nilai uang sekarang lebih tinggi dibandingkan dengan nilainya pada waktu yang akan datang. Artinya, uang kertas mengalami depresiasi akibat inflasi permanen. Lebih dari itu, uang kertas juga jauh dari nilai keadilan, lantaran nilai intrinsiknya jauh lebih kecil ketimbang nilai nominalnya. Dampak dan Alternatif Sistem ekonomi kapitalis telah memacu laju over-eksploitasi sumber daya alam dan kerusakan lingkungan di mana-mana. Sejak 1980, pemanfaatan SDA telah melebihi daya dukung lingkungan. Sistem ini pun menyebabkan permasalahan sosial yang akut seperti kecanduan alkohol dan narkoba, tingkat perceraian tinggi, pemerkosaan, penyakit HIV/AIDS, frustasi, kegersangan rohani, perampokan, menjual anak kandung, bunuh diri, dan terorisme. Oleh sebab itu, kini saatnya kita mengembangkan sistem ekonomi baru berbasis sektor riil yang mampu menyediakan kebutuhan dasar dan kesejahteraan bagi seluruh umat manusia secara adil dan berkelanjutan. Kalau komunis/sosialis telah gagal, kapitalis tengah terseok-seok dan |




Oleh: Prof Dr Ir Rokhmin Dahuri, MS,





