|
Thursday, 06 January 2011 14:41 |
|
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuhu
Salam Perjuangan! Alhamdulillah, kami bisa hadir kembali ke ruang baca Anda. Ini adalah edisi kami yang terakhir di tahun kedua kami. Tanpa terasa, Media Umat sudah bersama Anda selama dua tahun. Terima kasih atas dukungan Anda semua sehingga kami bisa bertahan hingga kali ini di tengah persaingan media massa yang sangat ketat. Pembaca yang dirahmati Allah, edisi berikutnya kami memasuki tahun ketiga. Tentu ini menjadi tantangan kami untuk lebih meningkatkan mutu media ini. Dan yang tak kalah penting yakni meningkatkan daya jangkau pasar.
Perlu Anda ketahui, selama ini belum ada peningkatan penetrasi pasar yang signifikan. Padahal, keberadaan media ini bertujuan mencerdaskan umat. Jika perputaran oplah stagnan, maka gaung perubahan ke arah yang Islami akan lambat pula. Karenanya, tahun ketiga ini akan kami gunakan untuk meningkatkan jumlah pembaca. Karena itulah, kami berencana menaikkan harga jual mulai edisi berikutnya. Rencana ini juga dilandasi kebutuhan operasional yang meningkat. Jika harga normal untuk Pulau Jawa Rp 5.000, berikutnya akan menjadi Rp 6.000. Sedangkan luar Jawa dari Rp 6.000 menjadi Rp 7.500. Kenaikan itu semata-mata merupakan sarana bagi para agen untuk bisa leluasa mengembangkan pasarnya. Pembaca yang dirahmati Allah, tanpa terasa pula kita telah memasuki bulan Muharram. Ini artinya kita telah sampai di tahun baru Hijriyah 1432. Kita patut bersyukur atas kesempatan waktu yang diberikan Allah tersebut, sekaligus bersedih karena hingga kini kita belum mampu menegakkan agama Allah di muka bumi ini. Menengok peristiwa hijrah itu sendiri, ini adalah momentum perubahan dunia, dari masa kegelapan ke masa terang benderang. Ini adalah tonggak tegaknya peradaban Islam dalam wujud nyata sebagai sebuah negara yang dipimpin langsung oleh Rasulullah Muhammad SAW. Setelah hijrah semuanya berubah. Bukan hanya peradaban Arab tapi peradaban dunia secara umum. Islam benar-benar telah menjadi cahaya. Sayangnya, peristiwa 1432 hijriyah tersebut redup di masa sekarang. Islam yang begitu tinggi dan mulai tersisihkan. Manusia 'modern' –termasuk sebagian umat Islam—lebih memuja tuhan-tuhan baru produk mereka sendiri yakni kapitalisme, sekulerisme, komunisme dan isme lainnya. Islam yang telah menjadikan mereka modern justru ditinggalkan dan tak boleh ikut berperan dalam kehidupan publik. Karenanya, di momentum tahun baru Islam ini saatnya kita introspeksi diri. Saatnya kita memperbarui semangat kita untuk memperjuangkan agama Allah ini agar tegak kembali. Tanpa peran serta kita semua, siapa lagi yang akan menegakkannya? Terbukti tanpa syariat Islam, banyak permasalahan muncul tanpa pernah bisa diselesaikan secara tuntas. Perikehidupan kaum Muslimin terus bergerak menuju keterpurukan. Manusia mulai menjauhi sifat kemanusiaannya menuju kebinatangan. Akhirnya, kita berharap kepada Allah SWT bimbingan dan keistiqomahan dalam memperjuangkan agama ini. Semoga Allah menjadikan kita semua hamba-Nya yang mulia karena berada di garda terdepan dalam perjuangan menegakkan syariah dan khilafah. Amin. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuhu
|