| [55] Islam Menang Bersama Demokrasi? |
|
|
|
| Thursday, 07 July 2011 19:11 |
|
Gelombang demontrasi besar-besaran melanda kawasan Timur Tengah. Berawal dari demontrasi di Tunisia yang dipicu oleh aksi bakar diri seorang pedagang buah yang putus asa. Ini hanya sekadar pemicu, karena rakyat telah merasakan penderitaan yang berkepanjangan. Akibat himpitan ekonomi, dan pengangguran yang semakin meningkat. Sementara itu para pemimpin mereka hidup mewah bergelimang harta. Untuk mengakhiri krisis ini, sebagaimana biasanya, Amerika mengajukan demokrasi sebagai solusi krisis politik di Mesir dan Libya, 11/2/2011. lihat pernyataan Obama: "Kedepannya, kami ingin agar kaum muda tersebut dan seluruh rakyat Mesir tahu bahwa Amerika akan melanjutkan segala hal yang bisa dilakukan untuk mendukung transisi sejati ke arah demokrasi di Mesir." Anehnya proposal AS juga diamini oleh kaum Muslimin yang tidak paham sebenarnya demokrasi. Karenanya mereka ingin tetap memanfaatkan demokrasi untuk mengantarkan kemenangan Islam. Ini dibangun dari logika yang sangat naif, yaitu demokrasi memenangkan suara terbanyak, dan jika suara terbanyak itu umat Islam, maka umat Islam akan menang. Padahal itu hanya asumsi dan tak pernah terbukti. Justru demokrasi inilah yang dipakai Barat untuk menghancurkan dan menghadang Islam. Hal ini seperti diberitakan oleh sebuah stasiun televisi, bahwa Amerika melalui Menlunya menyeru kepada Qaddafi agar tidak represif terhadap demonstran akan tetapi harus ada transformasi ke arah pemerintahan demokratis. Karena jika Libya semakin represif, memungkinkan terjadi revolusi yang akan dimenangkan oleh Islam, seperti yang terjadi pada revolusi Iran. Para pejuang begitu menuhankan demokrasi dan menguatkan pendapatnya dengan mengungkapkan pendapat Nurcholis Madjid:”Suatu keanehan jika sebagian manusia menganggap demokrasi itu kufur dan munkar. Orang yang berpandangan demikian dapat dipandang belum memiliki standar intelektual yang dapat dipertanggung jawabkan” (Islam akan Menang Bersama Demokrasi, Republika, Senin, 7/3/11). Demokrasi Dari uraian di atas jelas rakyat hanya sebagai stempel kekuasaan belaka. Pada hakekatnya yang berkuasa adalah para pemilik modal (kapitalis). Demokrasi lahir dari revolusi Prancis dan grand desainernya adalah Freemasonry. Demokrasi dipropagandakan secara massif oleh orang-orang Freemasonry terutama yang menduduki kekuasaan pemerintahan, dan agen-agennya. Demokrasi Menghancurkan Islam bukan Demokrasi Adapun mengenai hak rakyat dalam memilih pemimpin, dalam kitab Tarikh Khulafa', Imam As Suyuthi menyebutkan: Pemilihan pemimpin sudah diterapkan sejak zaman Khulafaur Rasyidin, ratusan tahun sebelum lahirnya demokrasi, kaum Muslimin sudah mempunyai hak pilih. Sebagaimana Sabda Rasulullah: Dari Hudzaifah berkata: Para sahabat bertanya, ”Wahai Rasulullah, tidaklah engkau menunjuk pengganti yang memimpin kami sepeninggalmu nanti?” Rasulullah bersabda: ”Sesungguhnya jika aku menunjuk penggantiku, aku khawatir kalian akan menentang penggantiku itu dan Allah akan menurunkan azab atas kalian (HR al Hakim). Pengangkatan pemimpin berdasarkan ridha dan pilihan rakyat merupakan ajaran Islam. Yang diwajibkan hanyalah memilih pemimpin yang memenuhi syarat dan menerapkan hukum Islam, bukan harus si A atau si B. Selanjutnya mengenai musyawarah, pengambilan pendapat di dalam Islam berbeda dengan sistem demokrasi. Dalam kitab Syakhsyiyah Islamiyah Juz I, Syekh Taqiyuddin an Nabhani menjelaskan mengenai cara pengambilan pendapat dalam Islam adalah sebagai berikut: Jika pada masalah yang hukumnya mubah maka boleh dengan suara terbanyak. Untuk masalah penetapan hukum, peraturan dan undang-undang, maka diserahkan kepada Alquran dan hadits. Adapun jika menyangkut keahlian tertentu, maka diserahkan kepada ahlinya.[] |




Oleh: Dra. Rahma Qomariyah, M. Pd. I, Dosen Universitas Ibnu Khaldun





