Banner
[53] The Chosen One PDF Print E-mail
Thursday, 14 April 2011 16:10

Oleh: Asep Kurniawan, Koordinator BKLDK Bandung Raya

Yaa Nabi salam 'alayka
Yaa Rasul salam 'alayka
Yaa habib salam 'alayka
Shalawatullah 'alayka


“Sesungguhnya  Allah  dan  malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah
kamu  untuk  Nabi  dan  ucapkanlah  salam penghormatan kepadanya.”  [TQS. Al-Ahzab: 56]

Pada bulan Rabi'ul awal setiap tahunnya  senantiasa  diperingati  hari  kelahiran (maulid) Nabi Muhammad SAW. Salah satu
tujuan dari peringatan Maulid Nabi SAW yang biasa dilakukan oleh sebagian kaum Muslim pastilah menumbuhkan rasa cinta
kepada Nabi SAW sebagai wujud dari cinta kepada Allah. Persoalannya, cinta kepada Allah  dan  Nabi-Nya,  pasti  menuntut sejumlah  konsekuenasi  tertentu,  bukan sekadar diwujudkan dengan kata-kata dan puja-puji atas Allah dan Nabi-Nya. Dalam konteks mencintai Allah dan Nabi SAW ini,
konsekuensi  yang  dituntut  dari  kaum Muslim adalah keharusan untuk mengikuti dan meneladaninya.

Mencintai dengan Meneladani

Al-Zujaj juga berkata, "Cinta manusia kepada Allah dan Rasul-Nya adalah menaati keduanya  serta  meridhai  segala  perintah Allah  dan  segala  ajaran  yang  dibawa Rasulullah  SAW".  Cinta  dalam  arti  yang dimaksudkan  di  atas  adalah  kewajiban. Sebab, mencintai Allah dan Rasul-Nya terikat dengan pengamalan syariat yang telah diwajibkan oleh keduanya. Artinya, ketika seorang Muslim menyatakan bahwa kecintaannya yang tertinggi adalah kepada Allah dan Rasul-Nya, dia wajib untuk mengekspresikan kecintaannya itu dengan meneladani segala perilaku beliau dalam segala aspek kehidupan. Allah SWT berfirman:

Katakanlah,  “Jika  kalian  benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan  mengasihi  kalian  dan  mengampuni dosa-dosa kalian.” [TQS. Ali Imran: 31].

Selain itu, kecintaan pada Rasul SAW juga  harus  diposisikan  di  atas  kecintaan pada hal-hal keduniaan.

“Tidak beriman seorang hamba hingga aku  lebih  ia  cintai  daripada  keluarganya, hartanya, dan seluruh manusia yang lainnya”. [HR. Muttafaq 'alaih].

Masterpiece Keteladanan

Rasulullah  SAW  adalah  pemimpin segala bidang. Beliau pemimpin umat di masjid,  di  dalam  pemerintahan,  juga  di medan pertempuran. Nabi tampak seperti psikolog  yang  mengubah  jiwa  manusia yang biadab menjadi beradab. Beliau juga seorang politikus yang berhasil menyatukan suku-suku bangsa hanya dalam waktu kurang dari seperempat abad. Beliau juga pemimpin  ruhani  yang  melalui  aktivitas peribadahannya telah mengantarkan jiwa pengikutnya ke alam kelezatan samawiyah dan keindahan suasana ilahiah. Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya  telah  ada  pada  (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”.  [Al-Ahzab: 21]

Siapapun yang mencintainya, sering mengingatnya, hendaknya ia berkeinginan untuk meneladani dan mengikuti jejaknya serta  sudah  selayaknya  hidup  dengan menjalani  perilaku  yang  pernah  beliau praktikkan.  Sebab,  beliau  merupakan teladan sekaligus ikutan bagi seluruh kaum
Muslim.  Beliau  adalah  pribadi  Islam  pertama  yang  dipilih  oleh  Allah  untuk mengemban amanah Islam sekaligus menyampaikan,  menerapkan,  dan  menyebarluaskannya. Beliau adalah orang yang sangat  dipercaya  sekaligus  orang  yang paling  takut  dan  bertakwa  kepada  Allah dibandingkan dengan semua manusia.

Penutup

Momentum Maulid Nabi sudah selayaknya  kita  arahkan  untuk  mengingat kenikmatan yang telah diberikan oleh Allah kepada  kaum  Muslim  melalui  kelahiran tersebut,  yaitu  berupa  kenyataan  bahwa melalui  tangan  Rasulullah,  Allah  memenangkan agama ini di atas agama-agama yang  lain.  Lewat  perantaraan  beliaulah kegelapan  jahiliyah  digantikan  dengan cahaya  Islam,  hukum  kufur  digantikan dengan  hukum  Islam.  Allah  SWT  memerintahkan  kita  untuk  meneladani  Rasul dalam  setiap  aspek  kehidupan.  Allah memerintahkan  kita  untuk  menjalankan Islam  secara  kaffah.  Karenanya,  di  bulan Rabi'ul Awwal ini tidak cukup hanya ingat akan kelahiran Nabi Muhammad SAW saja, melainkan bagaimana kaum Muslim secara
kolektif melahirkan umat Islam yang satu, diikat oleh akidah yang satu, dihukumi oleh aturan  yang  satu,  dan  dipimpin  oleh pemimpin yang satu. []

 

Untuk menambah keberkahan, disarankan untuk menyebarkan artikel pada situs ini dengan menyebutkan URL sumbernya.

Developed by SmileBizMedia. All rights reserved